Langsung ke konten utama

X x


Nah, nah, nah... postingan sebelumnya tentang Twitter X, di layar ponsel saya logo twitter yang berubah ikon X, tetapi brand name Twitter tetap.

Sementara di layar ponsel istri saya, logo ikon X, tetapi brand name sudah jadi x mengikuti logonya. Istri saya bingung dan penuh tanda tanya, kok...

Ya, kok, beda dengan punya saya, salahnya di mana? "Ya, sudah terima saja begitu," ujar saya 'puitis'. Dan, pagi ini tadi, rupanya telah terjadi perubahan.

Brand name di bawah logo ikon X di ponsel saya yang tadinya Twitter berganti menjadi x juga. Ya, sudah, jadi terjawablah kebingungan istri saya.

Lengkaplah perjalanan Twitter di tangan Mas Elon. Burung biru sudah terbang jauh, di bawah bendera x corp., 'media berkicau' ini semoga masih asyik.

***

Ini indihome, ya, kok, suka kali naikin kecepatan  (bandwidth) internet secara sepihak. Tahu-tahu ada pemberiantahuan adanya penambahan kecepatan. 

Pemberitahuan via WhatsApp, malam hari pula. Iya, bener kecepatan jadi tambah, tetapi biaya bulanan juga tambah guede. Enak aja kelen tuh. Hawak bener.

Kudu diprotestanin, eh... diprotes ini. Awas, ya, kelen tak-samperin. Kalau dipikir-pikir, sudah nggak butuh lagi punya jaringan internet di rumah. Sudah expried.

Butuh pasang dahulu karena anak kami WfH. Gak cukup dong kalau mengandalkan kuota data untuk mengerjakan editing video lalu dikirim ke kantornya.

Sekarang anak kami sudah WfO di Jaksel. Lagi pula saya dan istri, juga pemakai kartu pascabayar. Jadi, dengan begitu, kebutuhan internet sudah ter-cover.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...