Langsung ke konten utama

Purnama Lagi

Malam ini purnama kedua di bulan Agustus. Purnama pertama jatuh tanggal 1 atau hari pertama bendera merah putih berkibar di depan rumah. Besok hari terakhir bendera dikibarkan selama satu bulan penuh.

Malam ini jelang penurunan bendera di hari terakhir besok. Waktu purnama pertama tanggal 1 di lorong jalan, baru di depan rumah kami bendera dikibarkan. Purnama kedua ini belum ada bendera yang dilepas.

Dari depan rumah saya potret purnama di cakrawala, bendera yang merunduk takzim jadi saksi, purnama terlihat tersenyum kemayu. Cemerlang bak mata Dewa mengintai Dewi yang lagi mandi telanjang di sendang.

 

Bulan Kemayu

Puisi Zabidi Yakub

Orang-orang yang merasa merdeka
Antusias mengekspresikan kemerdekaan
Hanya pada bulan Agustus bisa begitu
Selebihnya terpasung dalam ketakutan
Jangankan pekik merdeka, bersuara saja hati-hati

Di pengujung Agustus, bulan kemerdekaan
Selain bendera yang tertunduk takzim
Hanya cahaya Bulan tampak merdeka
Selebihnya terlihat dikungkung ‘penjajah’
Dijajah rasa takut dan ketidakmandirian

Orang-orang takut bersuara lewat kata-kata
Media sosial  jadi senjata menembakkan kata-kata
Mimbar bukan lagi tempat yang aman berpendapat
Diumbarlah pendapat lewat media sosial, apa saja
Berkata tanpa bersuara, itulah yang orang lakukan 

Di pengujung Agustus, Bulan kemayu 
Sinarnya menyiratkan mata orang merdeka
Bukan mata orang ketakutan oleh intimidasi 
Bulan bercahaya penuh percaya diri
Tetapi, orang yang menatapnya diliputi tragedi

 

Bandar Lamung, 30 Agustus 2023 | 19:48 |


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...