Masih menunggu buku "Ramu-Ramu Warteg" dari Tegal. Ini belum jadi kloter terakhir, masih ada beberapa buku yang sedang proses. "81 Penyair Bicara Tentang Indonesia -- Merdeka Katamu" karena peminatnya banyak sementara dibatasi hanya 81, maka dibuatlah jadi 2 jilid. Tapi, jilid 2 sepertinya agak lambat terpenuhi kuotanya. Deadline 15 Agustus, baru separuh yang tercatat di daftar.
"MOZAIK", "Dapur Sastra Jakarta (DSJ)", dan "Rohmantik" masih dalam proses yang tidak bisa diprediksi kapan selesai. Rantai yang mesti dilalui begitu panjang mulai dari pengumpulan naskah, kurasi, layout, pengajuan ISBN, pencetakan dan penjilidan serta packaging buku untuk selanjutnya didistribusikan ke penulis. Cukup melelahkan bagi yang mengolah maupun yang menunggu.
![]() |
| Ilustrasi| credit foto: ISBN Service |
Baik buku antologi bersama (himpunan penulis) maupun buku tunggal (pribadi), sama belaka panjang prosesnya. Naskah siap, dimasukkan atau dikirim ke penerbit. Ada penerbit yang memberlakukan aturan mesti masuk bagian penyuntingan, mungkin untuk mengecek ada tidak unsur SARA dan pornografi. Bila ada, bisa jadi ditolak dan dikembalikan ke penulis. Bila tidak ada, lanjut proses.
Seperti apa "lanjut proses" itu? Itu tadi; layout, pengajuan ISBN, pencetakan, penjilidan, packaging, dan distribusi ke penulis masing-masing (untuk buku antologi bersama) atau dikirim ke penulisnya (untuk buku tunggal). Lalu, berapa besaran biaya menerbitkan buku? Tergantung penerbitnya. Tapi, hitungan kasar untuk biaya cetak belasan sampai puluhan ribu per eksemplar (19--29 ribu).

Komentar
Posting Komentar