Malam ini tahlilan nujuh hari untuk tetangga beda blok yang wafat malam Rabu (pekan lalu). Sedianya saya berniat menghadirinya buat ikut melangitkan doa bagi almarhum. Sayangnya, hujan sejak selepas Asar tidak kunjung reda hingga waktu salat Isya tiba. Apa boleh buat terpaksa mangkir.
Tak terbayangkan betapa repotnya jemaah tahlilan mesti berbagi tempat di bawah terop (tarup) seluas dua set saja. Teras dan ruang tamu rumah sahibul musibah memang agak sedikit lebih lega dibanding rumah tetangga lainnya karena hook alias ada tanah lebih. Keuntungannya bisa bikin rumah jadi gede.
Hujan selepas Asar yang tercurah amat deras dalam waktu dua jam-an, biasanya akan membuat wilayah tertentu jadi kebanjiran. Di Perumahan Ragom Gawi Permai (tetangga Bukit Kemiling Permai) dan daerah Nunyai Rajabasa, adalah pelanggan banjir. Janganlah hujan dua jam atau lebih, niscaya akan jadi kelelep.
Ya, sudah. Yang penting sudah ada niat hendak hadir ikut mendoakan almarhum, semoga saja terberkahi pahala. Iya, perbuatan baik kendati baru niat, dicatat Malaikat sebagai amal kebaikan. Apalagi bila sampai kelakon dikerjakan, akan membuahkan pahala yang sebenar-benarnya. Ceramah ustaz gitu. Benarkah?
Komentar
Posting Komentar