Langsung ke konten utama

Besi Pagar Korosi Pitting

Lubang-lubang keropos di sekujur batang besi

Entah kapan pintu gerbang pagar ini dibuat. Dan sudah berapa tahun terpasang serta dibuka tutup pagi, siang, dan malam. Bagian bawahnya tahu-tahu sudah keropos, tak bisa dilas harus ganti besi baru.

Problemnya besi bahan pagar adalah besi tempa yang tipis. Bertahun-tahun dicambuk hujan dan dirajam panas sehingga keropos di sekujur batang besi bagian bawah. Barangkali bisa ditambal las?

Oh, ternyata tidak bisa disiasati dengan menambal lubang-lubang keropos itu dengan las. Oleh bengkel las diganti dengan besi galvanis ketebalan 1,6 mm. Tampaknya bakal kokoh dan niscaya tahan lama.

Lubang-lubang kecil pada permukaan logam atau besi pagar dihasilkan oleh proses korosi pitting. Lubang itu pada mulanya begitu kecil, tetapi akan bertambah lebar. Mulanya sedikit kemudian banyak.

Ya, seiring berjalannya waktu bila terus terjadi korosi, lubang yang sedikit dan kecil itu, semakin lama akan bertambah banyak, kian melebar dan menyebar rata. Pada akhirnya pagar akan rusak secara permanen.

Ternyata korosi saja tidak baik bagi kehidupan. Nah, apalagi kolusi dan korupsi. Dua "penyakit" tata kelola birokrasi ini daya rusaknya lebih dahsyat daripada sekadar korosi pada besi pintu gerbang pagar. Duh!

Penampakan lubang keropos di sudut bagian bawah pagar, cemmanalah bisa ditambal dengan mengelasnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...