Langsung ke konten utama

Batu Uji hp Mati

Untuk kali kedua hp siomay ini kolaps. Pertama, di Jambi waktu Festival Puisi Etnik Nusantara, hp nge-lag karena memory kepenuhan ulah kiriman gambar dan video kiriman peserta festival dari daerah se-Nusantara dan jiran Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Yang kedua, hari Sabtu subuh saat saya cas di Stasiun Gambir, tak mau ngecas lagi. Sampai hotel di Cirebon pun tak mau dicas. Wah, baterainya kudu ganti ini. Gejala bakal mati baterai itu sudah tersadap sebenarnya. Dicas lemot, tak cepat seperti sebelumnya, saya abaikan.

Nah, kena batunya deh. Apa daya saya terpaksa absen memposting di blog, padahal sudah beberapa tahun ini rutin setiap hari ada saja cerita atau tulisan random yang saya posting. Apa lagi ini dalam perjalanan Lampung–Cirebon–Depok dan balik ke Lampung banyak ceritanya.

Batu sandung yang nyaris fatal hp mati ketika driver travel berkali-kali menelepon tak bisa terhubung. Menyadari waktu penjemputan sudah lewat, saya inisiatif menghubungi kantor agen dengan hp istri. jawaban dari kantor agen, “Bapak salah ngasih nomor.” Nah, kan cilaka 12.

Untung kantor agen cepat tanggap dengan alasan saya. Mereka menghubungi driver yang sudah standby di pintu tol Beji dan langsung tancap gas menuju titik penjemputan. Hanya dalam 15 menit travel tiba di titik penjemputan lalu balik kea rah tol Beji dan menuju Serpong.

Batu uji bagi hp mati, seperti kembali ke zaman batu. Zaman belum ada hp, jadi buta perkembangan dunia. Saya tak tahu ada berapa ratus chat whatsapp tak bisa saya baca (unread) di sekian grup yang ada di hp. Tapi, bagi Nasirun (alm) yang gak pegang hp, mungkin biasa.

Dari semua batu sandung atau batu uji, pada kasus kedua, beruntung ada hp ‘cadangan’ yang bisa mengatasi masalah, yaitu hp istri. Pada kasus pertama, untung ada hp ‘cadangan’ juga, tapi tidak bisa mengakifkan whatsapp. Cilaka, driver travel menghubungi saa via whatsapp call.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Ilustrasi | gambar panjat pinang dokumen facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tiku...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...