Langsung ke konten utama

Lesu Darah

Pertashop 'lesu darah' mangkrak tak beroperasi.

Nggak habis pikir kenapa pertashop ini tutup berhari-hari (sedekat pengamatan saya) selama wara-wiri di area wisata Pantai Teleng Ria, selama stay di Araya Homestay. Mungkin sudah berbulan-bulan jarak waktu meringkus pertashop ini sehingga tak lagi beroperasi.

Karena sepi pembeli? Sepertinya tidak juga. Ada saja pemotor yang lewat terutama ojol, mestinya sesekali butuh menambahkan BBM. Faktanya, tidak seberapa jauh dari tempatnya ada stasiun pengisian BBM yang dioperasikan perusahaan Mobil berjenama Indotrans.

Banyak usaha "lesu darah" di masa "krisis" yang tidak begitu kentara benar. Pertashop dari Pertamina dan pertamini yang dikelola perorangan mestinya ajeg, lancar, dan maju. Walaupun ada pesaing Indostation dari Mobil (khusus di Pacitan), di daerah lain entah.

Di Bandar Lampung yang banyak pertamini, sedekat amatan saya lancar dan maju. Usaha SPBU mini begitu sangat menolong ketimbang harus jauh-jauh ke SPBU mainstream milik PT. Pertamina beneran yang kulino didatangi dan familier di mata masyarakat.

Akan halnya pertashop tutup itu, agak mengherankan. Padahal, begitu dekat dengan pintu masuk pada area wisata Teleng Ria yang amat banyak pemotor wara-wiri di sekitarnya. Menjadi sebuah kekecualian dari usaha SPBU mini lainnya yang lancar dan maju jaya.

Indostation dari Mobil Oil


.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

Tak Ada Rasa Merdeka

Puisi bertema "Rakyat Menggugat" dengan tagar #panjat_pinang saya unggah pada facebook "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" dengan moderator RgBagus Warsono malam ini. Lomba menulis puisi #panjat_pinang ini sengaja diadakan "Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia" berkenaan perayaan HUT ke-81 kemerdekaan RI yang biasanya dimeriahkan lomba panjat pinang. Narasi yang saya tabalkan adalah habisnya kebun pinang karena dibabat untuk jadi kebun sawit. Oleh karena itu, tak ada panjat pinang di kampung mereka di 17-an tahun ini. Padahal, itulah hiburan merakyat. Bocil-bocil tahunya hanya tertawa menonton lomba panjat pinang karena belum terbayang dalam benak mereka tentang masa depan yang suram. Negara mereka digadaikan penguasa dengan barter utang. Di pundak bocil-bocil itu terbebani beratnya utang yang dibayar dengan pajak rakyat yang tidak semua tersalur. Sebab, ada tikus-tikus berdasi yang maruk menggerogoti dimasukkan dalam rekening pribadi. Tak ada rasa merdeka d...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...