Langsung ke konten utama

Postingan

80 Tahun Merdeka, Hanya Wajah

Ini wacana apakah sekadar tahun ini doang apa bakal seterusnya, tanggal 18/8 ditetapkan jadi hari (yang) diliburkan. Narasinya untuk memberikan kesempatan pada warga masyarakat menghidupkan kegiatan lomba dalam rangka memeriahkan maupun menyemarakkan peringatan HUT kemerdekaan RI. Pengumuman perihal tanggal 18/8/2025 itu sebagai hari yang diliburkan, disampaikan Juri Ardiantoro, Wamensesneg RI, yang saya tonton di akun TikTok metro_tv dan menyebar berantai di media whatsapp warga. Apakah ini semacam cuti bersama, galibnya? Juri Ardiantoro, Wamensesneg RI Memang iya, kegiatan lomba di tingkat RT sedekat pengamatan saya, senantiasa diadakan pada tenggat waktu yang mepet dengan hari-H peringatan HUT kemerdekaan, misalnya di H-1 atau di hari-H, agak jarang di hari sesudahnya. Tersisa lelahnya doang . Karena di hari sesudahnya, aktivitas kembali berjalan normal seperti sedia kala. Yang sekolah atau bekerja akan kembali kepada rutinitasnya. Demikian juga jual beli di pasar-pasar, mal, dan pe...

Tiang Uang

Bulan Agustus, saat siapa pun dia yang merasa sebagai warga negara yang baik, maka "wajib" baginya memasang bendera merah putih di hadapan rumah, sebagai ekspresi dalam rangka memperingati HUT ke-80 kemerdekaan RI. Lantas, apa yang mesti disiapkan? Tentu saja bambu untuk tiang bendera. Ruas bambu yang besarnya berdiameter 2,5 hingga 3,5 cm dan panjang 4 hingga 5 meter, akan dibawa penjualnya keliling komplek perumahan. Harga jual ditawarkan Rp.15 ribu. Hanya bambu sebagai bakal tiang, jarang ada yang menjual benderanya sekalian. Penjual bendera biasanya menggelar dagangan di pinggir jalan besar. Tetapi, sebagaimana kegaliban, tentu ada calon pembeli yang menawar. Ya, mereka yang terbiasa tawar menawar dalam transaksi jual beli, sepertinya mutlak untuk mengajukan tawaran. Begitupun saya, dan tawaran saya Rp.10 ribu per batang dikabulkan. Dua batang bambu saya beli,  untuk mengganti tiang bendera tahun lalu yang keropos dimakan bubuk dan akhirnya patah. Risiko bagi bambu muda b...

Agustus Datang

Bulan Agustus tiba lagi, pada pelataran rumah akan dikibarkan bendera merah putih serta umbul-umbul dengan warna sama, tapi ada yang dipadukan corak berbeda-beda. Saat jogging pagi tadi, belum satu pun rumah di Blok O, N, J, K, dan L yang mengibarkan bendera kebangsaan. Begitupun di Blok R, S. T, U, V. Warga Blok P di gang bawah agak laen . Saat pagi saya hendak berangkat jogging , sederet rumah sebelah timur tampak sudah semarak oleh bendera dan umbul-umbul. Di gang kami, baru satu rumah yang sepagian memasangnya. Biasanya saya yang paling dahulu memasang. Kali ini kedahuluan tetangga. Yo, wes lah rapopo . Daripada belum ada sama sekali yang masang. Masalahnya dari jalan besar depan masjid, gang kami tertangkap mata lebih jelas dibanding gang belakang kami. Dahulu, baru memulai menempati rumah, tatkala datang bulan Agustus, Pak RT mengimbau agar memasang bendera, saya langsung hunting ke Pasar Tengah. Masuk toko yang menjual bendera. Tentu toko milik orang Tionghoa. Tapi, agak...

Memanusiakan Manusia

Datang lagi satu buku antologi bersama. Kali ini puisi-puisi bertema pendidikan. Pendidikan adalah cara terbaik meraih kemerdekaan. Bayangkan saja orang yang berpendidikan rendah, rentan sekali tertindas, terjajah, dan gampang dibodoh-bodohin. Lha , orang berpendidikan saja masih mungkin ditipu mentah-mentah, apalagi orang yang sama sekali tak berpendidikan. Pendidikan adalah jalan terbaik meningkatkan harkat dan martabat, cara mendapat penghormatan dari orang lain. Pendidikan adalah suluh atau cahaya yang dapat menerangi jalan gelap agar tak tersesat dalam berjalan menempuh kehidupan yang serba abu-abu. Ilmu yang didapat dari alam pendidikan bisa dijadikan peta pengarah jalan lurus kehidupan. Ada 44 penulis puisi terhimpun dalam buku ini. Sebenarnya bisa lebih banyak dari itu. Tapi, karena ini antologi swadaya, berarti ada kewajiban moral masalah biaya cetak yang mesti dipenuhi peserta atas nama suka sama suka dan bersedia bersama. Bagi yang tak bersedia untuk tidak mengatakannya kebe...

Kwik Kian Gie

Kwik Kian Gie (Hanzi: 郭建義 ; Pinyin: Gu ō Ji à ny ì ; Pe ̍ h- ō e-j ī : Koeh Ki à n-g ī ; 11 Januari 1935 – 28 Juli 2025) yang namanya saya kenal melalui koran Kompas saat saya bersekolah di Jogja tahun ‘80an, selumbari , Senin, 28 Juli 2025, pukul 22.23 WIB meninggal dunia di usia 90 tahun di di RS Medistra, Jakarta. Jenazahnya akan dikremasi 31 Juli 2025. Hingga tahun 1990an tulisannya yang tajam mengkritik kebijakan pemerintahan Soeharto, di Koran Kompas selalu saya baca. Sistem Ekonomi Pancasila yang diapungkan Prof. Dr. Mubyarto, pakar ekonomi kerakyatan Indonesia yang juga guru besar UGM, mengundang Kwik dan kolomnis lain menanggapi dalam sebuah polemik panjang. Kwik Kian Gie (foto: CNBC Indonesia) Polemik panjang tentang sistem Ekonomi Pancasila itu, saya kliping. Waktu itu saya sedang gandrung membuat kliping tentang ekonomi, budaya, dan kesehatan. Kwik akhirnya terjun ke dunia politik setelah diangkat Presiden Abdurrahman Wahid menjadi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi...

JULI

Bulan Juli lingsir ke ujung cakrawala, banyak momen penting yang ditinggalkannya. 23 Juli 2025 Perpustakaan Nasional Press (Perpusnas Press) RI merayakan HUT ke-6 bareng dengan peringatan Hari Anak Nasional. Di negara kita, HAN tanggal itu. Hari Anak diselenggarakan berbeda-beda di berbagai tempat di seluruh dunia. Ada Hari Anak Internasional diperingati setiap tanggal 1 Juni. Ada pula Hari Anak Universal, diperingati setiap tanggal 20 November. Negara lain pun memiliki hari anak sendiri-sendiri. Ilustrasi, kalender meja (picture: IStock) Pemerintah melalui Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, akhirnya  menetapkan 26 Juli sebagai Hari Puisi Indonesia. 13 tahun sastrawan dan seniman berjuang meraih pengakuan atau legalitas itu sejak kali pertama dideklarasikan di Pekanbaru. Adalah Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri yang menginisiasi deklarasi HPI bersama 40 sastrawan, seniman, dan budayawan dari berbagai daerah Indonesia. Deklarasi hari puisi Indonesia ...

Kemarau Basah

Di Pulau Sumatra tidak merasa ada fenomena bediding seperti Pulau Jawa pesisir selatan yang merasakan hawa dingin terutama waktu malam hari. Di sumatra masih panas terik di siang hari dan sejuk di malam hari. Hal itu disebabkan kelembaban udara di sumatra masih tinggi pengaruh alam hijau. Kemarau basah, begitulah istilahnya tatkala di saat masuk musim kemarau, tapi masih ada hujan turun secara berkala. Tadi malam di area perumahan Bukit Kemiling Permai sempat turun hujan, tapi tidak lama. Hujan seperti orang yang kesasar dan malu bertanya. Kembang sirih gading emas (epipremnum aureum) Di samping tak lama, hujan tidak pula deras. Hanya sekadar membasahi jalan saja. Keluar rumah hendak ke masjid subuh tadi, jalan basah masih menyisakan aroma debu yang sudah lama tidak mandi. Baunya khas. Tercium begitu sensual dihidu subuh-subuh. Mumpung sorot matahari masih mengarah selatan karena sedang pada fase pasat utara setelah pada 21 Juni lalu matahari berhenti bergeser atau "berdiam"...