Langsung ke konten utama

Lopis Mbah Satinem

Sosok mbah Satinem, penjual lopis legendaris.

Sebenarnya banyak kuliner legendaris yang viral di Jogja. Akan tetapi dua ini yang paling sering jadi buah bibir dan diposting di media sosial dan direviu dalam blog. Yaitu gudek mbok Lindu di Jalan Sosrowijayan kemudian lopis mbah Satinem di Jalan Diponegoro.

Pembeli lopis mbah Satinem asyik menikmati lopis yang legend, wort it, dan viral itu.

Pagi tadi aku dan istri ngopi dekat mbah Satinem jualan. Camilannya bolang-baling atau odading dan kue moci. Selagi menikmati kopi, tiba-tiba pembeli lopis kian ramai, aku pun mendekat ternyata kebagian nomor antrean 10, ya, udah gak papa, gaskenlah.

Pembeli mesti antre pake nomor antrean.

Satu pincuk lopis kami cangking dibawa serta. Kami meninggalkan Jogja menuju Cirebon, ada banyak kuliner khas kota udang itu yang perlu dijajal. Seperti nasi lengko, sego jamblang, empal gentong, tahu gejrot, dan jika penasaran pada warteg, boleh juga.

Warteg alias Warung Tegal sesuai dengan namanya khas Tegal, tetapi di mana-mana bertebaran warteg dengan nama khas pesisiran atau panturaan seperti 'bahari' dan 'kharisma' atau lain sebagainya. Soal rasa tentu tak jauh beda antara satu dengan yang lainnya.

Setelah memberi saweran, aku izin memotret dan tentu ia berkenan diabadikan.

Oh, ya, di sebelah gerobak angkringan tempat aku dan istri ngopi tadi pagi ada aksi pemusik jalanan dengan gitar dan harmonika menemani pembeli lopis dan penikmat kopi di angkringan. Berambut gondrong bersepuh perak khas tenan dengan seniman Jogja.


Sebuah perjalanan, 29 Mei 2024


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...