Langsung ke konten utama

Petis dan Kopi

Selain membeli kopi Gayo, ternyata istri juga membeli bumbu rujak Aceh sebagai oleh-oleh tour sumatra, makanya sehabis mereset ATM di bank karena pernah keseleo jari memencet kode PIN yang salah, kami mampir dulu Pasar Smep Bambu Kuning membeli buah-buahan untuk bahan meracik petis.

Di jalan-jalan, mudah dijumpai pedagang jambu. Ada jambu air, ada jambu kristal, dijajakan oleh pedagang di tempat strategis. Dahi trotoar adalah pilihan yang paling disuka mereka. Pengendara motor atau mobil yang tertarik tinggal pencet lampu sign kiri, menepi lalu tanya harga, tawar menawar. Apabila cocok, beli.


Sebelum ke bank kami berdua sarapan dulu di Jl. Sultan Agung. Soto Boyolali pagi-pagi enak juga. Tapi, sebagaimana kegaliban, saya mual sehabis makan. Pelataran dan dalam bank ada meja yang menyediakan kopi, cramer, gula, dan teh berikut dispenser air panas. Tombo ngantuk nasabah.


Jadi pengin ngopi buat menghilangkan mual, tapi kata istri nanti saja (maksudnya dia setelah urusan mereset ATM dan print out buku tabungan selesai). Eh, begitu selesai kok langsung keluar dan pulang. Untung sisa kopi pagi di rumah masih, seruput itu saja. Meskipun dingin, kopi gula aren masih nikmat.

Jadinya, sambil makan petis hasil rajangan sendiri, saya menyeruput kopi gula aren dingin itu. Bumbu petis dan kopi Gayo dari Aceh, rupanya kelop juga dipadupadankan. Cocok pula deh buat dikontenkan menjadi cerita (ringan dan berkesan) di sini. Walau, setidaknya hanya terasa berkesan bagi saya doang.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...