Langsung ke konten utama

Kompas Minggu Terakhir

Inilah wajah koran Kompas edisi Minggu terbitan kali terakhirnya. Rutinitasnya mengunjungi pembaca koran cetak saban hari Minggu, berakhir sudah kemarin. Selanjutnya, memasuki tahun 2026, tak akan ada lagi koran Kompas edisi hari Minggu, ganti jadi Kompas edisi "Akhir Pekan" yang terbit hari Sabtu.

Siapa sih yang masih setia (baca: sudi) membeli koran cetak (atau dibela-belain berlangganan)? Berapa banyak pula koran cetak yang masih bertahan menantang zaman? Taruhlah bisa disebutkan yang sedikit itu, seperti Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Rakyat Merdeka, dan The Jakarta Post. Yang lainnya sudah tumbang.

Kompas Minggu, 28 Desember 2025

Saya suka terharu, namun terkagum-kagum, di bangjo (perempatan lampu abang ijo) Jakarta masih ada pengecer koran menjajakan beberapa eksemplar koran (yang sedikit itu), berharap pengendara yang berhenti dicegat lampu abang ijo sudi membeli korannya. Tapi, balik lagi ke pertanyaan, siapa sih masih mau beli koran?

Orang-orang, tak di kota besar maupun kota kecil, di pinggiran kota, bahkan di dusun-dusun terpencil beralih kesenangan membaca gosip murahan di platform TikTok dengan modal kuota data paket mingguan atau bulanan. Atau berita politik berbungkus kebencian di grup WhatsApp hasil forward berantai berulang.

Seperti apa koran Kompas edisi "Akhir Pekan" dimaksud? Tunggu penampilannya pada hari Sabtu (3 Januari 2026) nanti. Barangkali lebih tebal dari Kompas edisi Sabtu atau Minggu yang hanya 16 halaman. Konsekuensi logisnya, tentu harga jualnya pun lebih tinggi dari edisi Senin hingga Minggu yang rajin terbit selama ini.

Untuk satu eksemplar Kompas harian setebal 16 halaman, saat ini harganya di Pulau Jawa Rp12K dan luar Pulau Jawa Rp12.5K setara satu gelas kopi di kedai kopi jenama kekinian. Jadi, agak nekat bila masih sudi membelinya. Tapi, saya yang maniak koran cetak, enjoy saja merogoh dompet untuk koran yang kukenal di Jogja ini.

Pernah di tahun 2012-an, saya agak lama juga melanggani Kompas edisi Sabtu dan Minggu serta Republika edisi Jumat dan Ahad, pada seorang pengecer koran di teras minimarket Gedungmeneng (yang kini likwidasi). Nama pengecer koran itu Dahlan, rajin menyimpan koran-koran yang saya pesan, bayar kemudian.

Ada apa sih di Kompas Sabtu dan Minggu? Ada halaman sastra (puisi) di hari Sabtu dan cerpen, Udar Rasa, dan TTS di hari Minggu. Halaman sastra hilang di Kompas hari Sabtu beralih ke Kompas.id (koran digital). Republika Jumat ada sisipan Tabloid Dialog Jumat dan Republika Ahad ada banyak bacaan yang sungguh bergizi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kursi Roda Ibu Ani

Kursi roda Ibu Ani dan kesetiaan Pak SBY menungguinya di rumah sakit. Bagaimana bisa melahirkan novel yang menceritakan perjuangan penyintas kanker seperti di buku “Seperti Roda Berputar” tanpa mengikuti proses dari mula hingga kini? Pertanyaan itu yang bersarang di pikiranku. Sewaktu mudik ke Pacitan 21 Mei hingga 3 Juni 2024, kami mengeksplor Museum dan Galeri SBY-ANI. Satu foto memperlihatkan kesetiaan Pak SBY menunggui Ibu Ani di National University Hospital Singapura. Foto Ibu Ani duduk di kursi roda sementara Pak SBY duduk di tepi hospital bed yang biasa Ibu Ani tiduri selama dirawat. Kaki Pak SBY menjuntai. Foto menggambarkan keduanya berhadap-hadapan sambil berbincang akrab. Saya sebenarnya penasaran, apakah Pak SBY menulis buku tentang masa-masa Ibu Ani dirawat hingga wafat. Seperti yang dilakukan Pak BJ Habibie, pasca-meninggalnya Ibu Ainun Habibie, Pak Habibie dilanda demam rindu. Guna memadamkan kerinduan kepada Ibu Ainun itu, Pak Habibie mulai menuangkan perasaan...

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Jangan Sakit Deh

“Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.” (Rusdi Mathari). Demikian terbaca di buku “Seperti Roda Berputar: Catatan di Rumah Sakit.” Buku merangkum catatan Rusdi Mathari yang menderita kanker saat-saat menjalani perawatan dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain. Sebenarnya Rusdi Mathari pengin menulis novel tentang sakit yang ia derita dan bagaimana ia mengupayakan kesembuhan dengan menjalani rangkaian pengobatan secara runtut tahap demi tahap. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lain silih berganti, ditangani dokter berbagai spesialis yang berkaitan dengan sakit kankernya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Rusdi Mathari meninggal di Jumat pagi, 2 Maret 2018. Novel yang ceritanya ia bayangkan akan demikian kompleksitas sekaligus melankolis tidak terwujud. “Seperti Roda Berputar” hanyalah memuat sebagian catatan di rumah sakit yang sempat ia tulis dan terbit di Mojok.co. Pemerintah menghapus kelas 1,...