Langsung ke konten utama

Postingan

Hari Aksara Internasional

aksara , gambar @abirapanza di TK Al-Azhar 16, Perumahan BKP, Kemiling Permai. Setiap tanggal 8 September dirayakan sebagai Hari Aksara Internasional. Bagaimana seseorang bisa mengenal aksara? Tentu melalui pembelajaran di sekolah. Secara formal memang begitu. Tidak formalnya, diajari ayah dan ibu. Sebelum Abi Ghifar Rapanza masuk TK Al-Azhar 16 BKP, saya dan istri sudah kenalkan aksara kepadanya sejak ia baru berusia 3 tahun. Diajari mengenal abjad A sampai Z, diajari hurup-hurup yang ada pada namanya dan menuliskannya, yaitu A, B, I. Secara perlahan, dengan telaten  kami menuntunnya belajar menuliskan namanya sendiri. Diajari cara menggambar ayam, bebek, burung, ikan, pohon, mobil, sepur, dll. Lambat laun ia bisa menggambar dan menuliskan namanya di buku yang disediakan. Dengan telah terasahnya keterampilan menggambar dan menulis aksara sejak sebelum sekolah, tatkala ia masuk sekolah formal di TK Al-Azhar 16, itu di antara anak-anak lainnya gambar dan tulisan miliknya yang tampak...

Buku dan Minat Baca

Saat buku puisi masa pandemi  ” Antologi Rasa ”  akan terbit tahun 2020 dahulu. ”Setiap bulan sedikitnya saya membeli 300 buku,” demikian budayawan Taufik Rahzen bertutur di sebuah acara bertajuk ”Temu Blogger Buku” di pertengahan Mei 2008. ”Kadang-kadang bisa juga sampai 600 buku,” tambahnya. Ratusan pengunjung yang terkejut mendengar angka 300, dibuatnya lebih terperangah lagi. Acara yang ditaja di Kafe Matahari, Jakarta, tersebut memang diselenggarakan oleh para kutu buku yang tidak hanya hobi baca, tapi juga rajin membuat ulasan di blog tentang buku yang dibacanya. Paslah memang acara itu bertema ”Temu Blogger Buku” karena yang hadir sebagian besar para blogger yang suka baca buku. Keterkejutan mendengar pernyataan Taufik Rahzen yang setiap bulan membeli 300 bahkan 600 buku, penggila buku yang berani-beraninya ngaku kutu buku, tentu sedikit pakewuh jika ternyata hanya bisa membeli 2 atau 3 buku dalam sebulan. Lebih-lebih bagi orang yang masih menganggap buku hanyalah ...

Putri ’AGT’ Ariani

Putri Ariani mendapatkan standing ovation dari juri dan penonton saat tampil di babak semifinal America’s Got Talent (AGT) 2023. (dok. America’s Got Talent/NBC & Peacock via YouTube) Putri Ariani tampil di babak semifinal  America’s Got Talent  (AGT) 2023 di Pasadena, Los Angeles, AS, pada hari Selasa (5/9) waktu setempat atau Rabu (6/9) WIB. Penyanyi berusia 17 tahun itu muncul di atas panggung dengan sorotan lampu mengarah padanya. Ia mulai melantunkan lagu  I Still Haven't Found What I’m Looking For  yang dipopulerkan oleh band U2. Tampil dengan gaun warna krem pastel. Ia kembali tampil sambil bermain piano. Usai menyelesaikan penampilannya, Putri Ariani mendapatkan standing ovation dari keempat juri, yaitu Simon Cowell, Sofia Vergara, Heidi Klum, dan Howie Mandel. Begitu pula dengan para penonton yang menyaksikan secara langsung di Pasadena Civic Auditorium. Putri Ariani diberi golden buzzer oleh Simon Cowell setelah mempertontonkan penampilan fenomenalnya ...

Overprotective

Gambar sekadar buat penghias, Tarra Budiman saat kali pertama menjadi ayah, tak urung membuat dirinya jadi overprotective. (Foto: Vidio) “Anak adalah peniru yang ulung”, demikian pernah saya baca atau dengar dan saya kutipkan untuk sebuah memoar yang saya tulis. Di bidang apa saja, misal, bisnis, politik, pendidikan, seni, dan berbagai talenta lainnya. Ada yang orang tuanya aktor/aktris, anaknya mengekor. Ada yang orang tuanya pengusaha, anaknya jadi juga. Yang orang tuanya pendidik atau birokrat, anak-anaknya kemudian hari juga begitu. Banyak bukti tentang hal itu. Seorang anak akhirnya mengikuti jejak Ayahnya yang seorang tentara. Sekadar menyebut satu nama sebagai contoh, AHY, misalnya. Mengikuti jejak SBY, sang Ayah, yang seorang jenderal. Namun, sayangnya karier militer AHY tumbang di tengah jalan karena SBY berkehendak agar AHY terjun ke politik. AHY pun ikut kontestasi pemilihan Gubernur DKI tahun 2017, kandas di putaran pertama. Melanjutkan karier politik yang kadung dicempl...

Segera

| Ilustrasi gambar milik Rubber Stamps Online Malaysia | Di masa jayanya surat menyurat, ada beberapa pilihan cara mengirimkan surat melalui pos. Yaitu, biasa, kilat, kilat khusus, dan surat tercatat. Bisa diketahui melalui nilai prangko atau biaya yang dibayar dalam rupiah. Ada yang menulis kode khusus di amplop. Misalnya, tulisan kata; ‘kilat’ atau ‘segera’ yang digarisbawahi. Meskipun sudah ditempeli prangko kilat, ada kalanya orang kurang mantap kalau tidak menuliskan kata  ‘kilat’  itu. Nah, penggunaan kata; ‘segera’ itu menandakan bahwa betapa urgensinya surat yang dikirim itu. Si pengirim surat berharap petugas pos menaruh perhatian dengan cara segera menyampaikannya kepada si penerima. Banyak hal yang menuntut untuk diselesaikan sesegera mungkin. Misalnya, menyempurnakan jenazah yang meliputi memandikan, mengafani, menyalatkan, dan memakamkan. Alangkah baiknya jangan ditunda, ya. Siang tadi mantan Kaur TU di sekolah istri berpulang ke Rahmatullah. Hingga Magrib t...

Kekuatan Feeling

| Ilustrasi, credit foto: Facebook | Karena sudah pernah menjalani bisnis MLM dan tahu rasanya berjuang meyakinkan calon klien, saya jadi memahami bahwa yang teman senam lakukan adalah berjuang meyakinkan saya. Ia kirim WA lagi sore tadi. Kembali menawarkan propolis untuk solusi serak dan parau yang dialami istri saya. Yang namanya product specialist , ya, memang harus begitu. Melancarkan aksi ‘menyerang’ bertubi agar klien yakin dan jatuh luluh. Klien pun begitu, senantiasa bertahan dari serangan. Ada yang berhasil mempertahankan diri dari kuatnya serangan sehingga terhindar dari melakukan aksi pembelian. Tetapi, ada juga klien yang akhirnya luluh dan closing . Kekuatan feeling sangat dibutuhkan dalam menjalani bisnis MLM. Ketika dua orang teman kemarin datang, feeling saya bekerja. Melihat tas punggung yang mereka bawa, feeling saya berkata, ‘mereka jualan produk, nih ’. Ternyata benar. Di postingan sebelum juga sudah saya singgung, melihat mereka datang dengan memanggul t...

Obrolan Senja

Gambar milik Spotify, Obrolan Senja | Podcast on Spotify | Senja tadi datang dua orang bertamu ke rumah. Yang satu teman senam, satu lagi temannya teman senam. Karena kali pertama mereka ke rumah, maka sempat beberapa kali menelepon menanyakan posisi rumah. Begitu tiba di depan rumah, saya lihat mereka berdua memanggul tas di punggung. Saya langsung membatin, “Wah, ini pasti mau menawarkan produk apa gitu…..” Saya persilakan masuk. Obrolan senja pun kami mulai. Temannya teman senam memperkenalkan diri sebagai basa-basi. Kebaca dari wajahnya, saya langsung tembak dengan pertanyaan, “Orang Jawa, ya, Pak?” Ia tertawa, membenarkan. Asalnya dari Sukoharjo, Jawa Tengah. Dirasa basa-basinya cukup, biar nggak basi beneran, ya, teman senam langsung mengarahkan obrolan ke arah ‘sektor bisnis’ yang keduanya geluti, bidang penjualan produk yang memiliki support system layaknya MLM. Nah, kan. Apa yang menyelinap di batin tadi terjawab. Dari malam sebelumnya sudah ada gelagatnya. Teman sena...