Langsung ke konten utama

Bikin Was-Was Aja

Entah apa maksud tetangga yang memasang muka kusut dan berkata beras habis tak ada yang jual. Kalau saja sebelumnya keponakan tidak bercerita bahwa di Chamart Jl. Ki. Maja Wayhalim beras habis, tinggal yang kemasan 2 kg, tentu saya menganggap tetangga itu cuma guyon. Tapi, karena keponakan sudah lebih dahulu mengatakan apa yang ia lihat sendiri, omongan tetangga beras habis itu sempat bikin saya was-was. Lalu, dalam postingan kemarin saya berani mendaku bahwa itu dipicu kekhawatiran orang terhadap kemungkinan aksi massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan gedung parlemen hari ini bakal berujung chaos.

Nyatanya, ketika Rabu malam saya ke toko grosir langganan, masih banyak beras teronggok. Satu karung kemasan 5 kg saya gamit pulang. Rasanya pengin saya mendatangi rumah tetangga yang memasang muka kusut Rabu pagi lantaran beras habis, di mana-mana kosong. Andai ternyata di toko grosir langganan itu memang benar beras kosong, alamat hari ini tadi kami tidak masak karena persediaan beras di rumah memang habis. Itu yang membuat saya sempat was-was. Beras habis saya sikapi dengan tenang. Kata saya kepada istri, "Kalau nggak ada jualan beras, kita nggak masak, ya, kita beli nasi bungkus." Istri tertawa mendengar solusi yang saya ajukan.

Tadi magrib, saat ketemu di masjid, saya bilang kepada tetangga yang sempat bikin saya was-was. "Mana, kata sampeyan beras habis. Di situ (saya sebut toko grosir langganan) beras banyak. Di tokonya Asep (ketua PHBI masjid) juga banyak." Ia hanya cengengesan kayak si juragan peternakan mulyono. Beras habis di Chamart Jl. Ki. Maja Wayhalim, barangkali karena stok terbatas dan sudah dibeli konsumen sementara belum datang lagi pasokan. Siklus barang masuk dan keluar memang seharusnya cepat agar tidak terjadi kedaluwarsa. Beras terlalu lama tidak terjual akan kutuan dan rasa nasinya kurang enak. Warung kecil sebaiknya tidak usah jual beras. Kenapa? Umumnya orang belanja ke toko grosir. Lebih rajin ke minimarket merah atau biru.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...