Langsung ke konten utama

Tour Lombok

Setelah “Tour Sumatra” pada 13 Juli silam, hari ini istri kembali ikut rombongan kawan-kawan pensiunan guru untuk “Tour Lombok, Bali, Bromo” dengan menggunakan bus Puspa Jaya. Tepat pukul 07:48 WIB bus meninggalkan halaman parkir pool bus di Jl. Soekarno–Hatta, By Pass. Lama perjalanan pergi dan pulang sekitar 10 hari (14–24 Desember) dengan rute Lampung–Lombok–Bali–Bromo–Malang–Jogja dan pulang.

Perjalanan dari Lampung ke Lombok disertai jeda 3 kali untuk istirahat, mandi-mandi, ganti kostum, dan isoma. Iya kali selama di jalan sekian hari gak mandi dan ganti baju hingga tiba di Lombok. Karena itu, di samping koper besar yang nginap di bagasi, di loker barang di atas kepala, diselipkan tas tentengan berisi handuk, peralatan mandi serta baju ganti. Sementara di bawah kaki tas berisi air minum dan camilan.

Bus standby untuk diberangkatkan

Memang begitulah kalau saya dan istri pergi mudik ke Jawa, sarat dengan membawa koper besar dan tas tentengan berisi ransum pelipur 'daripada' bengong. Saat perjalanan, baik naik mobil pribadi, kendaraan umum seperti bus atau kereta api, saya tipe orang yang bisa dikatakan jarang tidur. Jaga dan waspada, maka ngemil mulu. Kurang atau gak tidur sama sekali itu yang bikin tensi naik tinggi. Tentu juga didorong asupan makanan tinggi garam pas mampir kulineran.

ibu-ibu pangsiunan pemburu bahagia

Waktu tor sumatra dahulu, juga 10 hari. Mereka ke Titik Nol Sabang dan tempat-tempat wisata yang sekarang kondisinya sudah rusak binasa atau porak-poranda, bahkan hanyut dihajar banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Kalaupun nanti ada kesempatan lagi mengunjungi destinasi wisata di daerah-daerah pada tiga provinsi di atas, mungkin sudah berubah bentuk dan asrinya atau tak menemukannya lagi karena luluh lantah.

Jadi, berbahagialah mereka yang sudah pernah ke Sabang dan tempat-tempat wisata di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Mengunjungi kawasan Gunung Bromo atau Semeru pun agak ngeri-ngeri sedap di musim penghujan begini. Apalagi Semeru terbilang gunung yang aktif, secara berkala erupsi dan memuntahkan lava dan banjir lumpur. Serba repot halan-halan di musim seperti sekarang ini. Pagi cerah, siang mendung, sore hujan deras.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Kursi roda Ibu Ani dan kesetiaan Pak SBY menungguinya di rumah sakit. Bagaimana bisa melahirkan novel yang menceritakan perjuangan penyintas kanker seperti di buku “Seperti Roda Berputar” tanpa mengikuti proses dari mula hingga kini? Pertanyaan itu yang bersarang di pikiranku. Sewaktu mudik ke Pacitan 21 Mei hingga 3 Juni 2024, kami mengeksplor Museum dan Galeri SBY-ANI. Satu foto memperlihatkan kesetiaan Pak SBY menunggui Ibu Ani di National University Hospital Singapura. Foto Ibu Ani duduk di kursi roda sementara Pak SBY duduk di tepi hospital bed yang biasa Ibu Ani tiduri selama dirawat. Kaki Pak SBY menjuntai. Foto menggambarkan keduanya berhadap-hadapan sambil berbincang akrab. Saya sebenarnya penasaran, apakah Pak SBY menulis buku tentang masa-masa Ibu Ani dirawat hingga wafat. Seperti yang dilakukan Pak BJ Habibie, pasca-meninggalnya Ibu Ainun Habibie, Pak Habibie dilanda demam rindu. Guna memadamkan kerinduan kepada Ibu Ainun itu, Pak Habibie mulai menuangkan perasaan...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Jangan Sakit Deh

“Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.” (Rusdi Mathari). Demikian terbaca di buku “Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.” Buku merangkum catatan Rusdi Mathari yang menderita kanker saat-saat menjalani perawatan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Sebenarnya Rusdi Mathari pengin menulis novel tentang sakit yang ia derita dan bagaimana ia mengupayakan kesembuhan dengan menjalani rangkaian pengobatan secara runtut tahap demi tahap. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain silih berganti, ditangani dokter berbagai spesialis yang berkaitan dengan sakit kankernya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Rusdi Mathari meninggal di Jumat pagi, 2 Maret 2018. Novel yang ceritanya ia bayangkan akan demikian kompleksitas sekaligus melankolis tidak terwujud. “Seperti Roda Berputar” hanyalah memuat sebagian catatan di rumah sakit yang sempat ia tulis dan terbit di Mojok.co. Pemerintah menghapus kelas 1,...