Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Kode Tahun Baru

Pergantian tahun di depan pintu. Tanda-tandanya, penjual jagung 🌽 dan terompet 🎺 membuka lapak di mana-mana. Berharaplah cuaca cerah sampai senja dan daganganmu diserbu. Mendung sempat menggelayut memayungi kota Tapis Berseri, perlahan terang menjelang Zuhur. Saya membonceng istri ke Ramayana Ciplaz, cari bahan kado buat bayi yang baru lahir ke Bumi ini. Kode tahun baru berupa baju baru terpajang pada tubuh mulus manekin, menggoda iman penembak jitu "sale" akhir tahun yang jor-joran menawarkan diskon dan harga murah meriah. Tiga seratus ribu. Pakaian dalam wanita pun diobral, beli 3 pcs 💯 ribu. Menggelitik imaji menangkap pesan yang dikirimkan, gantilah pakaian dalam yang sudah uzur atau yang sudah lama masa pakainya dengan yang amat baru. Hal yang amat sepele, tapi belum tentu jadi prioritas untuk sekadar dipikirkan, apalagi menuangkannya dalam rencana tahunan, mengganti properti sangat pribadi itu. Apalagi bila sudah tak nyaman disandang. Padahal, kesehatan reproduksi se...

Hujan Selepas Asar

Malam ini tahlilan nujuh hari untuk tetangga beda blok yang wafat malam Rabu (pekan lalu). Sedianya saya berniat menghadirinya buat ikut melangitkan doa bagi almarhum. Sayangnya, hujan sejak selepas Asar tidak kunjung reda hingga waktu salat Isya tiba. Apa boleh buat terpaksa mangkir. Tak terbayangkan betapa repotnya jemaah tahlilan mesti berbagi tempat di bawah terop (tarup) seluas dua set saja. Teras dan ruang tamu rumah sahibul musibah memang agak sedikit lebih lega dibanding rumah tetangga lainnya karena hook alias ada tanah lebih. Keuntungannya bisa bikin rumah jadi gede . Hujan selepas Asar yang tercurah amat deras dalam waktu dua jam-an, biasanya akan membuat wilayah tertentu jadi kebanjiran. Di Perumahan Ragom Gawi Permai (tetangga Bukit Kemiling Permai) dan daerah Nunyai Rajabasa, adalah pelanggan banjir. Janganlah hujan dua jam atau lebih, niscaya akan jadi  kelelep . Ya, sudah. Yang penting sudah ada niat hendak hadir ikut mendoakan almarhum, semoga saja terberkahi p...

Kompas Minggu Terakhir

Inilah wajah koran Kompas   edisi   Minggu terbitan kali terakhirnya. Rutinitasnya mengunjungi pembaca koran cetak saban hari Minggu, berakhir sudah kemarin. Selanjutnya, memasuki tahun 2026, tak akan ada lagi koran Kompas   edisi hari Minggu, ganti jadi Kompas edisi "Akhir Pekan" yang terbit hari Sabtu. Siapa sih yang masih setia (baca: sudi) membeli koran cetak (atau dibela-belain berlangganan)? Berapa banyak pula koran cetak yang masih bertahan menantang zaman? Taruhlah bisa disebutkan yang sedikit itu, seperti Kompas , Media Indonesia , Jawa Pos , Rakyat Merdeka , dan The Jakarta Post . Yang lainnya sudah tumbang. Kompas Minggu, 28 Desember 2025 Saya suka terharu, namun terkagum-kagum, di bangjo (perempatan lampu abang ijo ) Jakarta masih ada pengecer koran menjajakan beberapa eksemplar koran (yang sedikit itu), berharap pengendara yang berhenti dicegat lampu abang ijo sudi membeli korannya. Tapi, balik lagi ke pertanyaan, siapa sih masih mau beli koran? O...

Terhapusnya Kenangan

Ha... ha... ha... ha... Jadi ngakak mengetawai diri sendiri. Digesa perubahan teknologi yang masif membuat orang macam saya tersaruk-saruk saat memverifikasi ulang password semua media sosial yang tertanam di pekarangan gawai. Lupa password adalah kecelakaan yang agak sulit dihindari oleh lansia macam saya. Tak serta merta berlaku kepada semua orang memang. Ada orang masih terang daya ingatnya kendati sudah masuk daftar barisan para lansia atau usia jelang uzur. Utak-atik, pelan-pelan, penuh sabar meraba-raba mengerahkan kemampuan sikit terbatas, satu-dua medsos terpulihkan. Beginilah risiko apabila gawai diinstal ulang, semua kembali seperti semula saat baru saja beli gawai. Pertama beli atau beli baru. Yang paling menyedihkan tentu terhapusnya semua kenangan yang terekam melalui foto-foto dari setiap momen. Apakah itu di destinasi wisata, di perhelatan acara sastra; Jambore Sastra Asia Tenggara, Temu Karya Serumpun, Festival Puisi Etnik Nusantara. Dan, yang paling berkesan tentula...

Masuk Perawatan

Hape error, tak ada upaya lain agar bisa difungsikan kembali kegunaannya, ialah membawa ke service senter khusus untuk brand name hape tersebut atau jenama pabrikan yang memproduksinya. Lantas, kalau umpama tak ada service senter khusus atau tertentu, piye , Jal. Hp saya yang error, akhirnya saya antar ke service senter untuk dirawat jalan. Tak harus menginap karena cuma butuh paling tidak setengah sampai satu jam. Instal ulang bukan hanya direset buat menghapus data, melainkan dibaharui sistemnya. Tapi, seperti dijelaskan teknisi, risiko yang mesti saya tanggung adalah kehilangan semua foto dan nomor kontak. Sebenarnya hanya foto saja. Nomor kontak tersimpan di Google, sehingga akan muncul kembali dengan sendirinya di 'garasi' daftar kontak. Akan halnya foto-foto, alangkah gelo semua momen yang saya rekam-abadikan dalam setiap peristiwa, perjalanan dan kesempatan, jadi hilang begitu saja. Kalau foto-foto di destinasi wisata bisa diulang, pegi aja lagi ke sana dan ceklik f...

WhatsApp Web

Saya agak keteteran buat membaca apalagi membalas chat di WhatsApp . Pasalnya, ponsel error dan belum sempat saya antar kembali ke service center yang khusus membawahi brand name ponsel saya. Jadi, saya mesti buka laptop untuk membaca dan membalas chat-chat melalui WhatsApp web . Contoh simpel, pesan pemberitahuan kurir yang mengantar paket buku “Kepak Sayap Bunda, Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah” yang diantarnya siang tadi dan meninggalkan pesan berikut foto buku yang diselipkannya di bawah blower Ac di dekat pintu rumah. Tak buka WA web, tak tahu saya. Biasanya diataruhnya di atas meja tamu di teras. Entah mengapa kok  yang sekali ini tadi tuh mesti diselipkannya di bawah Ac. Setelah membuka laptop dan membaca pesan itu, saya langsung membuka pintu dan mengambil itu paket buku , kemudian  langsung mengetikkan balasan atas pesannya kendati agak telat. Seperti sudah saya tulis di blog ini, ada 37 grup WhatsApp yang meringkus nama saya menjadi anggota. Grup-g...

Kematian Itu (2)

Terbaca kabar duka di laman facebook Komunitas Dari Negeri Poci (DNP) pukul 08:33. “Telah berpulang ke Rahmatullah, Drs. Ahmad Hadi, M.Pd. (Hadi AKS) pada hari Rabu, 24 Desember 2025 pukul 01.00 WIB di RSUD Lembang. Komunitas dan Yayasan DNP mendoakan, semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT serta diampuni segala dosa, dan diberi tempat terbaik di sisi-Nya.” Membuat saya tersentak, namanya tak asing. Teman ke UWRF 2023. Hadi AKS adalah penyair Poci yang karyanya dimuat dalam antologi puisi KULMINASI (KKK, 2023). HADI AKS lahir 16 Mei 1965 di Citapis, pesisir Pandeglang, Banten. Menulis sejak tahun 1986 dalam dua bahasa, Sunda dan Indonésia. Sajak-sajaknya dalam bahasa Sunda mendapat penghargaan Hadiah Sastra LBSS (1996, 2004) dan Hadiah Sastra DK Ardiwinata (1997). Buku hasil karyanya: Ombak Halimun (2002) dan Tembang Matapoé (2021), serta  Surat ti Palmira (2022). dari kiri ke kanan: Sunarko Sodrun Budiman (sastra Jawa), Saut Poltak Tambunan (sastra Batak), dan ...

Kematian Itu (1)

Perjalanan hidup seseorang akan berhenti tatkala usianya sampai di batas waktunya. Yang namanya kematian itu tak ada yang tahu kapan datang menghampiri, pada usia berapakah, tua atau mudakah, itu rahasia Ilahi. Rasulullah SAW pun tak memiliki kemampuan memperkirakan waktunya. Pagi ini, kembali lagi, satu tetangga kami antarkan ke "rumah barunya" tempat peristirahatan terakhir yang sebenarnya merupakan stasiun keberangkatan akan menuju hari kebangkitan. Adalah tempat menunggu tetangga lainnya juga diantarkan. Hanya perkara waktu saja, kapan sesiapa mendapatkan gilirannya. Sesaat sebelum salat jenazah dilaksanakan Yang kami antarkan ini tetangga jauh, berbeda blok. Masih muda, bujang. Ayahnya merupakan kolega istri saya, sebagai sesama ASN pada SMP di perumahan tempat kami bermukim. Bodynya gendut dan tampak sehat dari luar. Tapi, ternyata "keropos" di dalamnya. Ia digerogoti penyakit gula darah yang amat tinggi. Hanya hitungan waktu satu pekan di RS, masuk hari Rabu ...

Puisi Sipakamase

Tiba lagi satu buku antologi puisi yang masuk daftar tunggu. Antologi Puisi Indonesia Sipakamase. Ini berbicara tentang puisi bertema kearifan lokal Bugis-Makassar. Sipakamase  berarti memuliakan, Sipakatau berarti memanusiakan, dan Sipakalebbi yang atinya saling menghargai. Dikenal sebagai tiga falsafah hidup manusia suku Bugis-Makasaar, disingkat dengan falsafah “3S”. Sam Ratulangi, nama lengkapnya Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, adalah seorang politikus, jurnalis, dan guru dari Sulawesi Utara yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Republik Indonesia. Ia memopulerkan falsafah sitou timou tumou tou yang artinya bukan manusia siapa yang tidak memanusiakan manusia. Itu merupakan perluasan dari falsafah sipakamase  di atas. sipakamase (sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge) Falsafah sipakamase bisa dikristalkan menjadi sipakatau (memanusiakan), sipakalebbi (yaitu saling menghargai), dan sipakainge (saling mengingatkan). Dengan memedomani fals...

Anak Merah Putih (2)

Hari ini buku antologi cerpen dan puisi “Anak Merah Putih Tidak Takut Masa-lah” diluncurkan bersamaan dengan peringatan Hari Ibu tahun 2025. Buku besutan Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) ini diberi kata pengantar oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan. Saya ikut kedua-duanya, ya cerpen, ya puisi. Kesannya kok kayak kemaruk amat ya. Ah, nggak juga sih . Ikut satu atau dua, bebas. Sesuai ketentuan panitia, siapa pun yang berminat mengikutinya, boleh kirim naskah cerpen, puisi atau kedua-duanya, masing-masing cukup satu naskah. Jadi, kalau ikut dua-duanya, mengirim cerpen dan puisi. Ndilalah yo kok loro-loro atau kalihipun lolos kurasi sedoyo atau sedanten . Nah, lo , tak basa jawain . Sebenarnya, menghadiri peluncuran buku “Anak Merah Putih” ini menarik sekali, apalagi cuma di Jakarta.  Wong ke Banyuwangi atau Jember saja saya lakoni , apalagi cuma Jakarta. Akan tetapi, sayangnya saya pergi ke Jambi untuk Festival P...

Wisata Puisi dan Religi

Baru saja tiba di Gedung BPMP Provinsi Jambi, tempat menginap peserta Festival Puisi Etnik Nusantara yang disediakan oleh panitia Festival Puisi Etnik Nusantara--, hujan deras menyambut. Sehabis pawai dan wisata puisi di Candi Gumpung dan Candi Tinggi, perjalanan dilanjutkan wisata religi ke Masjid 1000 Tiang. Omon-omon, betulkah tiangnya 1000??? Jadinya, selama dua hari tiga malam (2D3N) di Jambi, dapat berwisata di tiga destinasi sekaligus. Pertama , Jembatan Gentala Arasy yang membentang di atas Sungai Batanghari, persis di seberang rumah dinas Gubernur Jambi. Secara kebetulan saat akan mulai pembukaan festival, Jumat (20/12) sore kemarin. Candi di sini minimalis, tidak seperti di Jawa Kedua , ke Candi Gumpung dan Candi Tinggi yang berada di satu komplek situs Muaro Jambi. Ketiga , ke Masjid 1000 Tiang yang sejuk dan menyenangkan. Dua rakaat qobliyah, disambung empat rakaat salat zuhur, dan ditutup dengsn dua rakaat bakdiyah di sini, jadi penambah catatan dari masjid ke masjid. Gent...

Festival Puisi Etnik

Saya pikir, perjalanan ke Banyuwangi untuk menghadiri Jambore Sastra Asia Tenggara (JSAT), pada 24--26 Oktober 2024 atau ke Jember menghadiri Temu Karya Serumpun (TKS) 25--26 Oktober 2025, adalah perjalanan terjauh yang pernah saya tempuh. Ternyata bukanlah dua itu, melainkan ada lagi yang terjauh. Perjalanan terjauh yaitu yang saya tempuh tadi malam. Berangkat dari Bandar Lampung pukul 19:40, menuju Jambi untuk menghadiri atau ikut Festival Puisi Etnik Nusantara yang akan dibuka Sabtu (20/12) malam di Rumah Dinas Gubernur, dan ditutup besok malam, Minggu (21/12). Malam pembukaan Festival Puisi Etnik Nusantara di Rumdin Gubernur Jambi. Bagaimana mungkin, perjalanan ke Jambi yang terjauh? Karena dikunci kemacetan yang amat membagongkan . Pasalnya, pemicunya tak ada selain perilaku kendaraan yang nyodok jalur berlawanan arah, istilahnya maling jalur di kanan yang semestinya berkendara tetap di jalur kiri. Itu penafsiran saya untuk perjalanan terjauh dalam arti yang melelah. Sebenarnya pe...

Pinjol, Hantu Siang Bolong

Akhirnya terjawab deh siapa penelepon siluman yang sejak tanggal 29 November 2025 terusan menghubungi saya, tapi tidak saya angkat. Di hari itu, ada dua kali panggilan dengan nomor berbeda. Tanggal 2 Desember dua panggilan, 4 Desember dua panggilan, 5 Desember satu kali, 6 Desember dua kali, 9 Desember dua kali, 11 Desember dua kali, kemudian 13 Desember dua kali, 16 Desember satu kali, dan hari ini tadi pada pukul 12:42 masuk lagi panggilan dan lagi-lagi tidak saya angkat. Tidak akan pernah saya angkat. Entah mengapa, panggilan tanggal 16 itu saya angkat. Karena saya takut barangkali saja dari kurir paket. Sebab di minggu-minggu ini akan datang paket buku dari seberang. Nah, begitu saya angkat, langsung suara di seberang terdengar, “Halo…, kami menawarkan pinjaman…. Ceklik, belum sempat hujan kata beraroma senja itu membasahi saya, langsung saya putuskan sambungan telepon. Jadi, telepon siluman yang tiap hari masuk, rupanya dari operator pinjol. Juancuk . Ya, sejak tanggal 29 Nov...

Grup WhatsApp dan Buku (3)

Tadi malam (Rabu, 17/12) pukul 19:20 muncul lagi grup WhatsApp ke-37, “Depok Membaca” untuk memudahkan penyampaian info terkait buku antologi puisi Depok Membaca. Even ini sebenarnya sudah lama bergulir. Saking lama, sampai lupa ada kelanjutan atau tidak. Atau begini,  “s erius nggak, sih. ” Flyer even beredar di grup WhatsApp bulan Agustus 2025, deadline pengiriman naskah 30 September. Masuk bulan November, even ini diperpanjang ternyata demi menangguk jumlah peserta sebanyak-banyaknya. Dan, hingga grup WhatsApp “Depok Membaca” dibuat, 57 nama  tercatat  sebagai peserta . Artinya, even ini akan ada kejelasannya. Sayak kirim puisi ke e-mail  depokmembaca@gmail.com  tanggal 12 September, kemarin nama saya sudah nangkring di daftar peserta. Tambah grup WhatsApp, tambah buku jadinya. Tambah lagi pertemanan penyair dan kolaborasi dalam satu buku antologi puisi bersama. “Puisi Bagi Korban Bencana Sumatera” digagas media online litera.co.id, tinemu.com, @info...

Grup WhatsApp dan Buku (2)

Ini grup WhatsApp ke-36. Seperti saya posting di blog ini (24/11) berjudul “Grup WhatsApp dan Buku” perihal grup WA ke-33. Lalu, ada lagi-ada lagi grup WA baru seiring akan lahirnya buku-buku antologi puisi yang saya ikuti yang ndilalah   puisi saya lolos kurasi. Alhamdulillah, berkah. Selalu ada yang baru. Selumbari (Senin) jelang pergantian waktu ke Selasa (dini hari) tetiba muncul satu grup WA baru memerangkap nama saya sebagai anggota. Nama grupnya “Puisi Peduli Sumatera” yang meng- invite secara bersinambung nama-nama penulis puisi yang puisinya dinyatakan lolos kuratorial dewan kurator. cover buku "Tanda Cinta Bagi Korban Bencana Sumatera" | foto: arahmerdeka.com | 36 grup WA ini, tidak semuanya grup penulis puisi. Ada grup keluarga, grup alumnus sekolah, alumnus Himpunan Mahasiswa Islam, alumnus kerabat kerja di Koran, grup RT, Takmir Masjid. Isinya macam-macam, tak melulu tentang puisi, diselundupkan juga berita-berita politik dan hal ihwal yang lucu-lucu. Kendati pe...

Wifi "Ng'kakijok"

Wifi ngedip-ngedip merah/ Kuota data juga lemah/ Hendak marah sangat percumah/ Akhirnya, aku pasrah/. -- Kok kedengaran puitis, ya. Ya, nggak, sih. Beberapa hari lalu terjadi, baik sendiri akhirnya tanpa mesti saya laporkan ke Indihome. Hari ini kumat maning . Ya, kembali saya diamkan aja . Uh, rupanya, gangguan ini terdeteksi oleh Indihome. Pesan WhatsApp mereka kirimkan, memberitahukan keadaan ini dan teknisi akan datang mengecek apa masalahnya. Lalu, tentu dong akan memperbaikinya. " Ng'kakijok " atau " ngijok " dalam bahasa Lampung artinya mengedip-ngedipkan mata. Pada biasanya dilakukan oleh meranai (bujang, lp ) terhadap muli (gadis, lp ) dengan tujuan menggoda agar si gadis tertarik untuk menjalin keakraban pada mereka. Itu cara mengaribkan diri dengan gadis yang dulu dipraktikkan bujang zaman baby boomers . Bujang milenial apalagi Gen Z tidak mengenal cara seperti itu. Kalaupun iseng ngijok , bisa-bisa kena damprat gadis yang menganggap tidak menyen...

Mbah Tarman, Tamat

Masih ingat mbah Tarman? Itu lho  Kakek usia 74 tahun  yang nipu mahar Rp3 miliar di Pacitan. Riwayat pelariannya tamat. Polres Pacitan membekuk dan menetapkan mbah Tarman sebagai tersangka usai memalsukan cek sebesar Rp3 miliar untuk mahar pernikahan dengan Shela Arika (24). Untuk menetapkan status tersangka pada seseorang, akan mudah bagi polisi bila ada laporan dari pihak korban yang dirugikan. Akan halnya kasus penipuan oleh mbah Tarman, pihak Shela tak mau melaporkan dengan alasan masih mencintai. Cinta, nih , ye ... !!! mbah Tarman dibawa dari sel tahanan (foto: Trinoto/beritajatim) Setelah dibekuk aparat polisi, satu demi satu ulah mbah Tarman mulai terkuak usai kasus mahar 3 M itu diusut. Selain pemalsuan cek 3 M sebagai mahar, mbah Tarman terjerat kasus menggadaikan mobil rental kepada tetangganya senilai Rp50 juta. Uang hasil menggadaikan mobil itu, di samping untuk biaya nikah, Rp30 juta dibagi-bagikan mbah Tarman sebagai saweran kepada tamu yang datang di aca...

Tour Lombok

Setelah “Tour Sumatra” pada 13 Juli silam, hari ini istri kembali ikut rombongan kawan-kawan pensiunan guru untuk “Tour Lombok, Bali, Bromo” dengan menggunakan bus Puspa Jaya. Tepat pukul 07:48 WIB bus meninggalkan halaman parkir pool bus di Jl. Soekarno–Hatta, By Pass. Lama perjalanan pergi dan pulang sekitar 10 hari (14–24 Desember) dengan rute Lampung–Lombok–Bali–Bromo–Malang–Jogja dan pulang. Perjalanan dari Lampung ke Lombok disertai jeda 3 kali untuk istirahat, mandi-mandi, ganti kostum, dan isoma. Iya kali selama di jalan sekian hari gak mandi dan ganti baju hingga tiba di Lombok. Karena itu, di samping koper besar yang nginap di bagasi, di loker barang di atas kepala, diselipkan tas tentengan berisi handuk, peralatan mandi serta baju ganti. Sementara di bawah kaki tas berisi air minum dan camilan. Bus standby untuk diberangkatkan Memang begitulah kalau saya dan istri pergi mudik ke Jawa, sarat dengan membawa koper besar dan tas tentengan berisi ransum pelipur 'daripada...

Jalan Jodoh itu “X”

Hari ini, bertempat di Gedung Aula Masjid Raya Baitussalam Billy Moon, Duren Sawit, Jakarta Timur, dihelat pesta pernikahan keponakan (anak abang sepupu), seyogianya saya pengin hadir memenuhi undangan digital yang diteruskan adik sepupu, namun karena ada aral melintang, kondisi hipertensi yang sedang diturunkan, saya mangkir. Abang saya dari Cirebon, katanya, hendak hadir berangkat pagi ini dari sana. Prosesi penyerahan manten cewek lanjut akad nikah, mulai pukul 07:15 sampai pada sesi foto pascaakad pukul 09:00. Lalu, pesta walimatul urusy mulai pukul 11:00 dan ditutup pukul 12:45. Acara di gedung memang ada batasan waktunya, sesuai kategori waktu yang jadi pilihan. Prosesi akad nikah Dora & Akmal Yang hendak saya garisbawahi di cerita ini, adalah jalan jodoh yang unik. Pasangan pengantin ini kenal lewat platform twitter (sekarang X) pada tahun 2009 bermula saling follow dan ngobrol santai. Kembali ke kesibukan masing-masing, vakum, sepi. Di samping karena dipisahkan ruang...

Kurma Halaman Masjid

Jumat pekan lalu saya salat jumatannya di Masjid Ad-Du’a jalur dua Jl. Sultan Agung, PKOR, Wayhalim. Tadi salat jumatannya di Masjid Al-Muslimin Jl. Way Sekampung, Pahoman. Saya tergelitik untuk salat jumatan di sini karena pengin tahu pohon kurma di halamannya berbuah. Saya tidak mencari tahu, misalnya bertanya, apakah itu buah pertama atau sudah berkali-kali berbuah dan dipanen. Cuma satu batang, tapi bisa juga berbuah. Tidak harus ada pohon lain yang menjadi kawan agar proses penyerbukan (serbuk sari pindah ke putik) bisa berkembang jadi buah. Bualan usang tentang pohon mandul bermula ketika pohon tak kunjung berbuah, padahal sudah meninggi dan membesar. Hal seperti ini lalu melahirkan anggapan pohon seperti itu berjenis (kelamin) jantan. Jadi bertakon - takon , memangnya pohon ada jenis kelaminnya seperti manusia? Dekat rumah, pohon alpukat tetangga juga hanya bisa meninggi dan membesar, tapi hingga hari ini tak kunjung berbuah. Jangankan berbuah, wong berbunga saja tidak. S...

Kado Bagi Iko

Ternyata tidaklah sampai sore benar, seperti yang saya kira-kirakan di tulisan di blog ini kemarin. Di Zuhur ini tadi buku “A Tribute to Pipiet Senja” udah mendarat di beranda rumah minimalis kami. Karena itu, postingan blog hari ini (11-12-13), maknanya tanggal 11 bulan 12 pukul 13 (01 PM). Buku “A Tribute to Pipiet Senja” berisi testimoni, obituarium, kenangan, penghormatan para penulis bagi almarhum Pipiet Senja (terlahir bernama Etty Hadiwati) dalam bentuk puisi dan esai. Baik yang pernah beriteraksi langsung dalam kegiatan sastra maupun sekadar kenal lewat karya sastranya saja. Buku "A Tribute to Pipiet Senja" berhiaskan bunga Ratusan buku karya sastra lahir dari curahan batin almarhum lewat tulisan di dalam keterbatasannya sebagai penyintas talassemia sejak bocah. Kendati setiap bulan mesti rutin menjalani transfusi darah, sama sekali tak mengurangi kemampuan, gairah, dan semangat beliau terus berkarya dan berkarya. Setelah saya buka paket sepulang Jemaah zuhur...

Tulisan Random

Agak santai, telah saya kirim puisi untuk dua even menulis puisi bertema bencana, menyikapi kejadian banjir bandang yang melanda sebagian daerah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Satu even lainnya menulis puisi bertema lansia, untuk penyair uisa 60+. Saya saling mengingatkan dengan kawan penyair di Banjarmasin agar jangan sampai lupa mengirimkan karya puisi apabila sudah siap. Kami jadi satu buku di “Semesta Ingatan – Tragedi dan Imaji Kebebasan” atau mungkin juga di buku antologi puisi lainnya. Belum saya perhatikan betul, sudah berapa buku bersama dengannya. Dengan Wijatmoko BS sudah beberapa buku bareng sebagai kontributor. Mulai sejak di buku “Si Binatang Jalang” hingga yang masih hangat (yang terbaru) “A Tribute to Pipiet Senja.” Untuk buku antologi puisi “A Tribute to Pipiet Senja” sedang dalam perjalanan, dari Jakarta dikirim via J&T kemarin, mungkin besok siang akan sampai di teras rumah. Buku “Sipakamase” dari Makassar belum ada konfirmasi sudah mulai pengirim...

Negeri Ora Genah

Masih menyoal buku “Kitab Omon Omon” yang Sabtu (6/12) siang tiba di teras rumah, pada mulanya saya terkejut, tapi kemudian perasaan bungah bermekaran  di hati. Puisi saya yang termuat di halaman terakhir buku sebab nama saya ada di urutan terakhir secara alfabetis, dibacakan Bapak Tri Agus Susanto, Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD” Yogyakarta dan diunggah di akun Instagram miliknya (@tasspijar). Bapak Tri ini yang memberi kata pengantar pada buku memuat 94 puisi humor politik dari 94 penulis (penyair murni dan penyair nyambi thok ) dari seluruh Indonesia. Kenapa saya tulis murni dan nyambi thok ? Karena latar belakang yang sangat beragam. Ada akademisi (guru dan dosen), ada birokrat dan alih profesi jadi legislator, ada yang (unik) mengenalkan diri di bionarasi sebagai tukang sol sepatu yang hobi baca dan menulis puisi. Ada yang menyatakan diri sebagai ‘perempuan biasa’. Hasil tangkap layar Instagram Tri Agus Susanto (@tasspi...

MBG Lansia

Lhoh, ternyata bukan hanya anak usia lima tahun ke atas (usia sekolah TK hingga SMA/SMK/MA) saja yang dapat bagian MBG (makanan bergizi gratis), melainkan anak balita, bumil (ibu hamil), busui (ibu menyusui), bahkan lansia pun dapat. Tercuat tadi ketika ke posbindu (pos pembinaan terpadu). Saya agak kesiangan ke posbindu sehingga keburu bubar. Untung bidan masih keliling dari rumah ke rumah mendatangi lansia yang terbatas fisiknya untuk pergi ke posbindu. Saya pun menyusul ke rumah di mana tempat bidan itu berkunjung dan memeriksakan tekanan darah di rumah warga itu. Seperti saya tulis di  blog  ini 6 Desember (judul: TKS, JSAT, dan Tensi), barangkali ada perbedaan merek alat ukur tensi darah sehingga hasilnya berbeda-beda. Benar belaka, diukur di klinik faskes, tensi saya 134/79 dan ketika saya ukur dengan alat sendiri di rumah, hasilnya 138/81. Tadi, diukur bidan posbindu, hasilnya tensi saya 142/76. Jadi, kesimpulannya, tensi darah akan naik turun mengikuti kondisi tu...