Langsung ke konten utama

Hidup Penuh Makna

Ilustrasi foto dari Gramedia digital

Pagi tadi untuk kali kedua air PDAM hanya mengalir setengah jam. Tandon air (tower) 1 meter kubik belum lagi sempat penuh, eh, PAM sudah mati. Beruntung ada tandon lain yang bisa dipakai menyelesaikan bilasan cucian. Sumur galian di samping rumah juga bagus.

Hujan gerimis yang mulai turun pukul delapan, tidak mengganggu lalu lintas orang yang berangkat ke kantor dan anak-anak sekolah. Hujan tidak bertambah deras malah perlahan mengecil dan semburat sinar matahari menerpa bumi, panas bertahan hingga sore hari.

Saya lihat andung, tetangga depan rumah menadahkan dua ember di bawah cucuran atap, maksudnya hendak menampung air hujan karena air PDAM hanya ‘hidup’ setengah jam, mungkin persediaan air di rumahnya mulai menipis. Cucunya mandi habis setengah bak.

Anak bujang memang begitu. Sama halnya anak bujang ragil kami yang menunda-nunda mandi saat air PDAM mengalir. Ketika air PDAM sudah mati baru ia mandi, ia hidupkan keran air dari tandon untuk mengisi bak mandi agar ia bisa cibam-cibum mandi sepuasnya.

Masjid kami baru saja selesai membuat sumur bor, air dibiarkan tumpah 36 jam lebih dari Selasa. Melihat andung menadah air hujan itu, saya lalu berinisiatif untuk mengambilkannya air dari buangan masjid itu. Daripada dibuang-buang mubazir, mending diangkut.

Saya angkut air pakai jeriken 20 liter dengan motor, 4 rit. Kasihan dia tinggal sendiri setelah datuk meninggal 12/5/2023 lalu, kadang ditemani cucu-cucunya. Andung menangis terharu karena saya mengangkutkan air buatnya. “Jangan menangis, Andung,” kata saya.

Ada banyak cara agar hidup kita “penuh makna” dan sedikit berarti. Yang paling sederhana adalah berbuat baik kepada tetangga. Kalau tidak bisa berbuat baik, paling tidak jangan sampai menyakitinya. Caranya? Menjaga perilaku jangan sampai melahirkan friksi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

“Jangan Sakit”

Lagi, pasien pengguna JKN KIS (BPJS) terlantar 8 jam di IGD gak dapat ruang (perawatan) akhirnya meninggal dunia, viral di media sosial setelah unggahan curhatan di Threads dicibir sejumlah nakes rumah sakit yang gak mau ia spill karena pengguna BPJS. Memangnya kalau statusnya sebagai pasien pengguna BPJS kenapa? Pasien itu bernama Yurizal Tri Chaerawan, menulis di Threads, “8 jam blm dpt ruangan 🥲 Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs 🥺 “ Curhatan Yurizal ini mendapat 568 like, 2,2K komentar, 42 repost, dan 44 kali dibagikan (kemungkinan bertambah), tapi bukan mendapat empati malah bully -an dari sejumlah nakes. Begitulah ulah manusia pemegang hak pakai media sosial, akan menggunakannya dengan sebebas-bebas sekehendak hati dan semurah jarinya mengetikkan kata-kata. Baru kemudian setelah apa yang ditulisnya menuai hujatan, dengan entengnya minta maaf pada khalayak. Tak urung jadi viral, dapat bully -an balasan. Jadi yang benar itu, jangan sakit. Kenapa? Sakit itu maha...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...