Langsung ke konten utama

Seputar BPJS

Sebelum berubah nama jadi BPJS era presiden SBY kemudian JKN KIS era presiden Jokowi, dahulu sebutannya Askes (asuransi kesehatan) yang diperuntukkan PNS di era pemerintahan Orde Baru. Begitu besar manfaat Askes bagi masyarakat dalam memperoleh pengobatan gratis di rumah sakit.

Kami sekeluarga karena istri PNS, memegang kartu Askes masing-masing atas nama istri sebagai yang menanggung (penanggung) dan suami serta anak-anak sebagai tertanggung. Saya dan anak sulung amat terbantu oleh fasilitas Askes tersebut. Istri dan anak bungsu justru tak pernah mempergunakannya.

Kartu Indonesia Sehat | Kompas Money 

Anak sulung kena DBD, waktu itu tahun 2002, istri baru saja pindah tugas dari Pesisir Utara (Lampung Barat, saat belum ada pemekaran) sementara Askes masih terdaftar di unit kerja lama, Alhamdulillah bisa diterima di RSUD Abdul Moeloek. Satu poin enaknya Orde Baru. "Penak jamanku tho!" kata dagelan.

Poin enaknya tidak begitu ribet dalam segala urusan. Saya menikmati Askes untuk mendapatkan potongan harga membeli kacamata di optik Paten, tidak besar-besar amat, tapi cukup menghematlah. Cuma sekali pula, selebihnya saya beli kacamata cash. Ada cerita, duitnya dari hadiah menang lomba menulis puisi.

Itu sekadar mencoba memanfaatkan Askes sebagai mana kegunaannya, untuk potongan harga (reduksi) beli kacamata itu. Kan iuran sudah dibayarkan tiap bulan memotong gaji istri, masa tidak dimanfaatkan. Itu dulu. Setelahnya tidak begitu digunakan. Sampai akhirnya berubah jadi JKN KIS, tak sering dipakai.

Karena istri (sebagai penanggung) PNS, iuran Askes atau sekarang JKN KIS memotong gaji yang diterima setiap bulan, sebagai salah satu item potongan tetap dari sejumlah potongan yang memangkas gaji yang dibayarkan pemerintah melalui bendaharawan gaji di unit kerjanya sehingga iuran tak pernah menunggak

Waktu bekerja di surat kabar yang tergabung dalam JPNN (Jawa Pos News Network) tahun 1998, saya pun sempat menikmati asuransi kesehatan yang di-cover perusahaan. Struk pembayaran obat di RSUD Abdul Moeloek, saya klaim ke bendahara gaji perusahaan koran tempat kerja, diganti 100 persen tunai, Broh.

Begitu pun anak bungsu kami yang bekerja di sebuah platform media berita digital di Jakarta Selatan, lebih suka menggunakan fasilitas asuransi yang di-cover kantornya. Full 100 persen gratis tiap kali ia berobat. Sama sekali tidak memanfaatkan kartu BPJS (JKN KIS) yang ada di dompetnya, padahal iuran terus.

Tentang kartu JKN KIS. Tahun 2018 saya berobat di RS Bintang Amin atas rujukan faskes. Sementara istri, qodarullah, Alhamdulillah sehat walafiat selalu, bisa dikatakan tidak pernah memanfaatkan kartu JKN KIS miliknya. Baru kemarin dia coba (mau) menggunakan saat akan meminta rujukan di faskes. Tapi, ditolak.

Ceritanya, istri habis kena vertigo dua pekan berlalu. Ada tetangga penyintas vertigo sembuh setelah dia berobat 6 bulan di dokter syaraf di RS Budi Medika, Telukbetung. Dia menyarankan istri untuk mencoba pengobatan seperti yang dia jalani di rumah sakit tersebut di atas. Istri tertarik untuk mencobanya.

Berangkat saya antar istri minta rujukan ke faskes. Ternyata tidak diloloskan. Alasan dokter, istri tidak pernah berobat di faskes itu. Ya, iya, cemana mau berobat, wong tak pernah sakit. Alhasil gagal dapat rujukan. Istri dikasih obat vertigo, obat pening, dan vitamin. Kami pulang memanggul gelo yang uhuy.

Malamnya istri minta diantar konsul saja ke apotek Tanjungsenang. Apotekernya memegang izin praktik layaknya dokter praktik. Pasien yang datang untuk konsultasi banyak. Yang tersugesti sembuh banyak. Cerita dari mulut ke mulut itu mata rantai membawa pasien ke sana. Setiap hari ada saja yang datang.

"Obat Telanjang" tak ada merek atau nama perusahaan farmasi tertera di obat ini, tapi manjur.

Ada empat macam obat dikasih apoteker itu untuk mengobati terutama asam lambung. Berobat di sini memang tidak menggunakan fasilitas JKN KIS, tapi yang datang tak begitu hirau masalah biaya --yang penting sehat. Itu sebagai jalan pintas untuk tidak ribet dengan urusan di RS, terutama ruang rawat.

Nakes mem-bully pasien pengguna BPJS sebagai orang miskin. Sepertinya sangka mereka tiap hari seseorang itu menggunakan kartu BPJS-nya untuk berobat. Padahal, contohnya istri saya, tak pernah menggunakan kartu BPJS (JKN KIS) miliknya yang iurannya dibayar terus menerus bertahun-tahun.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...