Langsung ke konten utama

FSY 2026

Maju mundur saya untuk ikutan atau tidak FSY tahun 2026. Tiga tahun ikutan belum mujur lolos kurasi. Even tahunan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta ini benar-benar buat nguji adrenalin dalam menciptakan puisi bertema. Tahun ini FSY mengusung tema besarnya “LAKU.”

Di luar tema besar “LAKU” itu, bebas saja hendak mengirim puisi bertema apa saja yang penting bebas SARA dan pornografi. Karya sastra emang sering menjamah ranah pornografi sebagai objek penulisan. Apakah tokohnya yang digambarkan sensual atau tempatnya berada di zona abu-abu.

flyer FSY di Instagram 

Karya sastra yang mengeksplor dunia hitam atau zona abu-abu tentu tak terlepas dari narasi yang menyentuh hal yang sensitif, apakah bentuk tubuh secara transparan atau gender tokoh dalam cerita. Minimal menggambarkan pakaian yang seksi dan dibuat sebisanya mengundang syahwat pembaca.

Dalam dunia perbukuan (karya sastra), penerbit mayor memiliki aturan ketat masalah pornografi. Tapi, novel IQ84 Haruki Murakami belepotan kata-kata seronok kok bisa lolos sensor. Di sini kesan ambigu penerbit mayor menjadi tanda tanya besar, why bisa meloloskan peredaran buku seperti itu.

Yah, yang namanya bisnis penerbitan tentu kudu bisa main “dua kaki” demi target penjualan dan profit yang diinginkan. Bila layak jual dan bakal menguntungkan, kenapa mesti tersandera aturan ketat dalam hal pornografi. Begitulah lagak lagu penerbit buku di masa minat membaca rendah.

Akhirnya, di pukul 15:51 WIB atau 03:51 PM tadi sore saya kirim 3 puisi untuk ikut Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 melalui tautan di google form. Masalah lolos gak-lolos pada kurasi nanti, perkara ke-tujuhbelas yang penting tujuhbelasan dulu #kita. Begitu saya tulis kapsi di unggahan IG.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...