Langsung ke konten utama

Jembatan Virtual

Aneka aplikasi sebagai 'jembatan virtual atau digital' di tablet. (gambar: Wahana News)

Kemarin, 14 Mei '25, Mark Elliot Zuckerberg (ˈzʌkərbɜːrɡ) ulang tahun ke-41. Pada 2004 ia menciptakan facebook kemudian dijadikan ‘jembatan virtual’ menghubungkan orang yang saling kenal pada mulanya (seperti teman sekolah/kuliah), namun kemudian terpisah. Atau, orang yang belum atau tidak kenal sama sekali– ke dalam satu komunitas pertemanan di facebook (fb).

Saya adalah salah satu yang kembali bertemu (dihubungkan facebook) dengan teman lama saat SD/SMP di kampung halaman dan saat kuliah di Jogja. Bertahun rindu membatu di kalbu kemudian mencair setelah disatukan fb. Bualan masa silam kembali diperbincangkan ulang. Siapa teman yang berpulang ditandai di facebook dan kabar duka pun tersampaikan.

Saat mendirikan facebook, Zuckerberg baru 19 tahun, siapa menyana apa yang diciptakannya saat itu –yang pada mulanya ditujukan hanya untuk sesama teman di lingkup kampusnya Harvard–, akan menjadi fenomena di akhir abad 21. Orang-orang saling terhubung, saling berteman, bisa tahu apa yang sedang mereka lakukan melalui timeline yang di-update.

facebook berjaya, Zuckerberg mengakuisisi WhatsApp, Instagram, dan Thread. Di bawah kendali Meta (yang dahulu facebook), Mark Zuckerberg bagaikan menggenggam dunia dan seisinya. Komisi Perdagangan Federal Amerika Serikat (FTC) menuduhan Meta melakukan praktik monopoli lewat strategi buy or bury terhadap pesaing Intagram dan WhatsApp.

Instagram pernah jadi kompetitor facebook sebelum diakuisisi pada 2012. Setelah IG, WA, dan Thread di bawah Meta, Zuckerberg seperti tidak tertandingi. Sampai akhirnya muncul TikTok dari China yang lebih menarik sehingga meledak. Pengguna facebook dan konco-konco-nya seperti mengalami kejenuhan. Beramai-ramai berbondong-bondong beralih ke TikTok.

Setelah fenomena facebook, WhatsApp (WA) lebih menyatukan keterhubungan. Facebook mengakomodasi hingga 5 ribu teman, sedang WA bisa menghimpun hingga ratusan orang dalam satu grup. Di ponsel saya ada 5 grup WA yang anggotanya lebih 100 orang. Betapa banyak teman yang terhubung di grup-grup WA itu. Jembatan virtual, sebuah keniscayaan.

Merasa facebook dan konco-konco-nya (WA. IG, Thread) tidak mungkin mengalahkan TikTok, Zuckerberg melakukan PHK besar-besaran di Meta. Ia pun berpendapat bahwa era media sosial telah berakhir. Karena itu, Meta fokus ke platform hiburan, sepertinya itu upaya yang ditempuh Meta untuk bisa menundukkan TikTok. Bisakah TikTok ditundukkan Meta?


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...