Langsung ke konten utama

Lancar


ilustrasi kalender bulan Oktober 2021 (foto: Google.com)

Dua hari kemarin, guyuran hujan cukup telak jatuhnya. Luberan air dari drainase jalan utama kota sempat mengisi ceruk jalan yang berlubang di sana sini. Tak pelak genangan air terciprat ke samping mobil yang melindasnya. Pemotor ketiban sial, bawahan (celana atau rok) jadi basah terkena cipratan air hujan yang keruh.

Ketiak flyover Mal Boemi Kedaton (MBK) yang biasa ramai oleh driver ojol yang mangkal, menjadi tambah ramai oleh pengguna jalan yang berteduh. Begitu sedikit reda, satu per satu pemotor melanjutkan perjalanan. Meski sudah sempat kuyup, saya tetap melaju di bawah sisa gerimis yang belum sepenuhnya tiris.

Lancar. Ya, sejak penyekatan dalam rangka PPKM ditiadakan, intensitas pengguna jalan dari hari ke hari kian meningkat. Padahal, pandemi Covid-19 belum benar-benar berhenti. Masih ada pertambahan orang positif Covid-19 di kisaran 1.000 orang per hari. Namun, hiruk pikuk seperti tak bisa lagi dicegah sedikit pun.

Siasat pun tak urung dilakukan pemerintah. Hari ini yang di penanggalan ditandai sebagai hari libur nasional berkenaan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Peringatan maulidnya tetap di tanggal merah (19 Oktober)nya, tetapi liburnya digeser ke hari Rabu (20/10) besok. Alasan pemerintah agar tidak ada ASN yang bolos.

Dulu. Dulu sekali, di masa Orde Baru, kelakuan pegawai negeri pun swasta memanfaatkan hari kejepit nasional (harpitnas) yang jatuh di hari Senin untuk bolos kerja memang hal yang biasa. Hari Senin (18/10) kemarin dijepit oleh hari libur Minggu dan Selasa (Maulid Nabi), sedianya bisa banget dimanfaatkan.

Agar tidak dimanfaatkan ASN dan pekerja swasta untuk bolos itulah, maka pemerintah menggeser hari libur Selasa ke Rabu, berdasarkan SKB 3 menteri. Apalagi kalau wilayah kerja mereka berada di level 4 dan 3, jangankan bolos bahkan cuti pun dilarang. Terang lancar dong kebijakan bersama 3 menteri itu menyekat masyarakat.

Kalau tidak digeser, libur tetap hari Selasa, barangkali ada saja yang memanfaatkan hari Senin untuk bolos. Kalau tidak dilarang, barangkali banyak ASN dan pekerja swasta yang memanfaatkan cuti dari Senin hingga Jumat (18—22 Oktober). Wah, bisa weekend dan hapy-happy menghibur diri menyenangkan hati.

Dulu. Waktu saya sekolah di Jogja, setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw, Keraton Jogja menggelar gerebek maulud. Gunungan yang berisi hasil bumi dan aneka panganan diarak dari masjid Besar Kauman ke alun-alun lor. Setelah semacam ritual pidato selesai, gunungan itu diperebutkan oleh masyarakat.

Di Solo juga demikian. Di berbagai daerah ada tradisi masing-masing dalam merayakan Maulid Nabi Saw. Di masjid komplek perumahan kami, sewaktu belum ada pandemi dalam merayakan maulid, ibu-ibu majelis taklim pengajian selalu menyediakan telur (seperti acara akikah bayi), dibagi-bagikan kepada jamaah.

Sayang sekali, pandemi dua tahun ini tak ada lagi momen bagi-bagi telur itu. Tak hanya telur, ibu-ibu pengajian juga menggelar doorprize. Setiap jemaah dibagi kupon, setelah ceramah maulid selesai, kupon diundi. Hadiahnya macam-macam, utamanya pernak-pernik rumah tangga seperti piring, gelas, centong, dll.

Oke, 19 Oktober—2 November, PPKM masih dilanjutkan. Namun, sudah tidak ada level 4 di Jawa—Bali. Level 3 ada 64 kabupaten/kota, level 2 ada 55 kabupaten/kota. Untuk level 1, Kota Blitar yang pertama dinobatkan pada 4 Oktober karena kasus aktif Covid-19 tersisa 8 orang. Sehingga pertama ujicoba PPKM Level 1.

Per hari ini, daerah PPKM Jawa-Bali, wilayah aglomerasi yang masuk level 1 sudah mencakup 8 kabupaten/kota. Jabar (Kabupaten Pangandaran), Jateng (Kota Tegal dan Kota Semarang), sedangkan Jatim (Kota Blitar, Kota Surabaya, Kota Mojokerto, Kota Kediri, dan Kota Pasuruan). CNN Indonesia, Selasa (19/10).

Di balik kabar baik di atas, Kota Banda Aceh menjadi satu-satunya daerah zona merah di Indonesia. Zona oranye 89 wilayah, zona kuning 423 wilayah. Zona hijau 5 wilayah, yaitu Tambrauw dan Pegunungan Arfak (Papua Barat), Intan Jaya (Papua), Kota Tual dan Buru Selatan (Maluku). liputan6.com, Senin (18/10).

Per hari ini, DKI Jakarta masuk level 2, wah semakin dekat ke keadaan new normal. Berarti tak lama lagi WfO akan mulai digerakkan. Anak bungsu kami yang sejak pertengahan Juli lalu WfH, tentu akan dipanggil kantornya untuk ke Jakarta. Alhamdulillah ia sudah double vaccinated, tak ada keraguan dan kekhawatiran.

Alhamdulillah selama WfH, lancar-lancar saja ia menyelesaikan tugasnya. Saya perhatikan terkesan santai. Tugas dari kantornya kadang baru masuk menjelang siang, ia kerjakan hingga sore sudah bisa dikirim ke kantor. Kalaupun ada revisi sedikit, ia garap barang sejam dua jam dan tak sampai tengah malam sudah kelar.

Biarpun begitu, akhir bulan lalu, ada konten baru yang hendak di-launching per 1 Oktober sempat membuatnya sedikit begadang ngelembur pekerjaan. Sebenarnya sore sudah selesai dan dikirim lalu ia keluar cari angin biar fresh. Pukul 22 ia pulang langsung buka laptop lantaran ada revisi, ia garap hingga pukul 3 pagi.

Selamat merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. اَللهم صَÙ„ِّ عَÙ„َÙ‰ سَÙŠِّدِÙ†َا Ù…ُØ­َÙ…َّدٍ ÙˆَعَÙ„َÙ‰ آلِ سَÙŠِّدِÙ†َا Ù…ُØ­َÙ…َّدٍ. Itu lafal shalawat Nabi yang umum kita baca. Terdapat beberapa macam shalawat yang bisa dijadikan pilihan, misal; Shalawat Ibrohimiyah, Shalawat Munjiyat, Shalawat Tibbil Qulub, Shalawat Fatih, Shalawat Sa’adah. Semua bagus.

Selamat berlibur yang harinya diser-geser, tak iye.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...