Langsung ke konten utama

Kardus Bukan Kaleng-kaleng

Menyiapkan pernikahan anak itu jalannya panjang dan berliku. Mulai dari acara perkenalan kedua belah pihak keluarga. Sederhananya nembung, tetapi kami arahkan saja sebagai melamar secara tidak formal dalam arti tanpa engagement.

Di acara pasca-lebaran itu kental terasa nuansa halal bihalal, silaturahim sesama umat muslim yang baru saja meraih kemenangan, layaknya orang yang saling bermaaf-maafan, kalaupun terdapat kekeliruan dari lazimnya, ya, tentu saja dimaafkan.

Sambuatan berhias pantun “ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus” itu nyatanya tidaklah bisa sesederhana mengucapkannya. Ada hal-hal yang sebenarnya sederhana, tetapi butuh pemikiran jernih dalam menyiapkan dan menyelesaikannya.

Satu per satu disiapkan dan diselesaikan. Sampai akhirnya hari-H yang jauh dari hari nembung itu, ternyata tanpa terasa sudah di depan mata. Maka, pantun “ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus” itu tidaklah sebagus makna dikandungnya.

Sekadar mengopeni satu item pernak-pernik, yaitu souvenir, butuh sentuhan tangan satu per satu hingga 300 pcs. Yang 300 pcs lainnya memang dikerjakan oleh vendor. 600 pcs dua varian souvenir telah dikemas dalam 6 kardus bukan kaleng-kaleng.

Siang tadi, keenam kardus bukan kaleng-kaleng itu sudah dievakuasi ke Labuhan Ratu. Sampai hari-H akan opname di sana, untuk kemudian nanti akan diusung ke gedung tempat wedding event dilaksanakan. Satu urusan telah mengurangi beban.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...