Langsung ke konten utama

Celebrate You


Sejak sepekan lalu Google sudah mengingatkan bahwa tidak sabar ingin merayakan ulang tahunku. "Can't wait to celebrate you!" Pesan pengingat dikirim 21/10 atau satu pekan sebelum tibanya 28/10, hari ultahku. Wah, perhatian sekali Google, tidak sabar menunggu untuk merayakan hari ulang tahunku.

Dan, di sepanjang hari hingga malam ini, setiap membuka laman Google, ada pendar balon dan kembang api berpijaran mengelilingi potret diri akun Google di sudut kanan atas. Rupanya Google dengan senang dan gembira merayakan ultahku dengan tanpa memperhatikan bagaimana saya merayakan.

Tulisan "Can't wait to celebrate you!" oleh Google itu saya capture lalu saya kirim di grup WA keluarga. "Sudah diingatkan Google," tulis saya. Dan, pagi tadi Google benar merayakannya. Dengan berbagai pilihan untuk saya bagaimana mau merayakan. Saya pilih untuk menyanyikan selamat ulang tahun.


Lalu, bernyanyilah Google, "Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday from Google, happy birthday to you." Saya capture lalu pajang di IG disertai ucapan, "Thank you very much Google." Di facebook adalah kawan-kawan mengucapkan happy birthday atau selamat ulang tahun disertai doa.

Mereka tulis doa 'yang baik dan benar' tentunya. "Terima kasih, semoga yang terbaik dan kesuksesan dalam langkah yang ditempuh," jawabku. Soalnya, ada beberapa kawan itu yang akan 'menempuh jalan' menyalegkan diri di pemilu legislatif nanti. Semoga mereka berhasil jadi legislator 'yang baik dan benar.'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...