Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2026

Menuju Ramadan

Alhamdulillah jumat pekan lalu saat safari jumat di masjid Baiturrahim, di Beringin Raya, ingus yang sedang meler bisa “tahu diri”, tak iseng mengganggu selama salat jumat berlangsung, dari khutbah hingga selesai dan salat ghaib untuk almarhum (warga di sana) yang meninggal dunia. Kemarin, saat saya safari jumat di masjid Husnul Khatimah, masih di Beringin Raya juga, ingus yang sudah mengental masih sering minta dienyahkan dari rongga hidung. Setelah selesai salat tahyatal masjid dan lanjut dhuha, saya sempatkan buang air kecil dan ingus agar tenang saat salat jumatan. Masjid Husnul Khatimah, Beringin Raya  Betul saja, salat jumatan saya bisa khusyuk tanpa gangguan ingus yang usil minta dibuang. Dalam khutbahnya, khatib menjelaskan perihal betapa agung bulan Sya’ban (bulannya Nabi Muhammad SAW). Karena itu sang khatib mengimbau jemaah memperbanyak amal kebajikan jelang Ramadan. Kata khatib, “Nikmat sehat itu baru terasa ketika dalam keadaan sakit. Orang yang sudah mati minta ...

“Berpulang tanpa Utang”

Beruntungnya tidak keluar grup WhatsApp even menulis puisi buat antologi, itu salah satunya tidak kehilangan informasi baik dan tidak atau kurang baik. informasi baik, misalnya, adanya even baru atau lanjutan untuk menulis bareng (nubar) lagi. Informasi tidak atau kurang baik, seperti halnya kabar duka bila ada di antara penyair (teman nubar) yang berpulang. Kemarin saya hanya menyinggung satu nama penyair yang berpulang, ia adalah Drs. Abdul Karim, M.M. alias Abah Karim alias Oka Miharzha S (nama pena), penyair dari Tanah Laut, Kalimantan Selatan yang juga menjadi Penasihat di Dewan Kesenian Tanah Laut. Karena pagi kemarin, memang baru namanya yang menghiasi grup WhatsApp perihal kabar duka (ada di beberapa grup). Ucapan dukacita Koperasi Insan Sastra Indonesia  Padahal, Mas Oki Tadhan (Edi Kayatno) yang berpulang pada pukul 07.21 AM (WIB), tapi kabar duka berpulang itu baru disebar pada grup WhatsApp “Antologi Sufistik” tepat pukul 12.08 AM (WIB). “Antologi Sufistik” adal...

Belum Ia Baca

Tadi malam rampung saya membaca 103 puisi dari 49 pemuisi (termasuk saya) dalam buku “HIJAU” yang hampir kesemuanya menarasikan hutan, pohon, hijau, melestarikan alam serta bencana apabila hutan gundul karena kayu ditebangi secara destruktif. Pagi ini, kabar duka disampaikan admin di WhatsApp Grup (WAG) kontributor "HIJAU" bahwa satu penulis dalam buku ini berpulang. Ia bernama asli Drs. Abdul Karim, M.M. (Abah Karim) dan dalam tiap karya tulis memakai nama alias (nama pena) Oka Miharzha S. Ucapan dukacita Dewan Kesenian Tanah Laut  Ucapan belasungkawa dan doa semoga beliau husnul khotimah disampaikan teman-teman di WA grup. Yang membuat saya sedikit masygul, bahwa buku “HIJAU” jatah untuknya belum sempat dikirimkan admin/panitia karena beliau pesan kaos juga. Akan dikirim bersama. Dengan begitu, berarti 3 judul puisi karyanya yang ada di buku “HIJAU” belum sempat ia baca setelah termuat di halaman buku (halaman 193–195). Kendati sudah dibacanya pada saat menulisnya, na...

Perjalanan Batin

Akhir penantian antologi “HIJAU” selesai kemarin petang pukul 16.34 setelah Pak Pos meletakkan paket buku di atas meja teras dan mengirim WhatsApp . Even ini dihelat komunitas facebook Jejak Perjalanan Jiwa (JPJ) sejak Februari 2025. Ini adalah buku ke-3 yang diterbitkan oleh komunitas JPJ dikhususkan untuk memperingati Hari Pohon Sedunia. Temanya tentang pohon dan lingkungan hidup. Karena itu, judul buku "HIJAU." Hingga ditutup pada akhir November, terhimpun 53 penulis yang berkontribusi dalam penerbitan buku “HIJAU” ini. Isi buku meliputi esai sebanyak 6 dari 6 penulis, cerpen sebanyak 17 dari 17 penulis, serta puisi sebanyak 103 dari 49 penulis. Dengan tebal xxviii + 284 halaman, buku ini diberi kata pengantar oleh Gus Nas Jogja (H.M. Nasruddin Anshoriy Ch., sastrawan, budayawan, dan pengasuh Desa Kebangsaan Yogyakarta). Antologi "HIJAU" esai, cerpen, dan puisi  Sebuah kata pengantar (prolog) panjang dengan judul “Merayakan Hijau dengan Pesta Estetika” dan k...

Dadar Beredar (lagi)

Kemarin pagi, sengaja tidak masak, opsinya sarapan soto di Spesial Soto Boyolali "SSB" Jalan Sultan Agung, Kedaton. Mampir isi perut dalam perjalanan untuk besuk cucu (anak keponakan) yang sakit di rumah kakak di Gang Damai - Ratu Dibalau. Sore jelang Asar pamit pulang, menuju Jl. Antasari untuk beli Dadar Beredar ( take away ), menyusuri Jl. Arif Rahman Hakim tembus Jl. Urip Sumoharjo (dulu pernah berkantor), belok ke Jl. Pulau Batam untuk menuju ke Jalan Sultan Agung - Mal Boemi Kedaton. Gerai Dadar Beredar Bandar Lampung  Begitulah jalan pulang dari daerah Wayhalim mesti berliku karena banyak U - turn ditutup oleh pemkot. Bukan salah  U - turn , melainkan terlampau banyak kendara dan pemakai jalan yang tidak taat aturan. Akhirnya macet dan  chaos . Tiap hari, pagi, petang. Bakda Asar menikmati Dadar Beredar (lagi) setelah mengenal dan mencicipi sewaktu mampir Jakarta, menginap di Pejaten Valley Resident Hotel, awal November tahun lalu sepulang dari Jember hadiri even...

Soto SSB

Ini bukan niatnya sebagai balas dendam karena selama demam flu 'puasa' sambal pedas terkait radang tenggorokan, melainkan semacam buang sial saja. Pagi ini sarapan soto daging di gerai langganan Spesial Soto Boyolali "SSB" Jl. Sultan Agung, Kedaton. Kuahnya bening seger, antara pedes asin gurih nyatu seimbang. Tak perlu saya tambahkan sambel, cukup perasan jeruk nipis karena kuahnya sudah terasa agak pedas. Satu porsi nasi putih tandas saya lahap karena memang belum sarapan di rumah, sengaja. Soto daging SSB + tahu dan mendoan panas  Soto ini lumayan rame pengunjungnya karena itu daya hidup usaha jadi berkesinambungan. Dahulu pernah Soto Kadipiro dari Jogja membuka cabang di Bandar Lampung, tapi gulung tikar. Mungkin kurang cucok dengan lidah Lampung yang doyan seruit. Kawan-kawan di Jogja juga ada yang kecele pada Soto Kadipiro ini. Yang asli dan yang KW beda tipis rasanya. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu atau paham mana yang asli dan yang palsu. Memang b...

Influen…

Rame berita tentang wafatnya selebgram Lula Lahfah. Apalagi saat Reza Arap menangis pilu di pelukan Fadil Jaidi menguatkannya menghadapi kesedihan ditinggal orang yang dicintainya. Dua pasang kekasih ini adalah teman lama yang putus komunikasi dan kembali membangun kemistri ketika sama-sama terlibat dalam proyek sebuah film. Reza Arap bernama asli Muhammad Reza Oktovian dikenal dengan mononim YB merupakan personalia YouTube (yutuber), penulis lagu dan penyanyi, aktor, dan pengusaha pakaian dengan label Your Bae. Kanal YouTube yang dibuatnya pada 2012 ia hibahkan atau donasikan kepada Yayasan Anyo (yayasan penyakit kanker anak) pada bulan September 2018. Ilustrasi influencer | foto: IndeedSEO | 21 Februari 2021 Reza menggelar pernikahannya di Bali dengan Wendy Meilina Leo yang dikenal sebagai Wendy Walters. Pernikahan Reza dan Wendy hanya bertahan dua tahun, mereka bercerai tahun 2023. Reza Arap pernah tersangkut kontroversi kasus penipuan berkedok opsi biner melalui aplikasi Quote...

Up and Down

Setelah dua hari bertahan dalam demam dengan upaya mengatasinya sebatas minum obat flu warungan dan tak mempan, akhirnya saya ke klinik terdekat. Sebenarnya pengin klinik di Kemiling atas, cuaca tidak membuka jalan untuk keluar rumah. Hujan kepagian singgah di beranda rumah numpang ngaso , membuat waktu seakan tertahan. Baru malam bakda Magrib kemarin bisa ke klinik terdekat doang . Saya khawatir penyakit lama kambuh, tipes yang berkolaborasi dengan DBD. Alhamdulillah menurut hasil diagnosis dokter, hanya radang biasa yang tidak biasa-biasa saja. Umumnya kan radang itu terjadi di tenggorokan yang jamak disebut ispa (infeksi saluran pernapasan akut). Nah, yang saya alami di samping radang tenggorokan juga radang di rongga hidung. Itu yang membuat ingus meler , tak henti-henti berulang saya buang. Jadi gawe mensengnyarakan. Ilustrasi Up and Down | foto: YouTube The Autistic DJ | Yang hampir luput dari dangkalnya pemikiran saya, adalah setiap mendekati bulan Ramadan saya sakit, membua...

Sa'ban

Lagi, saya menemukan masjid yang jumatan azannya sekali. Pekan lalu dengan niat untuk sengaja ke masjid Al-Hikmah Gang PU, ternyata azan jumatan satu kali ala Muhammadiyah. Tadi dengan niat sengaja salat jumatan di masjid Baiturrahim, Beringin Raya, kendati cuaca agak mengkhawatirkan. Setelah takmir selesai mengumumkan keuangan masjid, khatib naik mimbar lalu mengucapkan salam dan diikuti bilal mengumandangkan azan. "Hari ini saya menemukan lagi masjid Muhammadiyah," batin saya. Yo , wis tenang menyimak khutbah yang dibaca khatib, perihal bulan Rajab, Sa'ban, dan Ramadan. Ornamen di area pengimaman  "Kita memasuki bulan Sa'ban, saya mengajak jemaah memperbanyak amal di bulan ini dengan berpuasa seperti yang Rasulullah SAW lakukan bersama para sahabat," kata khatib. Tapi, sependek pengetahuan saya, hanya sampai 15 Sa'ban, sesudahnya tak boleh lagi puasa hingga memasuki bulan suci Ramadan. Masjid ini sedang ada perbaikan di bagian atap yang bocor, pemasuk...

Ritme Hidup Melambat

Hari ini, sepanjang hari hampir tak ada sinar matahari. Saya katakan hampir karena sinar matahari hanya sempat muncul sesaat saja kemudian tersaput mendung dan hujan rintik pun turun-reda turun-reda secara bergantian. Udara pun menjadi begitu dingin dibuatnya. Saya memang sedang influenza, ingus sedang encer-encernya (meler melulu), bolak-balik saya keluarkan dari hidung dengan cara menghempaskannya ke tanah. Dalam demam flu begini, ritme hidup jadi melambat. Kepala pening, badan nggereges kedinginan. Mandi air hangat adalah trik meredam dinginnya air leding yang kami konsumsi. Habis bagaimana lagi, hendak berjemur matahari tak kelihatan ‘batang hidungnya’ apalagi senyumnya yang memikat hati. Lebih hangat lagi berkemul sarung atau sekalian masuk ke dalam dekapan selimut tebal, terlebih dahulu telan obat flu. Ilustrasi | foto: BITKA ORIGIN Coffee Roastery | Tadi malam saya beli wedang jahe. Hanya airnya saja, tanpa campuran seperti wedang ronde umumnya yang ada irisan roti tawar,...

Sixties Happy

Eufemisme (penggunaan kata atau frasa yang lebih halus) dengan kata lain penghalusan istilah. Sebenarnya, kata atau frasa lansia –singkatan dari lanjut usia– tidaklah terdengar kasar sehingga tidak perlu dihaluskan apalagi diampelas. Tapi, demi lebih terdengar santun, dipakailah istilah warior (warga senior) sebagai pengganti penyebutan lansia. Buku antologi yang ditujukan untuk penyair yang sudah berusia sepuh , ini semula khusus untuk yang berusia 70 tahun ( seventies ). Kemudian diturunkan tingkat “ketuaannya” menjadi 60 tahun ( sixties ). Saya yang berusia 60+ mendapat tiket untuk ikut serta. Saya kirim 5 judul puisi untuk dikurasi oleh tim kurator yang tentu lebih sepuh dari saya. Flyer dari semula, tersebutlah "the seventies" Pada flyer memang tegas dicantumkan frasa seventies , tapi yang tergolong berusia sixties boleh ikut. Setelah pengumpulan puisi sampai batas tenggat akhir ( deadline ), proses kurasi dilakukan dengan seksama. Agak lama menunggu kok tidak k...

Varian Duku

Semakin tahun semakin jauh bergeser waktu menjalankan ibadah puasa yang tidak lagi berbarengan dengan musim buah duku. Dahulu pas berbarengan, selalu ada buah duku sebagai menu berbuka puasa, di samping tentunya buah kurma, gorengan + cuka, minuman es campur (sop buah). Kini, buah duku sudah banyak diperdagangkan di pasar dan pinggir jalan di kota Bandar Lampung. Yang menarik, saat saya beli di pasar Bambu Kuning, penjual menawarkan pilihan, hendak duku Komering atau Baturaja. Apa bedanya, tanya saya. Beda di rasa, jawabnya dengan tegas. Dalam hati saya, tentu saja. Duku ini, yang kami beli tadi, juga disebut penjualnya "duku Palembang" lantak . Untuk meyakinkan lidah, saya ambil sebuah yang dikatakannya Komering, memang manis. Saya ambil pula sebuah yang Baturaja, ada sensasi masamnya. Lidah saya tahu persis perbedaannya. Tak bisa lagi berkelit mencari alasan buat menawar harga setelah tahu rasanya. Saya minta yang Komering satu kilo. Sepulang dari Jember menghadiri Temu Kar...

Jam Karet

Tadi malam doa tahlilan hari kedua di rumah sahibul musibah RT.011 dilaksanakan bakda Magrib karena bakda Isya akan diadakan perayaan Israk Mikraj di masjid. Waktu memang bisa diatur mulur mengkerut. Dari situlah dikenal istilah jam karet. Orang mengulur waktu dalam masalah apa pun, datang ke undangan telat, menghadiri rapat telat, sampai di kantor telat. Begitulah jam karet dijadikan suatu kebiasaan, bahkan membudaya. Sudah keberangkatan terlambat, eh di jalanan didera macet, ya, sudah sampai di tempat tujuan terlambat jadinya. Begitulah yang terjadi pada pemeluk teguh “penglaju” di kota Jakarta yang datang dari penjuru bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) dengan commuter line atau KRL. Salah seirang dari ribuan “penglaju” mengaku rata-rata menghabiskan waktu 4–5 jam di jalanan sejak dari rumah hingga sampai kantor, tempatnya bekerja di tengah Kota Jakarta. Takmir masjid foto bareng ustaz  “Pengin resign , tapi eman - eman karena bekerja ini di samping cari tambahan b...

Dukacita & Sukacita

Dahulu pernah dua perayaan terjadi bersamaan pada dua keluarga yang bertetanggaan RT. Yang satu pesta pernikahan di RT.14, sedang yang lainnya kematian orang tercinta di RT.11. Yang pesta terpaksa mengubah acara, dari semula mestinya ada musik orgenan, jadi disenyapkan demi menghormati yang sedang berduka. Dua ihwal hidup manusia yang tidak bisa dibaca dengan pikiran, tapi dengan mata batin karena hanya bisa direnungkan hikmah di baliknya. Yang pesta bisa merancang waktu kapan acaranya, kematian tidak begitu. Kapan kematian itu akan terjadi, sebuah misteri tak terselami. Rahasia Ilahi Rabbi Izzati. Sesi foto pengantin pasca-akad nikah  Kemarin kami warga 4 RT guyub menyempurnakan jenazah salah satu jemaah masjid yang wafat Jumat malam sekira pukul 21:30 WIB di RS Bhayangkara. Hari ini kami warga 4 RT hadir memeriahkan acara pesta pernikahan putri dari jemaah masjid juga. Baik yang kemarin dan hari ini, tetanggaan RT.11 dan RT.14 juga. Betapa sedih kan pengantin bila saat dipestak...

Lelayu Tengah Wengi

Tang-ting tang-ting bunyi notifikasi pesan WhatsApp. Saya buka, ternyata ada kabar duka. “Berpulang di RS Bhayangkara jemaah masjid kita, si Fulan, sekira pukul 21:10.” Begitu terbaca. Tidak begitu mengagetkan, karena beliau memang dalam masa 3–4 bulan ini bolak-balik masuk dan keluar rumah sakit, gantian antara RS Bhayangkara dan RS Bintang Amin (Malahayati), sebab komplikasi penyakit. Terakhir baru saja pasang ring di jantung. Sekira pukul 23:15, seperti tak cukup disampaikan lewat pesan WhatsApp, terdengar wara - wara kabar lelayu itu melalui TOA masjid. Telinga saya fasih mengenal suara yang menyampaikan kabar duka adalah bapak RT kami yang merupakan wakil ketua takmir. Pagi membuka hari dengan gerimis tipis menghias langkah kaki pelayat mulai berdatangan ke rumah duka. Pemulasaraan jenazah menunggu anak almarhum, sedang dalam perjalanan dari Medan. Jenazah selesai disalatkan  Lelayu tengah wengi (kabar duka tengah malam) melalui TOA masjid seperti dipercaya lebih afdal ...

Mudahan Kelakon Istikamah

Di penanggalan merah pada peringatan Israk Mikraj Rasulullah SAW hari Jumat ini tadi, saya melanjutkan safari Jumat ke Masjid Al-Hikmah Jl. Pagaralam. Masjid yang struktur bangunanya bulat ini mengingatkan saya pada Masjidil Haram, tempat pemberangkatan Nabi Muhammad SAW saat hendak diperjalankan pada suatu malam menuju Masjidil Al-Aqsa di Palestina lalu naik ke Sidratul Muntaha yang kemudian dikenal sebagai peristiwa Israk Mikraj. Hanya saja ada yang beda, jika Masjidil Haram semua jemaah salat mengelilingi Kakbah sebagai kiblat, sementara Masjid Al-Hikmah semua jemaah salat menghadap ke arah satu dinding pengimaman yang meski bulat, tetapi itu menghadap ke arah kiblat. Menghadap ke arah pengimaman, saya lihat ada tirai dari terpal untuk menabiri percikan semen karena Masjid Al-Hikmah sedang direnovasi. Nah, masjid ini sedang renovasi sama seperti masjid kami, rupanya. Penampakan halaman masjid Al-Hikmah  Tetapi, kesepakatan hasil rapat membahas rencana perayaan Israk Mikraj K...

Kata yang tak Tidur

Mengapa ada orang susah tidur. Dibilangnya insomnia. Di facebook berseliweran iklan macam-macam. Orang seperti Ustaz Adi Hidayat (UAH) “dikerjain”, bicara panjang lebar tentang suatu produk, seolah-olah ia yang menciptakan resep dari hasil penemuan dalam pengujian berulang. Saya berpikir, itu hasil rekayasa AI ( Artificial Intelegence ). Pernah di masa yang telah lama berlalu, saya menemukan iklan obat buat stamina penambah kejantanan laki-laki. Yang “dikerjain” dokter Terawan Agus Putranto, dinarasikan dalam iklan itu seolah-olah ia mampu menundukkan empat wanita dalam “pertempuran” satu malam. Saya berpikir, orang berani betul mengorbankan orang hebat. Apa iya, dokter Terawan dan UAH betul-betul seperti di iklan itu. Ah, itu hasil rekayasa AI. Orang menciptakan kata-kata betuah, kata-kata yang hidup –bukan kata-kata yang tidur– sehingga menarik perhatian pengguna facebook untuk menonton videonya hingga habis. Siapa yang terkesima, di situlah kata menjadi hidup dan tak tidur. ...

Subuh kok Kipasan

Udara dingin menusuk tulang hingga ke sumsum. Itu yang saya rasakan ketika salat subuh tadi di masjid kami yang terbuka belum berdinding karena masih terus dalam taraf pembangunan. Selesai kubah terpasang, berlanjut mempercantik dinding area imam (pengimaman) dengan memasang granit dan ornamen dari bawah hingga ke atas langit-langit. Dikerjakan terus menjelang Ramadan agar saat hari raya nanti terlihat sudah cantik. ‘Teman jalan subuh’ saya, yang sudah berulang kali saya ceritakan di blog ini, belum aktif lagi salat berjamaah di masjid pascaoperasi hernia. Ia masih dalam pemulihan, tentu menghindari gerakan-gerakan ekstrem apa lagi mengangkat beban atau barang yang berat-berat. Padahal, ia mengelola warung kelontong di rumahnya yang berjualan gas dan galon air mineral. Jadi, siapa yang beli dua barang itu, kudu angkat sendiri. ‘Teman subuh’ ini punya suatu kebiasaan, yaitu menghidupkan kipas angin di waktu subuh. Lah, subuh udara dingin kok kipasan, piye tho , Jal! Panas karena i...

Rahasia Bahagia Lansia (2)

Akrostik adalah seni menulis dengan menata huruf awal sedemikian rupa sehingga ketika dibaca secara vertikal akan membentuk sebuah kata, nama, frasa atau pesan tertentu. Cara ini digunakan menyampaikan ide secara kreatif. Puisi yang dibuat dengan bentuk akrostik, akan mencerminkan makna pesan yang disampaikan bila kita membaca secara vertikal huruf awal yang dirangkai sedemikian rupa. Ikut berpartisipasi dalam penerbitan buku antologi puisi “Rahasia Bahagia Lansia” saya mengirim tiga puisi mengikuti ketentuan yang disyaratkan. Dua puisi saya buat dengan bentuk akrostik dan satu puisi bebas. Ketiga-tiganya mengekspresikan simbol bahagia yang saya maknai sebagai sebuah karunia di masa lansia. Kendatipun memasuki fase usia lansia, sesiapa pun seyogianya mesti tetap merasa bahagia. Dua eksemplar buku "Rahasia Bahagia Lansia" Kemarin saat sedang ngantar istri belanja di Simpur Center sembari ngadem , pesan WhatsApp masuk dari kurir paket, menyampaikan kabar diimbuhi foto paket...

Etika Sosial, Norma Kemanusiaan

Hal kecil yang mungkin sepele atau memang benar sepele, tapi sangat menentukan nilai manusia dalam hal karakter dan etika sosial. Apa itu? Yaitu tenggang rasa dan tahu diri, rasa malu. Tidak sedikit orang di luar rumah abai terhadap tahu diri dan tenggang rasa. Sesuka hati menyerobot antrean di ATM, kasir, nerabas lampu merah atau kalau pun berhenti, berhentinya lebih maju dari garis batas, ada di zebra cross  sejatinya  hak milik penyeberang jalan. Mula cerita dosen UIM menyemprotkan ludah ke kasir minimarket, awal kisahnya karena merasa tersinggung oleh teguran kasir yang memintanya agar ia antre di belakang yang lainnya. Saat itu pengunjung minimarket memang sedang ramai karena malam natal. Hal itu bermula ketika si oknum dosen maju ke stan kasir sebelah yang diduganya kosong. Di swalayan atau minimarket memang sering ada kasir kosong seperti itu, saat pengunjung sepi. Ilustrasi, puisi Zabidi Yakub pada Antologi Sipakamase  Tersinggung karena disuruh supaya antre,...

Ludah Lidahmu

Jauh sebelum ludah seorang dosen Universitas Islam Makassar (UIM) terhadap seorang gadis kasir minimarket viral, saya sudah membuat puisi berjudul sama dengan postingan blog ini. Ide puisi “Lidah Ludahmu” muncul ketika saya teringat cewek teman SMP yang saya taksir. Wajahnya pancen ayu , tetapi perilakunya suka meludahi siapa cowok yang menggodanya, membuat saya tak berani menyatakan cinta. Pun, ketika bertemu saat saya pulang libur kuliah, saya justru ‘jual mahal’ padanya, pura-pura seperti tidak kenal saja, saking muaknya terhadap aksinya melepah ludah tatkala saya menggodanya sewaktu mengambil bola plastik di dekat dirinya. Kejadian saat istirahat belajar dan kami para pelajar cowok main bola plastik di halaman sekolah, itu membekas dalam ingatan dan saya bawa merantau ke Jogja. Ketika saya pulang kampung saat liburan, bertemu dia dan saya acuhkan saja. Dia di halaman rumahnya sedang menjemur kopi, saya lewat di jalan depannya hendak ke rumah makcik (bibi) saya yang berjarak dua...