Langsung ke konten utama

Kardus Bukan Kaleng-kaleng

Menyiapkan pernikahan anak itu jalannya panjang dan berliku. Mulai dari acara perkenalan kedua belah pihak keluarga. Sederhananya nembung, tetapi kami arahkan saja sebagai melamar secara tidak formal dalam arti tanpa engagement.

Di acara pasca-lebaran itu kental terasa nuansa halal bihalal, silaturahim sesama umat muslim yang baru saja meraih kemenangan, layaknya orang yang saling bermaaf-maafan, kalaupun terdapat kekeliruan dari lazimnya, ya, tentu saja dimaafkan.

Sambuatan berhias pantun “ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus” itu nyatanya tidaklah bisa sesederhana mengucapkannya. Ada hal-hal yang sebenarnya sederhana, tetapi butuh pemikiran jernih dalam menyiapkan dan menyelesaikannya.

Satu per satu disiapkan dan diselesaikan. Sampai akhirnya hari-H yang jauh dari hari nembung itu, ternyata tanpa terasa sudah di depan mata. Maka, pantun “ikan sepat ikan gabus, makin cepat makin bagus” itu tidaklah sebagus makna dikandungnya.

Sekadar mengopeni satu item pernak-pernik, yaitu souvenir, butuh sentuhan tangan satu per satu hingga 300 pcs. Yang 300 pcs lainnya memang dikerjakan oleh vendor. 600 pcs dua varian souvenir telah dikemas dalam 6 kardus bukan kaleng-kaleng.

Siang tadi, keenam kardus bukan kaleng-kaleng itu sudah dievakuasi ke Labuhan Ratu. Sampai hari-H akan opname di sana, untuk kemudian nanti akan diusung ke gedung tempat wedding event dilaksanakan. Satu urusan telah mengurangi beban.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...

Puisi Tentang Puisi

Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika. Bali Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengan Bli Wayan. Pertama sewaktu menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara. Inilah 6 sajak-sajak saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Lalu, setelah lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama karena sesuai antrean,” kata Bli Wayan Jengki Sunarta. "Wah, saya senang s...