Langsung ke konten utama

Kembang Telur

Sampai lagi di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kendati nama saya tercatat sebagai anggota PHBI di kepengurusan takmir masjid, saya (dan anggota lainnya) tidak dibebani tugas apa pun karena PHBI hanya pemrakarsa, segala urusan dipikul oleh RT masing-masing. Membuat kembang telur, misalnya.

Lain halnya bagian perlengkapan atau bagian pembangunan (pengembangan) masjid, mereka lebih kelihatan fungsinya. Pengadaan material, mencari tukang, dan mengawasi pekerjaan. Dari pengalaman yang sudah-sudah, dari tahun ke tahun, pada akhirnya acara terselenggara berkat kerja kolektif semua bagian.

Di dalam kepengurusan takmir masjid di mana pun, PHBI adalah motor penggerak hidupnya siar agama melalui kegiatan hari besar Islam yang diperingati. Ya, khusus hari besar Islam. Untuk kegiatan ibadah harian, bagian peribadatan yang memegang peranan. Begitulah tata kelola memakmurkan masjid.

Maulid Nabi Muhammad SAW adalah hari besar Islam yang istimewa. Terlepas bid'ah apa tidak memperingatinya, bentuk keistimewaan maulid Nabi, kita sebagai umat beliau dianjurkan untuk banyak-banyak bersalawat kepada beliau dan bersedekah kepada umat beliau sebagai saudara seiman dan seagama kita.

Kembang telur melambangkan Iman, Islam, dan Ihsan serta simbol kelahiran dan kesuburan. Telur terbagi tiga bagian. Kulit telur melambangkan Islam (syariat yang tampak), putih telur melambangkan Iman (keyakinan hati), dan kuning telur melambangkan Ihsan (ketulusan dan kedekatan dengan Allah).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Ilustrasi | gambar panjat pinang dokumen facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tiku...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...