Langsung ke konten utama

Empat Kota, Empat Cerita

Berakhir sudah perjalanan panjang saya. Berangkat dari rumah 22 Oktober malam tiba di Tegal 23 Oktober siang. Jumat malam mengikuti bincang sastra mengenang Piek Ardijanto Suprijadi, salah satu pendiri komunitas sastra Dari Negeri Poci (DNP) tahun 1993 bersama kawan-kawannya, lebih lengkapnya mereka semua sebanyak tiga belas orang penyair.

Bincang sastra mengenang Piek Ardijanto Suprijadi, di antaranya diisi pembacaan esai Piek Ardijanto Suprijadi oleh Ida Fitri Yuzmanah dan Surat Sastra Piek Ardijanto Suprijadi untuk STA (Sutan Takdir Alisjahbana) oleh Faizal Umar. Lalu, merunut kenangan bersama Piek oleh dr. Handrawan Nadesul dan perkembangan sastra Tegal oleh Suriali Andi Kustomo, ketua Dewan Kesenian Kota Tegal 2022--2027.

Ilustrasi "kumpul ora kumpul sing penting mangan" kebalikannya "mangan ora mangan"

Dari Tegal saya nyepur ke Jogja Minggu pukul 09:50 dan tiba di Jogja pukul 12:10. Setelah bertualang di bekas indekos di Pengok Blok G yang kini sudah bergabung dengan Klitren Lor. Kampus AMP YKPN, kantin Pak Warno, Embung Langensari yang dulu tempat kami mancing belut. Dan, di Pengok Blok G ini pula penyair Afnan Malay pernah bermukim yang akhirnya kembali bertemu di DNP seri 16.

Dari Jogja saya lanjut ke Pacitan dengan travel, Kamis (29/10). Istri dan mbak dari Lampung tiba di Pacitan Sabtu (31/10) setelah mampir nginap semalam di Solo. Mbak dari Mojokerto juga tiba hari itu. Maka istri dan mbak-mbak kumpul bareng berempat kakak beradik. Kami berempat suami juga kumpul sebagai mantu. Bisa terlaksana karena direncanakan, diagendakan, dan disepakati waktu yang tepat.

Pagi tadi, travel yang membawa saya dan istri berangkat pukul 08:48 dari Pacitan dan tiba di Jogja pukul 12:20. Karena check in pukul 14:00, maka kami ngelencer sejenak di Malioboro. Malam kami nginap semalam di kawasan Sosrokusuman. Besok lanjut pulang kembali ke Lampung karena hari Minggu ada kondangan yang kudu dihadiri. Sebab, yang punya hajat kawan kuliah istri.

Lengkap sudah perjalanan saya. Keinginan atau hasrat untuk hadir di HUT ke-33 komunitas sastra Dari Negeri Poci (DNP) sejak jauh-jauh hari dipersiapkan di Lampung, lalu melakoni perjalanannya, mengikuti acaranya di Tegal. Bablas ke Jogja dan berakhir di Pacitan. Empat kota, empat cerita (Lampung, Tegal, Jogja, dan Pacitan). Wayahe untuk kembali ke Lampung dan malam ini stay di Sosrokusuman.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

Jati Diri

Bunga rampai esai yang saya culik dari blog ini setali tiga uang dengan sehimpun puisi, berisi sama-sama 65. Yang sehimpun puisi berisi 65 judul puisi dan yang bunga rampai berisi 65 esai. Satu esai mengulas perihal pesan Ayah kepada kami bertiga anak lelakinya bahwa, silakan hidup di mana saja dan menikah dengan siapa saja asal hindari yang berasal dari dua suku, Ayah sebutkan sukunya, xxxx dan yyyy. Ketika ragil kami menjalani hubungan asmara dengan cewek dari suku yang (satunya) Ayah sebutkan, saya cuma bisa menelan ludah. Akan tetapi, doa supaya ia dipertemukan dengan calon pendamping, wanita yang Sholehah, terus saya langitkan setiap bakda salat. Apa yang Ayah pesankan kepada kami perihal suku yang ditabukan itu pernah saya singgung pada anak-anak. Ada postingan di  blog  ini saya menyoal “jalan jodoh” yang berliku-liku. Tentang menemukan atau ditemukan. Tentang bibit , bebet , bobot . Bibit itu menyangkut garis keturunan, bebet menyangkut status sosial ekonomi, dan...