Langsung ke konten utama

Jalan Berhadiah

Bukan tentang hadiahnya. Jalan sehat dalam rangka memperingati HUT ke-81 kemerdekaan RI yang diinisiasi Lurah Kemiling Permai, Parlindungan Pane, S.Sos. adalah sebuah cara mengeratkan hubungan antara stakeholder dalam hal ini lurah dengan warga masyarakat kelurahan yang ia pimpin.

Perintilan hadiah yang disiapkan dari yang paling sederhana berupa sapu hingga yang paling worth it berupa sepeda listrik, memantik semangat warga melakoni jalan sehat dan betah menunggu kupon diundi. Namanya juga tingkat kelurahan, hadiah yang disiapkan entah siapa sponsor dan pemikulnya.

Peserta jalan sehat menyimak instruksi Bapak Lurah Parlindungan Pane, S.Sos 

Kalau wali kota inisiatornya, bisa mengerahkan unit pelaksana tugas di dinas yang ada di Pemkot sebagai pencari sponsor. Karena itu, tidak sukar bagi wali kota untuk bagi-bagi hadiah barang elektronik, bahkan umrah bagi peserta jalan sehat. Hadiah umrah itu yang paling ditunggu dan diharapkan peserta.

Bagi yang biasa jogging saban pagi atau paling tidak 3 atu 2 kali seminggu, jalan sehat seperti pagi tadi tidak begitu berat. Jarak yang biasa saya tempuh bahkan lebih panjang dari yang kami tempuh pagi tadi. Apalagi ramean, tidak terasa capeknya. Disemangati hadiah pula, tambah semangat jadinya.

Kupon ini tidak memanen hadiah apa pun 

Karena disemangati hadiah, jadinya "jalan berhadiah" tidak sekadar jalan sehat bagi fisik thok, tapi jalan sehat bagi psikologis juga. Iya kan, bila kupon di tangan dapat bertukar dengan hadiah yang disediakan panitia, hati akan bungah di hati dan secara psikologis melahirkan perasaan bahagia.

Perasaan bahagia itu memicu imunitas jadi lebih baik. Seseorang yang imunitasnya baik, kesehatannya akan terjaga. Sudah sehat karena 'jalan sehatnya', sehat pula karena membawa pulang hadiah. Kupon yang saya kantongi, sayangnya tidak 'berbuah baik' sehingga tidak memanen hadiah apa pun yang tersedia.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Ilustrasi | gambar panjat pinang dokumen facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tiku...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...