Langsung ke konten utama

Postingan

Sajak-Sajak 1985

Saksikanlah saksikanlah hai kalian yang tak buta sepagi ini cemeti ibu tiriku telah menggeletar di tubuhku bagai biola digesek, tangisku pun menggema menyambut mentari jelmakan sinarnya saksikanlah hai kalian yang dapat membuka mata sepertinya ia ingin menghapal lagu kesayangannya dengan senantiasa memutar kasetnya demikianlah aku doperlakukan bagai tape-recorder pagi hari telah disetel dengan menjewer telingaku agar menyanyikan tangis yang syahdu lagi pilu bagi orang yang berjalan malam akan bersuka cita bila pagi tiba tidak demikian halnya bagiku berakhirnya malam berarti datangnya sengsara belum lagi kering air mata tangisku semalam pagi ini sudah memancar lagi *) tentang perlakuan kejam seorang ibu pada anak tirinya. Yogyakarta, 25 Januari 1985 Prasangka                               ...

Sajak-Sajak 1984

Renjana malam ini tiada lagi keluh kesah semua telah kugantungkan di dinding kamar aku tidur membuang penat yang menggumpal di pundak dan memberati kedua kaki semua kualirkan melalui nadi-nadi lalu keluar dari setiap ujung jari berharap nanti kujumpa mimpi yang bakal melumat habis semua lelah beri rasa damai, beri rasa bahagia berharap pula besok pagi tiada lagi resah gelisah yang membentang di depan mata menghalangi jalan yang bakal kutapaki untuk bebaskan diri dari sakit hati serta rasa benci, iri dan dengki aku telah muak dengan kemesraan karenanya tak sanggup lagi aku bercinta aku juga bosan akan rayuan-rayuan yang membius kesadaranku akan akibatnya kali ini, kuubah haluan hasrat hati agar aku dapat leluasa bernyanyi esok pagi akan segera kujalani langkah yang telah kuatur rapi semoga di jalan aku dapat terjaga terhindar dari panah-panah asmara yang siap melumpuhkan langkah kaki dan melenakanku dalam buaiannya sungguh ...