Langsung ke konten utama

Sehat Holistik

Hak cipta gambar: LinkedIn

Makna sehat tidak terbatas hanya pada fisik semata, tetapi juga mencakup psikis. Intinya adalah ketika kondisi tubuh, pikiran, jiwa, dan lingkungan sosial berfungsi secara ideal. Sementara sehat holistik adalah kondisi ketika fisik, psikis, dan lingkungan sosial saling terkait satu dengan yang lain secara menyeluruh membangun aura sehat pada diri seseorang.

Konsep kesehatan holistik merupakan usaha yang mencakup keseluruhan usaha preventif, promotif kuratif, dan rehabilitatif. Preventif adalah usaha pencegehan terhadap suatu masalah kesehatan (penyakit). Promotif kuratif adalah kegiatan yang lebih mengutamakan promosi di bidang kesehatan. Rehabilitatif adalah usaha pemulihan kesehatan.

Untuk mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang ideal di masyarakat, pemerintah sudah memiliki ‘senjata ampuh’ yaitu JKN KIS dan BPJS Kesehatan. Untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat di fasilitas kesehatan, baru saja UU Kesehatan disahkan oleh DPR RI. Dengan disahkannya UU Kesehatan yang baru ini, diharap pelayanan menjadi lebih cepat.

Selama ini pelayanan di RS terkesan bertele-tele dengan antrean yang panjang, memakan waktu lama, dan menimbulkan beban psikologis. Kondisi demikian sangat dikeluhkan masyarakat. Demi memangkas SOP pelayanan yang bertele-tele dan bikin stres, itulah UU Kesehatan yang baru lahir. Walaupun ada pihak yang mengklaim kelahirannya bak bayi yang lahir prematur.

Keberadaan JKN KIS maupun BPJS Kesehatan tentu saja bak ‘malaikat penolong’ bagi masyarakat fakir miskin dan orang berpenghasilan menengah atas. Hanya saja, penggunaannya—terutama di rumah sakit pemerintah—terkesan tidak sesuai ekspektasi, yaitu pelayanan yang cepat. Di rumah sakit swasta sedikit agak lebih cepat dan simpel. Orang pun senang ke RS swasta.

Entah apa trik fasilitas kesehatan sekelas klinik swasta agar mendapat klien masyarakat pengguna JKN KIS dan BPJS Kesehatan. Keluarga kami yang dahulu rujukan BPJS-nya di puskesmas, kok, ya, tahu-tahu sudah ‘dipindahkan’ ke sebuah klinik swasta. Tetapi, tatkala saya mencoba menggunakannya, pelayanannya cepat dan simpel. “Wah, boleh juga,” gumam saya.

Entah apa pasal, oleh istri saya rujukannya dipindah-kembalikan ke puskesmas, melalui jalur pendaftaran online. Tadi siang, giliran istri saya menggunakan kartu BPJS. Ke puskesmas, niatnya mau minta rujukan untuk berobat di sebuah RS swasta. Ternyata di puskesmas harus pake daftar, kemudian entah gimana, kok, justru dikasih obat. Pesannya, ‘bila sakit berlanjut, kembali.’

Keluar dari puskesmas tersebut, kami tetap jalan ke RS yang hendak dituju semula jika dapat ‘surat rujukan.’ Pake jalur pelayanan kesehatan umum (non-BPJS). Sat-set sat-set, bayar, dikasih nomor antrean. Karena jam praktik dokternya masih 1,5 jam lagi, ya, udah, kami pulang dahulu. Kembali lagi pukul 13:30. Menunggu sebentar, dipanggil masuk ruang dokter, didiagnosis.

Beres, dokter menulis resep, ke loket pembayaran lalu menyerahkan resep ke instalasi farmasi (apotek), menunggu lumaya bentar, dipanggil menerima obat, pulang. Alamak… sudah di puskesmas tadi lamaaaaaa, sedikit sebal, buang duit dan obatnya nggak kepake. Pokoknya membagongkan. Pelayanan nggak efektif itu yang akan dibenahi UU Kesehatan. Masak, ya, ditolak?

Sebagian kalangan dokter sempat berdemo ‘coba-coba menolak’ disahkannya UU Kesehatan yang baru. Apa pun alasannya, terlepas organisasi profesi mereka dicerabut seakar-akarnya, kalau demi mereduksi pelayanan seperti di puskesmas siang tadi. Demi sehat holistik bagi masyarakat (hikmahnya), sebaiknya coba tunggu saja dahulu turun peraturan pelaksanaannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi di Buku Yaa Siin (part 1)

Berulang kali ikut tahlilan, baik di tetangga dekat maupun di kerabat yang rumahnya jauh, berulang kali pula bersentuhan dengan buku Yaa Siin. Ada tuh buku Yaa Siin yang oleh keluarga (daripada) si almarhum ato almarhumah diimbuhi larik-larik puisi yang dikarang mereka sendiri yang narasinya sebagai ungkapan sedih ditinggalkan. Ada juga yang menyerahkan sepenuhnya kepada pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin untuk mencarikan puisi dari mana pun sumbernya. Maka, untuk kerja yang simpel atau bahasa awamnya itu, 'mudah' dan 'meriah', pengusaha percetakan main copy paste saja dari buku Yaa Siin yang sudah ada. Duplikasi puisi di buku Yaa Siin oleh pengusaha percetakan sampul buku Yaa Siin bisa dimaklumi. Sebab mereka cuma menguasai seni desain sampul. Sangat jarang ada yang sekaligus bisa merangkai larik-larik puisi dan melayani pesanan puisi oleh klien yang mengorder buku Yaa Siin kepadanya. Umumnya si pemesan sendiri yang membuat puisi untuk ditaruh di halaman awa...

Puisi di Buku Yaa Siin (part 2)

Pada postingan 2 Juni berjudul “Puisi di Buku Yaa Siin” memang secara implisit belum saya singgung soal puisi saya berjudul “Yang Pulang Tengah Hari” yang saya posting di facebook 17 Mei, diminta izin saya untuk dimuat di buku Yaa Siin Pak Drs. Syukur nanti saat mengenang 40 hari kepulangannya. Karena baru dimintakan izin, saya belum yakin betul apakah jadi dimuat atau tidak jadi. Waktu peringatan 40 harinya tanggal 25 Juni, tidak ada pembagian buku Yaa Siin, saya pikir tidak atau belum sempat dibuat. Waktu berlalu sehingga tidak terasa akan datang peringatan 100 hari. Puisi "Yang Pulang Tengah Hari" jadi dimuat di buku Yaa Siin Pak Syukur  Nah, sore tadi, Rima putri Pak Syukur bertandang ke rumah bersama Busi. Mereka ini bestinya  istri. Karena istri baru saja sembuh dari vertigo, mereka menjenguk kendati istri sudah sembuh. Ngobrol asyiklah mereka tentang banyak hal. Masalah sekolahan tempat mereka mengajar, tentu saja. Mereka sama-sama ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ pa...

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...