Langsung ke konten utama

Kopi Sastakarta

Stand Banner Coffee Shop Kopi Sastakarta, Jl. Dagen, Jogja (foto: koleksi pribadi)

Coffee shop
ini menempati sisi kanan teras sebuah hotel di Jalan Dagen, Jogja. Stand banner dari selembar triplek berbingkai kayu dengan cat dasar hitam dan tulisan varian kopi dengan kapur tulis didirikan di tepi jalan di depan agar terbaca orang yang lalu lalang.

Ada 7 jenis minuman yang ditawarkan di sini. 5 varian kopi dan 2 lainnya Teh Kayu Aro dan Cokelat. 5 varian kopi berikut harganya (sesuai urutan nomor dari 1 sampai 5) adalah Kopi Lampung (15K), Kopi Bali (20K), Kopi Flores (25K), Kopi Merapi (20K), dan Kopi Aceh (30K).

Kopi Lampung, entah dipetik dari pekon (desa) mana, ditempatkan urutan nomor satu, namun harga yang dipatok ternyata paling murah. Merek kopinya pun entah apa, maklum saya tidak menelisik lebih jauh misal bertanya apalagi mampir memesan dan menyeruput kopi di sana.

Kami berdua istri sering ngopi di pedestrian Malioboro. Banyak penjual kopi sachet aneka merek, namun yang sering kami samperi adalah yang dekat penjual Lumpia Samijaya. Lumpia legendaris yang telah berjualan sejak masa saya SMA dan kuliah di Jogja tahun 80—86an.

Meski yang dipajang kopi sachet, kami minta diseduhkan kopi bubuk murni, kopi tubruk. Mereka sudah mengantisipasi kalau ada calon pembeli yang minta kopi bubuk murni. Apalagi lidah orang sumatra pasti nagih mencecap kopi murni layaknya ngopi di rumah sendiri.

Tentang nama Sastakarta, apakah ada kaitannya dengan aktivitas bersastra? Sepertinya tidak. Saya tak melihat mereka yang ngopi di sana sambil pentas baca puisi. Atau menyediakan buku sastra untuk dibaca sembari menyeruput kopi, pelan dan diresapi.

Dihantam pandemi Covid-19 tak urung coffee shop ini menerima kenyataan pahit yang lebih pahit dari kopi yang dijualnya. Sewaktu ke Jogja bulan Juni 2020 tak ada lagi stand banner di pinggir jalan, coffee shop sudah tutup. Tak ada orang kongkow-kongkow di sana.

Sempat membatin juga mengapa kok kopi Lampung dihargai paling murah dibanding kopi dari daerah lainnya. Kopi Merapi dan kopi Bali sama-sama dihargai 20K. Kopi Flores lebih tinggi dari keduanya. Yang lumayan menggigit adalah kopi Aceh, padahal pahitnya sama.

Meski kopi sama pahitnya, namun penentuan harga jual dipengaruhi dari daerah mana kopi berasal. Masing-masing coffee shop punya strategi sendiri. Apalagi kalau coffee shop itu berada di pusat jajan kopi, tentu persaingan dalam menarik pengunjung begitu ketat.

Penikmat kopi yang demen berpetualang mencari varian baru dan rasa yang aduhai, tentu tak selamanya setia di coffee shop itu-itu saja. Niscaya akan hunting ke tempat lainnya. Akan berpindah-pindah tempat ngopi demi memperturutkan kepuasan dahaga batinnya.

Demi menarik pengunjung baru, strategi yang dimainkan pemilik coffee shop biasanya akan mengganti barista. Barista tak ubahnya influencer, yang follower IG-nya banyak akan direkrut dengan catatan harus mampu mendatangkan follower ke tempatnya bekerja.

Pola yang sama akan dilakukan berulang bila dalam kurun waktu tertentu coffee shop mulai sepi pengunjung. Sepinya pengunjung coffee shop terasa lebih pahit dari rasa kopi yang dijual. Pahitnya kopi tidaklah semengerikan pahitnya persaingan berjualan kopi itu sendiri.

Rasa pahit persaingan itu mau tidak mau harus dijinakkan dengan cara yang kejam sekalipun. Tentu tidak mudah memecat barista yang sudah bertahun-tahun bekerja dan turut andil membangun brand coffee shop. Menciptakan rasa tidak nyaman, bisa jadi cara yang aman.

Barista yang merasa sudah tidak nyaman tentu akan mundur dengan sendirinya. Pemilik coffee shop pun merekrut barista baru, dipilih yang follower IG-nya ribuan, yang memungkinkannya bisa ”memboyong” follower itu jadi pengunjung coffee shop tempatnya bekerja.

Perkara meracik kopi dan bagaimana taste yang nikmat menjadi tidak penting. Menyeduh kopi dengan toping apa pun toh bisa dilakukan tidak harus oleh barista berpengalaman. Barista baru tidak harus menyesuaikan diri dengan kultur coffee shop, langsung saja bekerja.

Kopi dari mana pun sama pahitnya, sama kadar asamnya, sama beraroma rempahnya. Karena itu, rasa yang dihasilkan bisa jadi akan sangat pahit atau sangat asam. Yang memengaruhi tingkat kepahitan dan keasaman kopi adalah cara me-roasting. Bukan seduhannya.

Roasting kopi yang tergolong dark roast adalah pemanggangan dengan suhu di atas 200o, aroma manis yang keluar dari kopi yang dipanggang perlahan akan hilang dan berganti aroma kopi yang gosong. Pada level ini keasaman kopi akan hilang dan tersisa pahit.

Kopi Lampung yang brand name: Black Eye, JP, LAMPUNG HIGHLAND, Otten, Supresso, ART COFIE, Kapal Api, EL’S COFFEE, JJ Royal Coffee, Arutala Coffee, kopi bubuk AKL (ahli kopi lampung), Robusta Lampung Semut, Kompas Dunia, Bola Dunia, Brazica, Nescafe, dll.

Dari sekian brand kopi di atas, bagi masyarakat kelas menengah perkotaan Bandar Lampung, kopi JP (Jempol) akrab di lidah. Bila mudik ke Pacitan kami selalu membawa paling tidak dua kilo dalam kemasan 90 gram/bungkus untuk oleh-oleh. Rasanya sekelas Kapal Api.

Kopi JP terbilang beken, mudah ditemukan di warung tetangga, toko di pasar tradisional, minimarket dan swalayan di mal. Agak tanda tanya juga apakah semua kopi JP hasil produksi satu pabrik atau ada oknum maling yang menyaru, meniru merek dan kemasan.

Di Lampung yang paling banyak dibudidayakan adalah kopi robusta. Sentra kopi adalah Liwa dan Ulu Belu. Lampung mampu menyumbang 17 persen produksi kopi Indonesia. Kopi Ulu Belu bahkan tidak saja dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke luar negeri.

Dang lupa ngupi (jangan lupa ngopi).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...