Langsung ke konten utama

Cover Buku Ya Sin

Tanpa terasa 40 hari sudah tetangga sebelah rumah berpulang ke keabadian. Malam ini tadi bakda Isya diadakan tahlilan 40 hari. Dibagikan buku Ya Sin berhias foto wajahnya. Tampak tertawa.

Zaman majalah remaja masih berjaya tempo hari, bukan hal asing melihat wajah seorang aktor atau aktris menghias sampul majalah sebagai cover boy atau cover girl. Sebelum disrupsi media saat ini.

Jemaah tahlilan memperhatikan buku Ya Sin berhias wajah almarhum yang dibagi-bagikan.

Pada buku Ya Sin juga bukan hal aneh melihat wajah almarhum atau almarhumah dijadikan penghias sampul. Berikut data diri, nama dan bin atau binti, tempat dan tanggal lahir serta di mana wafatnya.

Entah sejak kapan dimulai ada buku Ya Sin dengan cover wajah orang yang meninggal. Dan siapa yang merintisnya, memopulerkan, dan akhirnya menjadi semacam tradisi. Diikuti banyak orang di mana pun.

Ukuran buku Ya Sin juga macam-macam. Ada yang besar dan tebal seperti majmu' syarif yang lengkap dengan berbagai macam doa. Ada yang seukuran standard Ya Sin umumnya, mudah/enak dipegang.

Di samping nama (beserta foto wajah) orang yang meninggalkan juga dicantumkan nama (tanpa foto wajah) orang yang ditinggalkan. Orang tua (ayah & ibu), suami atau istri, anak, menantu serta cucu.

Sebelum sampai pada masanya jadi cover buku Ya Sin, ada orang memajang wajahnya jadi cover buku. Misalnya buku puisi. Ya, cukup banyak penyair yang melakukan hal begitu. Eksistensi diri melalui buku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...