Langsung ke konten utama

Libur t'lah Tiba

//Libur t'lah tiba, libur t'lah tiba, hatiku gembira//. Lirik lagunya Tasya Kamila itu, pagi ini terdengar di radio. Masa libur sekolah t'lah mulai sejak Jumat kemarin.

//Libur t'lah tiba, libur t'lah tiba. Hore! Hore! Hore! (Hore!)//. Pembagian Buku Rapor Kamis, 13/6/2023 kemarin lusa, menandai tahun pelajaran berakhir.

Anak-anak yang orang tuanya bisa cuti kerja tentu amat senang memasuki masa libur sekolah kali ini. Mereka bisa vakansi ke mana saja mereka suka.

Banyak destinasi wisata baru dibuka sejak pandemi Covid-19 melandai. Menjadi alternatif pilihan bila bosan pada destinasi wisata yang pernah dikunjungi.

Atau mengunjungi nenek di kampung. Bisa 'mandi di sungai, turun ke sawah, menggiring kerbau.' Seperti lagunya Tasya Kamila yang berjudul Paman Datang.

Bagi yang orang tuanya tidak bisa cuti, meranalah anak-anak. Libur nggak ke mana-mana, gabut di rumah akhirnya jenuh. Yang timbul adalah stres.

Piye ora stres, wong sudahlah boring menjalani pembelajaran dengan kurikulum merdeka belajar, eh libur gak ke mana-mana pula. Ya, stres anakmu, Jal.

Yang terjadi 'merdeka belajar', tetapi tidak 'merdeka liburan'. Suatu kontradiksi yang lumayan naif. Betapa getir kehidupan anak-anak kita, dirundung kecewa.

Ilustrasi foto hasil tangkapan (ss) Tasya Kamila menyanyikan lagu Libur t'lah Tiba (video clip) dalam akun YouTube @TasyaVEVO


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...