Langsung ke konten utama

Postingan

Bila Bahasa Mati

Headline Kompas, Selasa, 29 Oktober 2019 Headline Kompas, Selasa (29/10/2019), berjudul ”Cegah Kematian Bahasa” mengabarkan ada 11 bahasa daerah di Indonesia dinyatakan punah dan 22 lainnya terancam punah. Kepunahan bahasa merupakan lonceng kematian bagi kebudayaan. Punahnya bahasa bisa berarti matinya sistem kebudayaan yang mendukung satu tatanan nilai dalam sebuah masyarakat. Bahkan bisa berarti pula memudarnya nilai-nilai toleransi yang pernah ditanamkan para leluhur lewat bahasa daerah. Data menunjukkan 121 bahasa daerah yang tersebar di wilayah Indonesia telah punah, sedangkan 22 bahasa terancam punah, 4 bahasa dalam kondisi kritis, dan 16 bahasa stabil tetapi terancam punah. Selain itu, 2 bahasa daerah mengalami kemunduran dan hanya 19 bahasa terkategori aman. Pemetaan yang dibuat Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 1991 menyebutkan Indonesia memiliki 718 bahasa daerah, dan dari jumlah itu baru 74 bahasa daerah y...

Pasukan di Garis Depan

pers berserikat, dengan begitu menjadi kuat. by: @fakartun Cerpen Oleh: Zabidi Yakub ”Innalillahi wainna ilaihi raji’un,” gumam Nindya lirih ketika membaca kabar ada mahasiswa tewas tertembak aparat polisi di Kendari, yang dikirim temannya melalui pesan whatsapp . Wartawati foto sebuah media online itu sesaat tercekat. Baru saja bangun, sepagi itu dia dihadapkan pada berita menyedihkan.    Tak terbayang olehnya, sakitnya diterjang peluru tajam. Dia yang kemarin diterjang water canon saja jatuh tersungkur ke aspal. Baju seragam kantor yang dikenakannya basah hingga tembus ke pakaian dalamnya. Kamera yang jadi senjatanya meliput aksi demonstrasi pun terlempar dan ikut kuyup. Kemarau memang luar biasa panjang tahun ini. Cuaca kota Jakarta yang polusi udaranya tak bersahabat, membuat semakin berat tarikan napas. Ditambah hantaman water canon yang mendera tubuhnya, membuat Nindya merasakan sakit tak terperi. ”Apa rasanya kalau digebuki seperti pencopet...

KOPI (solilokui)

Yang –di masa SD-SMP tahun ’70an– pernah ikut orang tua ngunduh (panen) kopi, saya tahu betul bagaimana kualitas kopi. Pohonnya yang tua-tua dengan cabang dan ranting tinggi-tinggi, sehingga untuk memetik buah kopi harus menggunakan carang (sejenih sabit untuk panen padi yang diberi tangkai panjang agar bisa menjangkau ranting yang tinggi di pucuk-pucuk pohon kopi). Buah kopi di ranting itu belumlah matang semua, hanya satu-dua buku (istilah setempat) yang matang atau menguning tua, buah di bagian ujung ranting masih muda dan hijau. Tapi, karena di- carang jadinya buah yang masih muda ikut terpetik. Alhasil, buah kopi yang dipanen campuran antara yang merah, kekuning-kuningan, dan yang masih hijau. tangkapan kamera berita kopi impor di koran Radar Lampung, Rabu, 31 Juli 2019 Setelah dipetik, kopi dijemur di atas tanah, di tikar, terpal, atau lantai semen, bahkan ada yang di aspal jalan. Cara penjemuran seperti itu memang lazim dilakukan petani kopi. Hampir tidak ada ...

KOPI

KOPI, sepenggal kata yang merepresentasikan banyak makna. Tak hanya nama ’sebingkai’ tanaman yang awal mulanya dibudidayakan di Abyssinia, Afrika. Bukan sebatas biji yang dibawa Baba Budan dari Arab ke India dan dibudidayakan di Chikmagalaur hingga Malabar, kemudian bibitnya dibawa Belanda ke Tanah Jawa dan ditanam di Kedawung (sekitar Cengkareng, Banten). Bukan semata suatu komoditas yang harga jualnya berfluktuasi mengikuti masa panen dan langkanya produk. Saat langka harganya melangit membuat petani sakit hati dan memendam benci. Saat masa panen harganya anjlok membuat petani lesu darah dan tak bergairah merawat kualitas hasil panen. Sehirup Sekopi, Puisi dan Catatan Zabidi Yakub KOPI, sepenggal kata yang merangkum anasir dan melahirkan banyak tafsir, tergantung nama ’benua’ di mana dia dihasilkan. Dari Sabang sampai Merauke, banyak nama diselipkan untuk menegaskan cirikhasnya. Dari ujung utara hingga ujung selatan Pulau Sumatera, tersebutlah; Kopi Gayo, Kopi Lintong, Kop...

Panggung Sastra Lampung 2019

seusai acara, para peserta Panggung Sastra Lampung 2019 berfoto bersama. Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung menginisiasi penghimpunan puisi dan cerpen karya penyair dan cerpenis (sastrawan) Lampung baik yang berdomisili di Provinsi Lampung atau di mana pun. Tidak terbatas pada sastrawan (ulun) Lampung, tapi juga sastrawan di luar (ulun) Lampung yang pernah bermukim di Lampung dalam arti memunyai ikatan historis dengan Bumi Lampung. Inisiator hajat ini adalah Udo Z Karzi sebagai Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung, sekaligus bertindak sebagai editor bersama Christian Heru Cahyo Saputro dan Fitri Yani. Puisi yang terhimpun kemudian dibukukan dengan judul Negeri Para Penyair: Antologi Puisi Mutakhir Lampung. Sedangkan untuk buku kumpulan cerpen diberi judul Negeri yang Terapung: Antologi Cerpen Mutakhir Lampung. Setiap penyair dibolehkan mengirimkan lima judul puisi dan cerpenis boleh mengirim dua judul cerpen. Karya puisi dan cerpen tersebut sebelum dinyatakan lolos un...

Polemik Hari Sekolah Berakhir

Pro-Kontra Full Day School Selasa (7/8/2016) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyampaikan kepada Presiden Joko Widodo, perihal upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menerapkan kebijakan sekolah lima hari yang berarti delapan jam belajar bagi siswa sebagai bagian Pendidikan Pengembangan Karakter.   Namun, kebijakan yang kemudian di mata publik disamakan dengan sistem full day school (FDS) itu mendapat penolakan dari sejumlah khalayak. Karena dengan 8 jam belajar di sekolah akan membuat anak-anak tidak ada waktu lagi untuk belajar mengaji di sore hari. Dampak ekstremnya, sekolah Madrasah Diniyah akan kekurangan murid. Karena murid lembaga pendidikan berbasis agama ini tak lain adalah murid-murid SD dan SMP. Presiden Joko widodo, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj (kiri), Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas (ketiga dari kiri), dan pimpinan sejumlah ormas Islam lainnya memberikan keterangan kepada wartawan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (6/9)...