Langsung ke konten utama

Postingan

Anatomi Sebatang Rokok (1)

Tulisan kali ini saya sarikan dari khutbah salat Jumat Prof. Dr. H. Yunasril, MA. di Masjid Raya Pondok Indah. Dosen UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, itu mengemukakan, ada satu hal yang kita tidak boleh lupa bahwa, selama umat Islam masih merokok, selama itu pula ekonomi umat akan terserap dengan mudah ke para taipan rokok. Ilustrasinya begini, harga 1 batang rokok Rp2.000. Per hari seorang pecandu rokok mampu menghabiskan minimal 1 bungkus rokok (10 – 16 batang). Jumlah rokok yang terjual setiap hari di Indonesia mencapai 90 juta bungkus. Yakinlah kita, bahwa setidaknya 80% dari itu pembelinya adalah umat Islam. Bila satu bungkus rokok dibeli seharga Rp10.000 (meskipun faktanya harga sebungkus rokok di kisaran 20 – 30 ribu rupiah per bungkus, maka setiap hari Rp900 miliar uang umat Islam masuk kantong para pemilik industri tembakau. Bila sehari Rp900 miliar terbakar, maka dalam 4 hari saja jumlahnya mencapai Rp3,6 triliun rupiah. Bandingkan dengan total jumlah WAZIS yang terku...

Muharam-an MT MIA

  Ibu-ibu MT MIA foto bersama ustaz Ismet Munandar dan pengurus masjid. Peringatan datangnya tahun baru Islam di masjid kami, mengisi tausiah PHBI mendatangkan ustaz Ismunandar alias Ismet Munandar. Yang pertama itu nama beliau yang sebenarnya, tapi oleh teman-teman satu pondokan ia lebih sering dipanggil dengan nama Ismet Munandar, jadi keterusan hingga sekarang. Jebolan ponpes Lirboyo, Kediri, rupanya. Beliau mengisahkan sejarah Nabi Muhammad SAW bersama Umar bin Khattab hijrah dari Mekah ke Madinah. Dalam perjalanan singgah istirahat di Gua Tsur. Ada banyak versi cerita Umar digigit kalajengking di dalam gua saat menyiapkan tempat Nabi mengaso . Sebelum Nabi SAW masuk ke dalam gua, Umar minta agar dirinya terlebih dahulu masuk guna memastikan apakah ada binatang buas di dalam gua atau tidak. Umar pun masuk dan membersihkan bagian dalam gua, tangannya disengat kalajengking. Setelahnya baru Nabi SAW dipersilakannya masuk ke dalam. Selesai bersih-bersih, Umar keluar gua dalam keada...

Salah Tangkap Melulu

Puisi Mata Luka Sengkon Karta ini Peri Sandhi bacakan dalam acara Tadarus Puisi Ramadhan pada 2017 lalu (ss kanal youtube Fadli Zon) Putusan atas gugatan praperadilan yang diajukan tim kuasa hukum Pegi Setiawan terhadap Polda Jabar, setelah disidangkan dengan hakim tunggal Erman Sulaeman di Pengadilan Negeri Bandung, Jawa Barat, Senin, 1 Juli 2024 berakhir klimaks, Pegi Setiawan bebas demi hukum. Akhirnya terbukti polisi salah tangkap. Bisa juga dikatakan tergesa-gesa dalam menetapkan tersangka. Jika betul tersangka pembunuhan Vina dan Eki bernama Pegi Setiawan alias Perong, maka polisi harus bisa memastikan secara pasti yang mana orangnya. Tidak boleh asal tunjuk. Tidak boleh asal tangkap dan ditetapkan sebagai pelaku apalagi dikatakan sebagai ‘otak pembunuhan’ tanpa bisa dipertanggungjawabkan. Betapa banyak orang bernama Pegi Setiawan. Sebagai bukti, ditengarai ada pula Pegi Setiawan bin Cecep beralamat di Cianjur, Jawa Barat. Pengacara Pegi Setiawan Cirebon mempertanyakan meng...

Bumi-Matahari LDR-an

Ilustrasi fenomena Aphelion. image source: Winnet.id Sejak tiga hari lalu cuaca cukup bersahabat. Hujan lumaan deras hari Jumat ditingkah gerimis tipis Sabtu pagi sempat bikin hati meragu hendak kondangan di Graha Pramuka. Tapi, lambat laun terang menjelang siang. Mengapa cuaca cukup bersahabat? Oh, rupanya sedang terjadi fenomena Aphelion. Apa itu? Bumi dan Matahari sedang LDR-an alias jaraknya sedang berjauhan, menjadi pantas kiranya kalau cuaca terasa tidak panas. Jarak Bumi ke Matahari kira-kira seperjalanan 5 menit cahaya atau 90 juta kilometer. Nah, dengan keduanya sementara sedang LDR-an atau disebut fenomena Aphelion, jaraknya lebih dari 152 juta km, 66% lebih jauh. Tahun ini fenomena Aphelion terjadi 5 Juli sekira pukul 12:06. Pada saat Aphelion terjadi, jarak dari pusat Bumi ke pusat Matahari adalah 152.099.969 kilometer. Tidak ada dampak signifikan, sekadar terasa dingin. Cuaca sedikit nyaman dari biasanya ini akan berlangsung hingga Agustus. Secara rasa memang menyena...

Pertanda tak Sejalan

Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) menerbitkan pengumuman bahwa tahun baru Hijriyah versi ormas warga nahdiyin ini jatuh pada hari Senin, 8 Juli 2024. Waw, pertanda warga NU bakal tak sejalan alias beda awal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha nantinya dengan pemerintah dan warga Muhammadiyah. Maning bae . Mosok gak kepengin bersamaan sih . Kan penak kalau awal Muharam bareng , awal Ramadan bareng , Idulfitri bareng , Iduladha bareng . Luwih apik . Pantase ngono . Yang penting warga masyarakat pencinta kedua ormas besar ini masing-masing tak berseteru dalam urusan apa pun. Rukun damai, saling asah, asih, asuh. Malam 1 Suro ( lek - lekan ) versi kalender Jawa baru akan terjadi besok Senin Legi, 8 Juli 2024. Artinya, ini menegaskan ada perbedaan kalender keduanya. Ya, kalender Hijriyah dan kalender Jawa tidak sama. 1 Muharam 1446 versi kalender Hijriyah hari Minggu (7/7) dan 1 Suro versi kalender Jawa Senin (8/7).

Perihal Budaya

Ilustrasi, wedding decoration Graha Pramuka. Jumat terakhir bulan Zulhijjah bermuatan berkah karena diguyur hujan lumayan deras, ke masjid jumatan kudu berpayung, untung jarak anara rumah dengan masjid hanyalah seperlemparan biji kedondong. Ada acara bagus di Gedung DKL mestinya pengin saya hadiri. Sayang jaraknya dengan rumah cukup jauh dan hujan tak bisa diajak berdamai terus mengguyur kota hingga senja. Apadaya saya tak menghadirinya. Diskusi budaya bertema tapis, muli lampung, dan puisi. Narasumber Anshori Djausal dan Kunni Masrohanti. Ditingkah pula acara puisi performance : Sutardji Calzoum Bachri, Devi Matahari, dan Isbedy Stiawan ZS. Sayang sekali acara bagus yang dimoderatori Iin Zakaria itu tak bisa dianjaui terkendala hujan di akhir bulan Zulhijjah ini. Besok akan masuk bulan Muharam, tahun baru hijriah berganti angka dari 1445 ke 1446. Siang ini kondangan di Graha Pramuka, ini hajatan terakhir bulan Zulhijjah. Besok ada juga kondangan, jatuhnya di 1 Muharam. Bagi s...

Beringin Halaman Sekolah

Pohon beringin di halaman sekolah setelah digunduli. Pohon beringin di halaman sekolah ini sepertinya ada penghuni gaibnya. Seorang petugas dari Dinas Tata Kota yang diminta memotong dahan dan ranting hingga sedikit gundul seperti foto di atas, kabarnya sakit. Sakit. Hanya begitu narasi yang tersiar jadi bisik-bisik di lingkungan sekolah. Waku mengantar bini beberapa hari lalu, sekuriti mengisahkan itu ketika saya tanya mengapa nggak dihabisin sekalian hingga akarnya. “Wah, boro-boro sampe akar, wong segitu aja bikin orang yang motong sakit,” kilahnya. “Hah, sakit, apa sebabnya?,” tanya saya. Ah, jadi kepo. Ia pun cerita blab la bla. Tapi, memang dari dahulu daerah itu “adem.” Tanjakan dupan kami menjuluki jalan menanjak di depan sekolah itu. Dahulu pernah kejadian truk nggak kuat nanjak mundur dan terguling menimpa premotor ibu dan anak. Si ibu tewas seketika, anaknya menyusul. Anak balita sekira usia dua tahun yang dibonceng si ibu sempat dirawat di RS, tetapi meninggal ...