Langsung ke konten utama

Wisata Puisi dan Religi

Baru saja tiba di Gedung BPMP Provinsi Jambi, tempat menginap peserta Festival Puisi Etnik Nusantara yang disediakan oleh panitia Festival Puisi Etnik Nusantara--, hujan deras menyambut. Sehabis pawai dan wisata puisi di Candi Gumpung dan Candi Tinggi, perjalanan dilanjutkan wisata religi ke Masjid 1000 Tiang. Omon-omon, betulkah tiangnya 1000???

Jadinya, selama dua hari tiga malam (2D3N) di Jambi, dapat berwisata di tiga destinasi sekaligus. Pertama, Jembatan Gentala Arasy yang membentang di atas Sungai Batanghari, persis di seberang rumah dinas Gubernur Jambi. Secara kebetulan saat akan mulai pembukaan festival, Jumat (20/12) sore kemarin.

Candi di sini minimalis, tidak seperti di Jawa

Kedua, ke Candi Gumpung dan Candi Tinggi yang berada di satu komplek situs Muaro Jambi. Ketiga, ke Masjid 1000 Tiang yang sejuk dan menyenangkan. Dua rakaat qobliyah, disambung empat rakaat salat zuhur, dan ditutup dengsn dua rakaat bakdiyah di sini, jadi penambah catatan dari masjid ke masjid.

Gentala Arasy dan Batanghari dikecup matahari

Sewaktu hendak ke Rumdin Gubernur, Jumat sore, Masjid 1000 Tiang dilewati, sudah terlihat pilar-pilar tiang berderet-deret bagai ayat-ayat yang sambung menyambung, hanya putus oleh tanda waqaf. Tiang masjid tersambung ikatan kawat tulang beton pada penyangga langit-langit. Pondasi tertanam di lantai.

Masjid 1000 Tiang

Tak begitu jauh dari Masjid 1000 Tiang, bentangan Jembatan Gentala Arasy melintang di atas Sungai Batanghari yang lebar dengan warna air coklat dan memantulkan senyum matahari yang pamit hendak pulang senja hari. Tempiasnya membuat silau mata pengunjung Gentala Arasy. Saya pun asyik selfie.

Penutupan Festival Puisi Etnik Nusantara malam ini bertempat di Aula Griya Mayang, Rumah Dinas Wali Kota Jambi. Setelah berakhirnya festival yang ayem mempertemukan kurang lebih 300-an penulis puisi etnik nusantara, ini berakhirlah hajat panjang sejak pengumpulan naskahnya, dimulai Februari 2025.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...

Puisi Tentang Puisi

Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika. Bali Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengan Bli Wayan. Pertama sewaktu menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara. Inilah 6 sajak-sajak saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Lalu, setelah lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama karena sesuai antrean,” kata Bli Wayan Jengki Sunarta. "Wah, saya senang s...