Langsung ke konten utama

Hujan yang Bermanfaat

Allahumma soyyiban nafi'an, doa di waktu hujan ini sebagai tanda syukur atas anugerah hujan yang dilimpahkan Allah SWT agar memberi manfaat bagi kehidupan hamba-Nya.

Tahlillan kemarin malam ditingkahi hujan. Bakda Magrib tahlilan hari pertama untuk yang baru dimakamkan Jumat pagi dan bakda Isya tahlilan untuk yang nujuh-hari.

Tahlilan hari pertama Bapak Taufik Kiemas dan tahlilan nujuh-hari Ibu Ani Yudhoyono konon juga diguyur hujan deras. Doa yang dipanjatkan di waktu hujan itu insyaAllah makbul.

Sama seperti doa orang yang sedang berpuasa. Atau doa ketika berada di Raudhah Masjidin Nabawi, Madinah. Atau doa di Hijir Ismail dan Multazam di Masjidil Haram, Makkah.

Meskipun hujan sempat deras di waktu Magrib dan perlahan reda di waktu Isya, sama sekali tidak mengendurkan semangat jiran tetangga untuk datang/hadir ke tempat tahlilan.

Terutama ibu-ibu majlis taklim karena yang meninggal Jumat dini hari kemarin adalah anggota majlis taklim dan jemaah aktif pengajian bakda Isya ibu-ibu majlis.

Sebagai tanda ikut belasungkawa atas kehilangan salah seorang anggota majlis mereka, ibu ketua majlis tentu merasa terpanggil untuk menggerakkan jemaahnya pergi tahlilan.

Dengan ramainya jemaah tahlilan yang hadir meskipun hujan-hujanan, bisa dikatakan hujan yang tercurah adalah hujan yang bermanfaat. Hujan yang membawa berkah kehidupan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...