Langsung ke konten utama

Wifi "Ng'kakijok"

Wifi ngedip-ngedip merah/ Kuota data juga lemah/ Hendak marah sangat percumah/ Akhirnya, aku pasrah/. -- Kok kedengaran puitis, ya. Ya, nggak, sih. Beberapa hari lalu terjadi, baik sendiri akhirnya tanpa mesti saya laporkan ke Indihome.

Hari ini kumat maning. Ya, kembali saya diamkan aja. Uh, rupanya, gangguan ini terdeteksi oleh Indihome. Pesan WhatsApp mereka kirimkan, memberitahukan keadaan ini dan teknisi akan datang mengecek apa masalahnya. Lalu, tentu dong akan memperbaikinya.

"Ng'kakijok" atau "ngijok" dalam bahasa Lampung artinya mengedip-ngedipkan mata. Pada biasanya dilakukan oleh meranai (bujang, lp) terhadap muli (gadis, lp) dengan tujuan menggoda agar si gadis tertarik untuk menjalin keakraban pada mereka.

Itu cara mengaribkan diri dengan gadis yang dulu dipraktikkan bujang zaman baby boomers. Bujang milenial apalagi Gen Z tidak mengenal cara seperti itu. Kalaupun iseng ngijok, bisa-bisa kena damprat gadis yang menganggap tidak menyenangkan/jijik.

Sinyal wifi di rumah ini hanya dimanfaatkan untuk hp belaka. TV tak pernah ditonton, habis tidak ada hal-hal yang menarik untuk ditonton. Isi perdebatan pakar-pakar di TV menjurus penyerangan kepada karakter pribadi, dengan emosi tidak terkontrol.

Wifi untuk di rumah. Jika keluar rumah, tetap juga perlu kuota data. Untung ada paket kuota yang tak perlu dibayar kemahalan karena penggunaan atau peruntukannya praktis hanya saat sedang keluar rumah, terputus dari koneksi internet di rumah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...