Langsung ke konten utama

Di Balik Senyuman

Ilustrasi, wanita tersenyum. (credit: freepik.com)

“Seseorang yang terlalu banyak tersenyum denganmu terkadang bisa terlalu banyak cemberut saat berada di belakangmu.” Quote Michael Bassey Johnson ini baik dicermati.

Senyum adalah sedekah yang nilai pahalanya bisa menambah berat timbangan amal. Bisa dikatakan senyum adalah sedekah yang paling murah, hanya bermodalkan sudut bibir yang dibentuk sedemikian rupa, menampakkan bentuk senyum yang menawan.

Senyum adalah “penyakit menular.” Tidak percaya, cobalah Anda tersenyum terhadap orang yang tidak Anda kenal sekalipun saat berpapasan di jalan raya, niscaya ia/dia akan membalas tersenyum. Jadi, senyum adalah “penyakit” yang tidak membahayakan.

Atau, bisa juga dikatakan bahwa senyum adalah “penyakit” yang sekaligus juga bisa jadi obat. Umpama Anda bertemu orang yang cemberut karena sedang memendam perasaan jengkel. Karena Anda kasih senyum, semula ia/dia cemberut, berubah jadi tersenyum.

Begitulah efek “mengobati” yang ditimbulkan senyum. Yang tadinya cemberut, berubah jadi senyum karena ketularan orang lain. Unik bukan? Dari sebentuk senyum di sudut bibir seseorang bisa jadi obat “penyakit” dan bisa juga sebaliknya, jadi musabab “penyakit.”

Bisa jadi musabab “penyakit” apabila senyum yang diberikan justru membuat orang yang disenyumin jadi tersinggung. Apabila ia/dia menganggap senyum yang diberikan orang terhadapnya sebagai cemooh. Agaknya, itu kekecualian dari senyum. Bisa jadi bumerang.


Michael Bassey Johnson

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...