Langsung ke konten utama

The Power of Emak-Emak

Dari balik langkanya minyak goreng tercurah berbagai kejadian luar biasa. Satu, emak-emak yang berjibaku menunggu datangnya mobil boks pengantar barang ke minimarket merah dan biru.

Kali aja di antara boks kontainer aneka produk pabrikan yang dikirim distributor, ada nyelip kardus beisi minyak goreng. Kalau iya ada, semringahlah emak-emak yang sejak tadi sabar menunggu.

Begitu mobil boks datang, seketika emak-emak sigap berdiri mencipta barisan antre mengular dari depan pintu hingga halaman minimarket. Sesuai urutan kedatangan dan ndeprok menunggu.

Entah pukul berapa mobil boks akan datang, pokoknya sejak pukul 14 siang emak-emak mulai berdatangan dan ndeprok di selasar minimarket merah atau biru. Berharap ada minyak datang.

Dari obrolan saya dengan seorang pria di selasar minimarket, jadwal kedatangan minyak goreng adalah hari Senin, Rabu, dan Jumat. Ia tahu persis karena sudah biasa berburu minyak goreng.

Tapi, pernah saya lihat antrean emak-emak di depan minimarket pada hari Sabtu. Berarti minyak goreng datang Senin, Rabu, dan Jumat seperti kata pria itu hanya teori yang tak mutlak benar.

Beberapa kali pagi saya singgah ke Superindo Kemiling menanyakan minyak goreng nyatanya tak pernah ada. Oh, ternyata datangnya siang dan langsung ludes dihajar konsumen yang panik.

Kata jukir di situ, kemarin sampai empat kali pasokan minyak datang. Ya tak satu kantong kemasan pun terpajang di rak. Berarti langsung terjual semua, berapa dus, berapa ratus liter pun.

Dua, emak-emak yang merasa sudah lama ndeprok di selasar minimarket, merasa paling berhak mengisi barisan pengantre. Tak boleh ada yang nyerobot ingin mendahului padahal baru datang.

Ketika ada saja emak-emak yang padahal baru datang eh ingin nyelip aja. Terang saja emak-emak yang sejak pukul 2 siang menunggu mencurahkan sewotnya. Yang disewotin ngelawan.

Justru lebih galak lagi. ”Sudahlah, galakan dia dari kita,” celetukku. Setelah saya celetukin begitu mungkin rasa malunya tercurah. Emak-emak itu jadi ragu-ragu hendak maju menuju pintu.

Akhirnya dia ambil juga antrean di belakang kami. Ngomong-ngomong, saya nih bapak-bapak sendiri nyelip di antara emak-emak. Gapapa, batinku. Yang penting senja ini bawa minyak 2 liter.

Sabar gak sabar kudu sabar. Bayangin sedari pukul 2 siang sudah ndeprok di selasar minimarket, eh begitu mobil boks datang ternyata tak bawa minyak. Atau bawa sedikit, banyak yang kecewa.

Apa ya rasanya kecewa nggak kebagian minyak goreng? Saya sih banyak mujurnya, gak sengaja lihat mobil boks sedang bongkar muatan di depan minimarket merah. Samperin, eh dapat minyak.

Suatu saya pagi mampir Superindo, niat cuma mau beli shampo. Lihat pasutri masing-masing bawa minyak 2 liter di belakangku saat mau bayar ke kasir. Untung saya noleh sehingga jadi tahu.

Saya tanya, itu minyak murah ya? Iya, jawab mereka, itu banyak di rak belakang, lurus aja dari sini. Saya langsung putar badan ke belakang mengambil satu kemasan minyak goreng isi 2 liter.

Tiga, urusan minyak goreng emak-emak memang berjibaku. Kok ya berani-beraninya sudah antre dan dapat eh balik lagi ngantre. Untung kasir mengenali wajah emak-emak itu. Ditolak dong.

”Tadi, kan, Ibu sudah,” sanggah kasir. Kontan rombongan emak-emak itu –ada lima orang– ngelipir mencar ke dalam minimarket. Ada yang mengambil gula pasir dan ada barang lainnya.

Sungguh spekulatif benar mereka. Pengin antre bolak-balik dengan harapan dapat minyak goreng bolak balik juga. Ah, kayak fotokopi aja pake bolak-balik. Dasar emak-emak, banyak ulahnya.

Dasar emak-emak, the power-nya ngaudubilah luar biasa. Ada baiknya juga, memang. Kalau the power tidak luar biasa cammana mau dapat minyak goreng yang tak pasti kapan adanya.

Saya sendiri, sejak pembelian yang tak disengaja di suatu pagi yang bejo itu, belum pernah lagi dapat minyak goreng di Superindo Kemiling. Tiap mampir menanyakan, kosong kata jukir di situ.

Memang kalau mau bejo ya bejo aja. Di Chamart suatu pagi saat narik duit di ATM, eh terpantau sekuriti lagi bagi-bagi kupon. Ada minyak goreng rupanya. Saya tak mau ketinggalan dong.

Karena baru ambil duit di ATM, tentu duitnya mateng semua. ”Harus duit pas ya, Pak. Belum ada susuk,” kata sang sekuriti. Tak akali, mecah duit dulu. Saya beli kue di toko kue Iman Jaya.

Bejo tak lari ke mana. Nemu aja minimarket yang lagi kedatangan pasokan. Dapat aja minyak goreng dan stok di rumah bertambah. Mendag bilang ada ibu-ibu yang nimbun di dapur. Bodo amat.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Akar

Kembali ke Akar Hotel & Resort di Jl. Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara. Stay cation keluarga besar pasca-Lebaran senyampang masih ada sisa sedikit waktu liburan disambung wfh yang diberlakukan kantor. Anak ragil belum balik Jakarta. Siang tadi hendak makan di Buk Isah, apadaya full booked parah. Parkir mobil sampe luber ke jalan di depannya. Yang hendak makan rela berdiri matung menunggu untuk mengokupasi meja yang dipakai mereka yang makan. Siapa cepat, dia yang dapat. Ornamen ini sudah ganti, dahulu berupa tampah dari anyaman bambu. Tak ada peluang untuk memperoleh meja, saya dan istri undur diri, bergeser ke Alun Alun Kepayang, ada tiga mobil pengunjung parkir. Kami masuk dan tanya, "Buka?" Dijawab iya penjaga parkir. Nuju resepsionis memesan menu makan 'paketan' buat empat orang. Padahal, yang hendak makan cuma tiga orang. Saya, istri, dan anak ragil. Duduk tenang menunggu menu yang kami pesan disiapkan di dapur. Sound system 'live music' berb...

Hikmah Safari

Jika pada 'safari jumat' saya telah menemukan masjid Al-Hikmah di Jalan Pagaralam (Jumat, 16/1), kemarin sewaktu ‘safari ramadan’ saya kembali menemukan masjid Al-Hikmah di perumahan Merpati Asri. Dengan begitu sudah ada dua masjid Al-Hikmah yang saya cium sajadahnya. Nah, itulah hikmah safari. Hari ini, dalam melakukan perjalanan 'safari ramadan', saya dipertemukan dengan masjid Darul Hikmah. Nah, lagi-lagi ada kata kembar. Setelah bersua kata kembar ‘khoir’ pada masjid Thoriqul Khoir dan Nurul Khoir, hari ini kembali bersua kata kembar ‘hikmah’ pada masjid Al-Hikmah dan masjid Darul Hikmah. "Hikmah safari." Benar, begitulah hikmah daripada ‘safari ramadan’ yang saya jalani, yaitu bersua kata kembar pada nama-nama masjid yang saya jadikan target ‘safari ramadan’ salat Zuhur. Begitulah kegaliban nama-nama ‘Rumah Allah’ di muka bumi ini, tak lari dari nama-nama yang memberi spirit beribadah pada hamba-Nya di bulan Ramadan. Masjid Darul Hikmah Jl. Karet, Sumbe...

QRCBN, tak Mengapa

Setelah melihat ulang buku antologi yang sudah saya ikuti untuk mengumpulkan catatannya, ternyata bukan hanya buku Terang Bulan Tepi Lautan saja yang memakai QRCBN sebagai identitas, melainkan ada buku lainnya. Buku lain itu, ialah  Ki . Hadjar Dewantara , Bahasa Ibu Bahasa Darahku , Anak Merah Putih Tidak Takut Masalah , dan Depok Membaca . Sejauh ini, lima buku itu yang memakai QRCBN, bukan ISBN. Mungkin nanti akan menyusul buku lainnya. QRCBN, tak mengapa. Mendaftarkan buku untuk mendapat ISBN di Perpustakaan Nasional, suka terkendala terbatasnya kuota. Bahkan, kadangkala langka sehingga jalan (lain ke Roma) yang mesti ditempuh oleh penerbit adalah QRCBN tersebut. Tidak berhasil mendapatkan ISBN juga tersebab ketatnya persyaratan dan kesalahan kelengkapan berkas oleh penerbit. Untuk kelengkapan berkas itu yang membuat penerbit perlu meminta surat pernyataan keaslian naskah dari pemilik buku. Itu misal.  Di era menciptakan karya dengan segala kemudahan atas bantuan AI...