Langsung ke konten utama

Energi Sastra Tegal

Sakjane iso jumatan di masjid Universitas Ahmad Dahlan (UAD) karen pool bus Puspa Jaya tepat di samping kampus dan masjidnya hanya beberapa langkah dari gerbang. Secara hitungan pahalanya, dapat wajib jumatannya, tapi hilang asarnya. Maka biar dua-duanya dapat, saya pilih jamak takdim Zuhri fil Asri di musala pool bus.

Begitu selesai saya menjamak Zuhur dan Asar, terdengar Iqamah salat jumatan di masjid UAD. Tak lama dua bus siap diberangkatkan, barang bawaan masuk bagasi dan penumpang naik ke atas bus. Perjalanan pulang segera menapaki jalan jalur selatan arah Wates, Purworejo, Kebumen, Purwokerto, Brebes, Tegal, dst.

Sekadar ilustrasi "jogjapasaraya"

Akan melewati kota Tegal yang menyimpan energi kesastraan yang begitu besar tenaganya. Hal itu terlihat dari antusiasme pelajar SMP dan SMA negeri poci itu tampil membaca puisi di atas panggung "Hujan Puisi di Negeri Poci" ruang paripurna DPRD kota Tegal di malam penutupan acara peluncuran buku MOZAIK, Sabtu (24/10).

Woro-woro Studium Generale 

Energi yang besar bersastra itu direspon Suriali Andi Kustomo, ketua Dewan Kesenian Kota Tegal, lalu menyulam kerja sama dengan OSIS SMP Yayasan Al-Khairiyyah kota Tegal, menggelar Studium Generale -- Sastra dan Brain-rot Anak Muda besok Sabtu (7/10) pukul 09:30 bertempat di aula SMP Al-Khairiyyah kota Tegal.

Energi lainnya ditunjukkan oleh acara Pustaka Vaganza -- Festival Literasi 2026, yaitu Bincang Literasi bersama Agus Noor juga akan dihelat besok Sabtu (7/10) di komplek DPRD kota Tegal Jl. Pemuda Tegal pukul 14.00 WIB hingga selesai. Agus Noor penulis naskah Sentilan Sentilun Metro TV dan editor biografi Butet Kartaredjasa.

Woro-woro Pustaka Vaganza, Festival Literasi 

Ya, dengan pilihan bus lewat jalur selatan niscaya sepintas lalu akan melewati kota Tegal. Beda bila dengan full tol dari Bawen, tentu tidak akan melewati kota Tegal. Dengan melewati sepintas lalu, teh dari kaki Gunung Slamet akan tercium aromanya dari pabrik teh di Slawi. Kesan moci di Tegal, selintas terkenang lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...