Langsung ke konten utama

Note ato Catatan (2)

Nah, kan. Lagi-lagi tentang lupa, tentang gak ingat, tentang terlewat karena gak dicatat. Pada postingan kemarin, yang saya bahas tentang hari blogger nasional yang diperingati ato dirayakan setiap tanggal 27 Oktober. Tapi, terlewat oleh saya.

Seperti yang saya tuliskan kemarin, pada kalender di telepon seluler saya, pada tanggal 28 Oktober google tandai sebagai birthday. Semua orang pun begitu bila identitasnya terverifikasi, niscaya akan seperti itu.

Membaca dan menulis untuk merawat daya ingat | credit title: rri.co.id |

Siapa pun saat meng-set ponsel baru memasukkan e-mail dan NIK yang ada di KTP, identitas itu akan tertanam di google. Oleh google tanggal lahirnya ditandai di kalender, saat dia birthday diingatkan.

Kemarin saya kelupaan kalo istri ulang tahun. Bukan karena gak dicatat, melainkan karena lupa saja. Wes, ngunu ae, gak ada alasan mengapa ato karena apa. Di Oktober ini usia saya genap 64 tahun. Tambah tua.

Itu mungkin bisa jadi alasan atau pembenaran bahwa dengan bertambah usia berarti bertambah tua, juga berarti bertambah pelupa. Lumrah dan manusiawi kiranya. Untuk tetap waras, nge-blog inilah caranya.

Nge-blog atau nge-goblog seperti yang saya tulis di postingan 4 Oktober, bagi saya adalah cara paling mudah dan murah menjaga kesehatan, merawat dan meruwat kewarasan. Kecuali daya ingat, tentunya.

Ya, daya ingat, daya lihat, daya ilat, dan lainnya tak dimungkiri aus perlahan mengikuti penuaan yang alamiah. Ingatan berkurang, penglihatan tambah lamur, pengecapan ilat (lidah) pun tambah hambar.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...