Langsung ke konten utama

Inden Baterai

Kemarin siang siomay yang baterainya gak mau dicas saya antar ke servis center depan Moka, bah, kudu inden pula. Satu sampai tujuh hari ke depan masa tunggu yang dijanjikan mbak yang melayani saya. Hp saya bawa pulang, gak masuk rawat inap karena baterai gak ready.

Untungnya WA Web di laptop gak saya log out sehingga saya tetap bisa baca dan memberi komen. Masa tunggu satu minggu ke depan bisa dipotong kompas dengan cara beli hp baru, tapi alternatif ganti baterai ini ditempuh dahulu buat memastikan apa kendala hp ini kok mati.

“Minta lembiru,” kata istri menanggapi hp saya eror ini. “Lembiru” artinya lempar beli baru. Memang begitulah jalan pintas yang gampang ditempuh bagi orang yang mudah menyerah dengan ketidaksabaran. Jalan pintas yang akan menyunat saldo tabungan dengan cepat.

Anak juga menyarankan jika hendak ganti hp, jangan lagi merk siomay. Ia pun googling dan menunjukkan banyak pilihan hp yang harganya pun lumayan miring. Memang, sih, sekarang hp murah dengan speck yang tinggi. Kenapa begitu? Sepertinya pasaran hp jenuh dengan persaingan.

Sebenarnya hp yang eror ini pun masih oke. Dengan memori yang sudah 128 GB pun terpakai sudah banyak sekali karena hobi saya menyimpan foto dan skrinsutan. Standar memori hp sekarang paling tinggi cuma 512 GB. Artinya, belum ada yang melebihi kapasitas setinggi itu.

Inden baterai untuk rawat inap hp saja bikin booring, bagaimana pasien BPJS yang mesti nunggu 8 jam di ruang IGD yang dingin seperti kasus Yurizal Tri Chaerawan yang berujung kematian. Kasusnya viral karena bully oleh sejumah nakes jadi bumerang bagi karier mereka sendiri.

Ibarat mereka menudingkan satu jari ke orang lain, empat jari menuding diri sendiri. Ibarat senjata makan tuan –menembak ke orang lain, mengenai diri sendiri. Ibarat menepuk air di dulang, menyiprat ke muka sendiri. Bagitulah alam semesta bekerja di dunia nyata dan jagad maya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Ilustrasi | gambar panjat pinang dokumen facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tiku...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...