Langsung ke konten utama

Dari Zaman Hong

Waktu hunting tiket di pool bus langganan, berdiri stand banner promo pembukaan trayek baru, Lampung - Surabaya - Malang. Wahai, makin keren aja bus Puspa Jaya membidik peluang.

Dari zaman hong, istilahnya. Ketika anak-anak masih SD, bila mudik ke tanah kelahiran mereka yang kami tumpangi adalah bus. Pada mulanya bus Muncul. Kini sudah tak ada lagi, bahkan jauh sebelum masa Covid.

Gastras.ID, akun X yang spesial mereviu armada bus dari berbagai jenama dan trayek

Dari Muncul berganti bus Puspa Jaya itu. Dari mulai harga tiket 250K rupiah hingga menjadi 490K rupiah (Agustus 2025). Sekali-sekali nyasar mencoba Rosalia Indah dan Putra Remaja, nyamannya tidak jauh beda.

Di platform X (twitter) ada orang yang menahbiskan diri sebagai blogger yang 'bus mania'. Segala macam bus dicobanya dan direviu di blog. Mulai dari jenama bus dan perusahaan oto busnya. Ditulis amat terinci.

Pabrikan pembuat serta spesifikasi mesin bus, harga tiket berikut servis yang diperoleh, bahkan terminal keberangkatan pun disebutkan. Ada yang melakukan reviunya di akun YouTube. Dapat cuan dari adsense.

Para blogger spesial reviu seperti itu, biasanya akan mendapat semacam reward dari pihak ketiga yang produknya direviu. Misalnya tiket gratis untuk reviu bus. Atau akomodasi lain yang cukup menjanjikan.

Untuk reviu hotel, tentu saja reward atau servis yang bisa mereka peroleh adalah fasilitas kamar hotel dan breakfast gratis. Bahkan, tidak hanya breakfast, tapi juga lunch dan dinner. Value added sebagai blogger.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...