Langsung ke konten utama

Dana FBK IB Cair

Setelah nggak jelas akan bagaimana ujungnya, dana FBK IB dari Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek akhirnya cair juga. Kemarin cek saldo sudah ada transfer masuk. Pagi tadi print out buku tabungan.

Jadi deh kita ke Ubud Writers & Readers Festival. Dari Lampung langsung Bali keliwat ribet, kudu transit di Jakarta entah berapa jam. Daripada nggak nutut waktunya, cari jalan pintas take off dari Soeta saja.

Dari Lampung pake moda transportasi DAMRI ke Gambir, lanjut ke bandara juga pake DAMRI. Inilah armada transportasi paling merakyat. Ongkos amat bersahabat dan perjalanan tentu nikmat. Syukron.

Waktu booking tiket, karena masih lama saya jadi calon penumpang pertama. Malah enak, bisa milih tempat duduk duluan. Packing pakaian sudah dari kemarin, selesai siang tadi. Tinggal tunggu waktu.

Habis Isya nanti ke Stasiun Tanjung Karang karena bus DAMRI berangkat dari sana. Sampai Stasiun Gambir besok pagi, langsung pesan tiket pulang biar tenang pikiran. Di Bali mengikuti acara lebih leluasa.

Tiket pesawat sudah dibeli 24/9 ditalangi dahulu pake uang pribadi. Setelah dana cair dan dihitung-hitung, sepertinya akan ada sisa dana yang tidak terpakai, nanti akan dikembalikan lagi ke Kementerian. Wajib.

Kebetulan sekali tiket pesawat sudah dibeli sejak jauh hari, secara iseng saya buka tiket.com ternyata harga tiket hari ini sudah lebih mahal daripada sewaktu membeli dulu. Harga tiket memang naik turun begitu.

Apalagi ini karena ada event tahunan Ubud Writers and Readers Festival, sudah barang tentu flight ke Bali lebih padat karena yang diundang ke UWRF bukan hanya dari dalam negeri, melainkan luar negeri juga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...