Akhirnya nongol juga si penjual bambu tiang bendera keliling perumahan. Sesapuan mata saya lihat, ikatan bambu yang digendongnya masih tergolong muda, niat ingin membeli saya urungkan.
Pulang salat subuh tadi, Pak RT berseloroh sambil menyebut nama tiga tetangga yang belum pasang bendera. "Belum merdeka," kata Pak RT. "Berarti masih terjajah dong," timpalku. Kami pun tertawa.
Pas pagi, satu nama yang disebut Pak RT, membeli bambu dari penjual dan mengibarkan bendera di depan rumahnya. Dua nama lain bertahan "belum merdeka" karena tak ikut-ikutan pasang bendera.
Padahal, tak ada uzur yang membuat mereka tak bisa pasang bendera. Bambu tiang bendera yang dipakai tahun kemarin masih kokoh, tidak lapuk dimakan bubuk dan patah. Tidak bisa dijelaskan apa alasan.
Political will (kemauan politik) untuk bersama warga lainnya menyemarakkan jalan depan rumah dengan bendera dan umbul-umbul tidak tumbuh subur di ladang kesadaran diri mereka. Mungkinkah begitu?
Sudah jarang saya menemukan di mulut jalan atau gang didirikan gapura berhiaskan ornamen yang semarak. Dipikir-pikir, siapa juga yang sudi urunan duit untuk hal demikian itu di masa sulit begini.
Untuk menentukan berapa besaran uang yang warga bersedia melepasnya dari dompet untuk perayaan HUT RI, mesti berdebat dulu. Tidak bisa disalahkan, ada kebutuhan mendasar daripada sekadar HUT RI.
Komentar
Posting Komentar