Langsung ke konten utama

Menang Heboh

Manusia-manusia pemburu sensasi mengerubuti. Dari penasaran menjadi ketagihan.

Lumpia yang bikin penasaran itu kusambangi tadi habis magrib. Dan, rupanya bukan saya seorang yang penasaran, melainkan banyak orang. Tiba di TKP, orang-orang sudah merubung "pabrik" lumpia "jahat" itu. Kenapa "jahat?" Karena bikin orang penasaran.

Ini kali kedua saya menyambangi. Waktu pertama full order, saya tidak diterima order. Saya tinggalkan kerubutan orang-orang yang menunggu pesanannya. Lain kali saja, pikirku. Maka, ini sore tadi kembalilah saya menyambanginya. Saya diterima untuk order.

Tahu tidak, Gaes, berapa lama saya mesti menunggu lumpia corned beep toping mozarela pesanan? 2,5 jam! Dari sehabis magrib, baru pulang pukul 20:30. Untuk dua kepal lumpia, saya dipaksa kudu tahan berdiri menunggu. Tak seimbang dengan hebohnya.

Duh, menang heboh doang. Gara-gara review seorang TikToker, membuat orang begitu penasaran pengin coba, seperti apa sesungguhnya. Begitulah perilaku manusia, akan memburu sensasional apa pun. Jika sudah mencoba, maka puaslah nafsu penasarannya.

Dari hantu jadi candu. Ya, orang yang dihantui rasa penasaran kemudian berhasil mencoba, bisa bahaya, lho. Kenapa? Jika akhirnya bikin ia/dia kecanduan. Dari penasaran, bisa coba, lalu jadi ketagihan alias nyandu. Aduh, yang begitu, saya bukan orangnya.

Nah, saya juga mau review. Ada empat varian, yaitu Lumpia Smoke Beep, Lumpia Cornet, Lumpia Patty, dan Lumpia Sosis. Sedangkan toping tambahan adalah telur, keju slice, smoke beep, cornet, sosis, patty, dan mozarella. Soal rasa, silakan coba sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...