Langsung ke konten utama

Postingan

Bahasa Lampung

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung (FKIP Unila) akan membuka program studi S-1 Bahasa Lampung tahun 2016 mendatang, dan akan mengakomodasi 40 mahasiswa untuk angkatan pertama. Dr. Bujang Rahman, M.Si Dekan FKIP Unila Dr. Bujang Rahman, M.Si., mengatakan, pendirian program studi Bahasa Lampung merupakan sebuah upaya pelestarian budaya dan sastra Lampung. Pihaknya akan segera membuka program studi S-1 Bahasa Lampung setelah disetujui Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo. “Tujuan awalnya untuk melestarikan kebudayaan Lampung baik dari segi seni, pendidikan, maupun bahasa Lampung yang diharapka dapat menjadi ‘bahasa ibu’ seperti halnya bahasa Jawa di Pulau Jawa dan bahasa Sunda di Jawa Barat. Kalangan pemuda di sana tanpa malu menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa percakapan sehari-hari,” ujarnya, Sabtu (21/3). Menurut Bujang, komitmen bersama ini tentu saja menjadi sebuah optimisme dan harapan besar bagi Unila, sebagai satu-satunya universitas negeri di S...

Lampung Kini Berusia 51 Tahun

/1/ PROVINSI Lampung lahir pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 yang kemudian menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung merupakan Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan. –  ARAK-ARAKAN – Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo dan Wakil Gubernur Lampung Bakhtiar Basri sedang diarak dengan secara Adat Lampung saat akan menghadiri sidang paripurna istimewa HUT ke-51 Provinsi Lampung, Rabu (18/3)  – FOTO LAMPUNG EKSPRES/ARLIYUS_RAHMAN Kendatipun Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 maret 1964 tersebut secara administratif masih merupakan bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, namun daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka memang telah menunjukkan potensi yang sangat besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang dapat menambah khasanah adat budaya di Nusantara yang tercinta ini. Oleh karena itu pada zaman VOC daerah Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda....

Lampura Miliki Wisata Alam

Kabupaten Lampung Utara (Lampura), provinsi Lampung, memiliki banyak objek wisata, baik itu wisata alam, wisata religi, dan wisata buatan. Berdasarkan data yang dimiliki Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporbudpar) Lampung Utara, untuk objek wisata alam di antaranya seperti Curup Ateng dan Curup Tapak Kuda yang berada di Bukit Kemuning, Curup Selampung yang berada di Kecamatan Abung Barat, dan Curup Klawas Indah yang berada di Kecamatan Abung Tengah. Air Terjun (Curup) Klawas Indah di Kecamatan Abung Tengah Kepala Disporbudpar, Karim SR melalui Kabid Pariwisata, Paswani Mega,  mengatakan bahwa selain dari wisata alam itu terdapat pula wisata buatan seperti Bendungan Way Rarem, Tirta Shinta, dan Way Tebabeng. ”Untuk wisata religinya kita mempunya tempat yang direncanakan akan masuk dalam cagar budaya di antaranya makam Minak Triodeso yang berada di Kecamatan Kotabumi Utara dan Benteng Majapahit yang berada di Kecamatan Abung Pekurun,” ujar Paswani Mega,...

Tari Sembah Jadi Pembuka

Beberapa waktu lalu, delegasi seni Universitas Lampung (Unila) memperkenalkan berbagai macam kesenian khas Lampung di Amerika Serikat (AS). Mereka tampil di tiga sekolah di negara bagian Kentucky. Inilah salah satu tim tari Sembah, yang berasal dari kelompok PAUD sebagai awal perkembangan tarian Lampung di masa mendatang. (foto: LAMPUNG EKSPRES/HERMAN-AFRIGAL) Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Kerja Sama dan Layanan Internasional (PKLI) Unila Prof Dr Cipta Ginting, dalam kunjungan ke University of Kentucky (UK), Lexington, AS, rombongan mahasiswa program studi (prodi) Sendratasik fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) itu menampilkan seni tari dan seni musik tradisional Lampung. “Tarian yang dibawakan adalah tarian Sigeh Penguten sebagai pembuka, kemudian tari Muli Siger, Kembang Melinting dan Nemui Nyimah. Sedangkan alat musik yang diperkenalkan adalah Gamolan Pekhing dan Talo Balak,” kata Cipta. Selain menampilkan kesenian tradisional Lampung, delegas...

Gedung Kesenian Belum Berfungsi

Gedung Kesenian Lampung yang sudah dibangun sejak tiga tahun lalu, dengan sistem proyek multi years itu sudah terlihat megah dari luar, namun belakangan mulai mengkhawatirkan karena terlihat mandeg dalam penyelesaian, terutama isi dan mebelairnya. Gedung Kesenian Lampung di Komplek PKOR Way Halim, Bandarlampung (foto: LAMPUNG EKSPRES/HERMAN-AFRIGAL) Bahkan belakangan beberapa kacanya sudah pecah dan jendela banyak terbuka dari luar, serta terindikasi sudah dipergunakan oleh orang-orang tidak bertanggungjawab bermain petasan di dalam Gedung. Para penggiat seni di Lampung mulai merasa miris dengan kondisi ini. Salah satunya, penggiat tari di Lampung yang tidak bersedia disebutkan jati dirinya, menegaskan bahwa perjuangan untuk mendapatkan persetujuan pembangunan gedung kesenian itu sangat sulit, maka setelah diwujudkan harus bisa segera dimanfaatkan. “Saya cuman denger-denger aja kalau gedung kesenian ini kan sudah selesai, tapi belum ada penyerahan karena belum lengkap. Mebel...

Budaya Jaga Indonesia dari ’Buaya’

Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Prof Dr Kacung Marijan MA menegaskan bahwa kebudayaan penting untuk pembangunan, karena budaya-lah yang menjaga Indonesia dari ”buaya” atau sikap tidak berperikemanusiaan. ”Jadi, tugas kebudayaan adalah menjaga hilangnya huruf d dalam kata budaya agar tidak menjadi buaya,” katanya saat membuka NU di Tahun Kebudayaan 2014 di teras utara Gedung PWNU Jatim, Minggu (21/1/2015) sore. Dalam acara yang digelar oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur itu, ia menjelaskan NU sendiri memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kebudayaan Nusantara, seperti peran Lesbumi. ”Bahkan, NU merupakan komunitas yang lahir dan hidup dalam kebudayaan, karena Nahdlatul Ulama adalah Islam Nusantara yang menunjukkan bahwa Islam dan kebudayaan itu tidak bertentangan, bahkan keduanya bisa saling berkolaborasi,” katanya. Menurut Guru Besar Ilmu Politik Unair itu, bila kebudayaan menjadi ”arus utama” dalam pembangunan, maka pemba...

Kumbang Mini Asal Lampung Kembali Ditemukan

K.W. Dammerman pada 1925 lalu menemukan kumbang mini jantan dari Pantai Pedada, Lampung. Dia yang saat itu kurator di Museum Zoologi Bogor, mengoleksi hewan tersebut dan melabelinya dengan nama Trigonopterus sp. 319 . Trigonopetrus adalah jenis kumbang mini bermoncong panjang yang hidup di seresah tanah. Dalam bahasa Inggris, kumbang ini dikenal dengan movingless beetle atau flightless beetle . Dinamai begitu sebab memang ”malas” bergerak dan tidak bisa terbang. Ciri-ciri Trigonopterus sp. 319 kemudian dideskripsikan. Spesimen itu dinyatakan sebagai Trigonopterus amphoralis Marshall . Nama Marshall merujuk pada orang yang mendeskripsikannya sebagai spesies baru saat itu. Ada beberapa spesimen T amphoralis yang tersebar di dunia. Dua spesimen jantan ada di Museum Zoologi Bogor (MZB). Sementara, sejumlah spesimen lain ada di British Museum of Natural History di London. Seharusnya, upaya mempelajari spesies itu kembali mudah sebab spesimen ada di museum. Namun, ketika ahli Tri...