Langsung ke konten utama

81 Penyair Bicara

Buku ini tiba kemarin saat saya bobo siang, diterima istri. Proses penerbitannya terbilang cepat dari mulai pengumpulan naskah, layout, cetak, dan didistribusikan kepada masing-masing penulis puisi bertema "81 Penyair Bicara Tentang Indonesia - Merdeka Katamu" sebagai persembahan untuk HUT ke-81 kemerdekaan RI.

Mengapa bisa cepat? Karena tidak melewati proses kurasi dan tidak menunggu terbitnya ISBN (International Standard Book Number) dari Perpustakaan Nasional RI. Sebagai identitas penerbitan, buku ini menggunakan barcode QRCBN (Quick Response Code for Book Number) sebagai alternatif sulitnya mendapatkan ISBN.

Buku "81 Penyair Bicara Tentang Indonesia" Program TISI untuk HUT ke-81 RI.

Sesuai judul buku "81 Penyair Bicara Tentang Indonesia - Merdeka Katamu", maka penyair yang terhimpun di dalamnya sebanyak 81 orang. Sedangkan jumlah puisi ada 137. Namun, di samping 81 penyair sebagai pemeta judul buku, ada 4 penyair tamu dengan masing-masing 2 puisi. Sehingga keseluruhan ada 145 puisi.

Penyair tamu dimaksud adalah Sutardji Calzoum Bachri (Presiden Penyair Indonesia), Taufiq Ismail, L.K. Ara, dan Jose Rizal Manua. Penerbitan buku ini adalah program tahunan TISI (Taman Inspirasi Sastra Indonesia) dalam rangka memperingati HUT kemerdekaan RI sebagai kelanjutan dari kegiatan tahun lalu.

Tahun lalu, HUT ke-80 kemerdekaan RI, diterbitkan juga buku antologi puisi "80 Penyair Bicara Indonesia - Republik Puitik." Bedanya, tahun kemarin hanya diperuntukkan penyair berusia 50 tahun yang diundang. Sedangkan tahun ini flyer disebar secara terbuka di grup WhatsApp. Akibatnya peserta yang berminat ikut mbeludak.

Sebagai solusi menampung peminat yang antusias untuk ikutan, penyelenggara membuat buku menjadi 2 jilid. Yang saya terima kemarin siang adalah buku jilid 1. Yang jilid 2 sedang dalam proses penerimaan naskah dan penyelesaian administrasi (biaya penerbitan + ongkir) yang ditanggung renteng secara bersama-sama.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...