Langsung ke konten utama

Postingan

Sajak-Sajak 1980-1981

Bulan-bulan Itu bulan-bulan itu dicambuk terik kemarau suaranya pun begitu parau terlalu seringnya berteriak kini pekiknya nyaris tak terdengar tapi masih sempat mereka bergumam: ‘kapan hujan tiba?’ bulan-bulan itu resah gelisah ratapannya pahit untuk dikenang harapan nyaris putus tanpa tumbang kala tiada kunjung menjelma isyarat kepastian antara datang dan tiada curah hujan gantikan kemarau panjang bulan-bulan itu khidmat terpaku membaca setiap gelombang angin kalau ada terselip berita cuaca tentang hujan yang mereka nanti bulan-bulan itu tegak berdiri dari April hingga Oktober berjajar menyambut sesuatu yang mereka jemput adalah tibanya hujan di tengah lapang bulan-bulan yang berjajar di situ segera bertautan tangan, lalu berdansa riang tatkala hujan menjelang dengan ucapan salam mereka tenggelam dalam suasana ribang hingga mereka lengah pada salam hujan di awal perjumpaan mereka dan mereka lupa sambut jabat tangan hu...

Sajak-sajak 1978-1979

Mimpi Yang Kandas sepi lorong kota dipecah riuh anak-anak berangkat sekolah pagi tertawa menyapa penarik becak yang mimpinya kandas tak sampai batas pecah oleh kerasnya tantangan kaki lima yang segera jadi medan laga pejalan kaki, pencopet, dan peminta-minta toko-toko segera buka pintunya jadi ajang tawar menawar harga mereka para penarik becak segera berangkat mengayuh harapan hanyut dari seberang ulu ke seberang ilir cari penumpang sampai letih terasa pergi istirahat ke lorong biasa rajut lagi mimpi yang tak bakal tuntas sepi lorong kota, bermakna bagi mereka untuk berleha, tidur merangkul lutut napas leluasa jauh dari hamburan debu yang diterbangkan mikrolet tua menderu yang saling sikut tuk berebut penumpang peduli lampu merah di depan menyala terjang saja tuk segera sampai terminal peduli risiko mengadang di muka dicegat Polantas atau celaka tabrak lari sepi lorong kota, dipecah langkah pejalan kaki penarik becak tak terusik...

Melacak Jejak Penyair Lampung

Seorang teman penyair meminta saya pulang ke Lampung. Katanya, “Engkau tak akan pernah survive menjadi penyair selain di Lampung.” Ia menambahkan, dengan bersastra di Lampung, seorang sastrawan (penyair) lebih bisa diakui pusat. Maka usai kuliah dari salah satu universitas di Bengkulu, pada 1997 saya pulang ke Lampung. KESAN pertama yang saya terima saat itu, sastra di Lampung begitu mencengangkan. Ketika itu ada Panji Utama, Iswadi Pratama, Ahmad Julden Erwin, R.A. Chepy, dan Ivan Sumantri Bonang. Selain sastrawan (penyair) pendahulu yang tetap menulis seperti Isbedy Stiawan Z.S., Iwan Nurdaya Djafar, Saiful Irba Tanpaka, Cristian Heru Cahyo, A.M. Zulqornain, dan Naim Emel Prahana. Rubrik “PUSTAKA” LAMPUNG POST, MINGGU, 15 JANUARI 2006 - Halaman 15 Media (koran) terbitan Lampung yang paling intens dan sangat tinggi perhatiannya terhadap bidang sastra hanya Lampung Post. Agar tulisan (puisi) bisa masuk Lampung Post pada saat itu, ukurannya sangat sulit. Tulisan-tulisan (pu...