Langsung ke konten utama

Hajat 5 Tahunan

Sekeping identitas yang dikatakan tak memiliki manfaat, salah. Dikatakan ada manfaat, jarang juga dipergunakan. Apakah itu? SIM yang dibawa ke mana-mana. Ngendon dalam lipatan dompet selama bertahun-tahun, hingga masa berlaku 5 tahun habis dan kudu diperpanjang jika tidak kepengin SIM mati.

Pagi ini, baru saja, saya memperpanjang SIM melalui pelayanan SIM Mobil di gerbang Perum BKP. Ini hajat 5 tahunan seperti halnya pemilu, memilih legislator yang mengaku dirinya wakil rakyat, tapi sama belaka dengan SIM, dikatakan tak ada guna, tidak tepat juga.

Sesi Tes Psikologi yang mesti dijalani sebagai bagian dari persyaratan membuat SIM.

Ada sih satu dua individu yang menyuarakan aspirasi rakyat yang dipungutnya dari dapil tempat mereka nyaleg. Tetapi, suara legislator hanya embusan napas seperti menghirup dan mengeluarkan udara gratis dari Tuhan, untuk kepentingan hidupnya sendiri saja.

Maka, praktis manfaatnya sama seperti SIM, hanya simbol. Hanya perangkat bilamana suatu waktu ada cegatan polantas, bisa bebas dari kena denda tilang. Legislator itu pun hanya simbol. "dewan perwakilan rakyat" di Senayan sidang atas nama mewakili rakyat.

Tapi, produk dari kegiatan mereka bersidang berupa UU, acapkali hanya akan menyakiti rakyat. Lagi-lagi ibarat SIM, diakui berguna, hanya temporer. Diakui tidak berguna, nyata tergambar keberadaan SIM dan legislator, hanya perangkat hasil hitung-hitungan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sastra Jalan-jalan

Siang baru saja melanjutkan perjalanan menuju barat, setelah istirahat sejenak di waktu zuhur, yang ditandai Matahari tepat di atas kepalanya. Tak lama sekira pukul 14:12 Kakang Paket datang mengantarkan kiriman buku dari Taman Inspirasi Sastra Indonesia. Komunitas sastra disingkat TISI pimpinan Bang Octavianus Masheka, ini baru saja usai merampungkan proses produksi dan terbitnya buku antologi “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” yang merupakan puisi bahasa Indonesia dan bahasa daerah masing-masing penulisnya. Buku-buku yang joss tenan Ada 100 orang penulis puisi dwi bahasa yang terhimpun di dalam buku bersampul merah menyala dengan gambar sampul siluet wajah Ibu yang di wajah, leher, dan dadanya dihiasi taburan wajah penulis puisi yang sengaja di- crop tertinggal bagian dada dan kepala saja. Sebelum buku “Bahasa Ibu, Bahasa Darahku” terlebih dahulu tiba di rumah buku “Zamrud” yaitu antologi puisi Dari Negeri Poci seri ke-15 yang saat datang kebetulan saya sedang tidak berada di rumah ...

Note ato Catatan (1)

Banyak momentum kelewat gak ingat. Kelewat dan berlalu begitu saja, tahu dan sadar ketika ada yang memberi tahukan dan menyadarkan. Di sini sebenarnya letak pentingnya menulis catatan dalam note atau memo agar selalu ingat atau tidak terlupa. Di ponsel tersedia yang namanya 'note' atau 'catatan', bergantung apa bahasa yang disetting dan digunakan si punya ponsel. Ponsel saya disetting bahasa Inggris, maka terbaca 'note' untuk aplikasi bawaan gawai itu. Ilustrasi | image source: Career Advice Jobs.ac.uk | Membuat catatan di kalender pun bisa, bahkan lebih representatif coz begitu tanggal itu akan tiba, sudah ada notifikasinya. Seperti tanggal kelahiran karena saya tandai ulang tahun, selalu di-notif oleh google. Berapa hari sebelum tanggal lahir akan tiba, google mengingatkan saya 'akan ulang tahun' dan saat tiba tanggal itu, google memberi ucapan 'selamat ulang tahun zabidi' dengan hiasan balon beterbangan. Satu hari sebelum tanggal lahir saya, ...

Puisi Tentang Puisi

Inilah enam puisi tentang puisi yang dimuat di NusaBali asuhan Warih Wisatsana. Puisi tentang puisi. Entah mengapa saya tiba-tiba terpikirkan membuatnya. Lalu, saya kirimkan ke Koran NusaBali. Agak lama menunggu kabar dimuat atau tidak. Bersamaan pula mengirim puisi ke Koran Bali Politika. Bali Politika asuhan Wayan Jengki Sunarta. Dua kali saya bertemu dengan Bli Wayan. Pertama sewaktu menghadiri Ubud Writers and Readers Festival, 18–22 Oktober 2023. Kami sarapan dan ngopi di Sagitarius Inn, hotel tempat kami menginap. Pertemuan kedua sewaktu menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara. Inilah 6 sajak-sajak saya yang dimuat di NusaBali (Minggu, 9/3/2025) Menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), 24–26 Oktober 2024, saya dan istri baru empat hari pulang dari ibadah umrah, tapi tak merasakan capek sama sekali. Lalu, setelah lama menunggu, akhirnya yang di BaliPolitika dimuat. “Maaf menunggu agak lama karena sesuai antrean,” kata Bli Wayan Jengki Sunarta. "Wah, saya senang s...