Langsung ke konten utama

Curhatlah ke Tetangga

Tetangga yang opname di RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo, tadi magrib saya lihat sudah salat berjemaah di masjid, tapi tidak lagi sebagaimana biasa ia duduk berzikir dan pulang paling belakangan setelah semua jemaah pulang.

Selesai doa dipandu imam sepertinya ia bergegas pulang. Barangkali kondisi badannya belumlah fit betul pasca-perawatan di RS. Jadi tidak sempat mengobrol dan menanyakan bagaimana kondisi kesehatannya serta sakit apa gerangan kemarin.

Tapi, saat saya pulang beriringan dengan tetangga depannya. Saya iseng bertanya kepadanya tentang penyakit yang diidap tetangganya itu. Apa jawaban (teman jalan subuh saya itu), “Entah, tidak nanya.” Jawaban simpel, tapi menyimpan makna.

Makna yang saya maksud, peduli dan empati antartetangga. Di kota, harga sebuah perhatian begitu mahal. Orang mudah terinfeksi virus ketidakpedulian. Tak acuh pada tetangga yang seyogianya butuh perhatian.

Karena susah mencari dan mendapatkan simpati, orang memendam perasaan sakit, enggan curhat takut diabaikan atau lebih takut lagi kalau dicemooh dan dikira hendak pinjam duit. Padahal, curhat ada gunanya.

Seperti tetangga yang opname itu, sakit ditahan-tahan, tidak mau berobat pada mulanya. Didesak bini dan anak mantunya, malah seperti hendak marah. Setelah menggigil tengah malam baru ia mau ke dokter.

Ketika ia cerita ke tetangga jauhnya, bahwa ia menggigil tengah malam, tetangga jauhnya itu menjawab, “Kamu sakit tipes.” Eh, ia nggak percaya. Yang aneh, di RS sejak di IGD hingga ruang perawatan, sakit apa tak ketahuan.

Maksud saya, curhatlah ke tetangga tentang apa saja. Barangkali ada solusi dari mereka. Tapi… ada tapinya. Pilihlah tetangga yang bisa memegang rahasia. Jangan sampai curhat itu menyebar jadi gosip yang garing.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...